Paksakan Mudik Bisa Timbulkan Lonjakan Kasus Baru

Paksakan Mudik Bisa Timbulkan Lonjakan Kasus Baru
pos pengawasan larangan mudik. ©2020 Merdeka.com/Arie Basuki
PERISTIWA | 15 April 2021 20:46 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pelarangan mudik dari sudut pandang kesehatan saat pandemi Covid-19 dinilai sebagai langkah yang tepat. Pasalnya, memaksakan mudik dalam kondisi seperti saat ini bisa menimbulkan lonjakan kasus positif Covid-19.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Hasbullah Thabrany, menjelaskan, Covid-19 penularannya terjadi antar manusia dalam jarak dekat, tidak melalui perantara seperti flu burung. Sehingga solusi terbaik adalah membuat jarak atau kontak antar manusia sedikit mungkin. Nah, mudik berpotensi menciptakan kerumunan, baik saat perjalanan maupun di kampung halaman.

Apalagi, lanjut Thabrany, jika berkumpul itu sifat manusia kerap lupa menjaga jarak atau menerapkan protokol kesehatan. "Ini kalau tidak dikendalikan akan menimbulkan kasus baru," ujar Thabrany, Kamis (15/4).

Menurutnya, saat ini dengan teknologi, silaturahmi bisa dilakukan dengan telepon atau video call kapan saja. Soal anggapan mudik bisa menggerakkan ekonomi daerah yang saat pandemi saat ini, Thabrany mengatakan, banyak hal lain yang bisa dilakukan selain mudik. Misalkan, ongkos mudik yang nilainya tidak sedikit bisa dialihkan untuk investasi di darah. Menurutnya, ongkos mudik sekeluarga itu tidak murah, bahkan mungkin bisa untuk membeli sebidang tanah di daerah.

Lagi pula saat ini amat mudah mengirim uang untuk keluarga atau sanak saudara di daerah melalui layanan perbankan. Uangnya tetap bisa dibelanjakan di kampung halaman dan roda perekonomian di daerah tetap berjalan tanpa harus mudik. Atau bisa juga ongkos mudik dialihkan untuk membantu yayasan yatim piatu atau lembaga pendidikan.

"Jadi ongkos mudik bisa digunakan hal yang lebih produktif," kata Thabrany.

Sebaliknya, jika muncul lonjakan kasus baru karena memaksakan mudik justru akan menyebabkan pemerintah mau tidak mau akan melakukan pengetatan lagi yang menyebabkan juga orang makin tidak bergerak ekonomi juga tak bergerak. Sehingga jangka panjangnya, kalau tidak dilarang mudik justru dampak pertumbuhan ekonomi akan lebih besar.

"Karena lonjakan kasus baru akan menimbulkan reaksi ketakutan baru. Ekonomi melambat juga," tegasnya. (mdk/eko)

Baca juga:
Cek Jalur Selatan, Kakorlantas Sebut Semua Polres Sudah Siap Sekat Larangan Mudik
Larangan Mudik, Korlantas Pastikan Polisi Siap 24 Jam Jaga Pos Penyekatan
Satgas Minta Warga Mudik Sebelum 6 Mei 2021 Waspada Covid-19
Larangan Mudik, Pemkab Tangerang Perketat Penjagaan Jalur Arteri Hingga Tikus
Setelah Rumah Angker, ini Cara Pemkab Sragen Antisipasi Kedatangan Pemudik Nekat

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami