Papua Barat Butuh Lebih Banyak Guru saat New Normal Diterapkan

Papua Barat Butuh Lebih Banyak Guru saat New Normal Diterapkan
PERISTIWA | 6 Juni 2020 01:33 Reporter : Henny Rachma Sari

Merdeka.com - Kepala Dinas Pendidikan Papua Barat Barnabas Dowansiba mengungkapkan jika tatanan hidup baru atau New Normal diterapkan di wilayahnya, maka dibutuhkan tenaga pengajar yang lebih banyak. Meski demikian, hingga saat ini ia mengaku belum menerima surat edaran terkait penerapan New Normal.

"Kita belum menerima surat edaran terkait penerapan new normal dari Kementerian Pendidikan, tapi secara pribadi saya sudah memiliki konsep tentang bagaimana aktivitas pendidikan kembali dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan," jelas Barnabas di Manokwari, Jumat (5/6).

Ia mengatakan saat kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali dibuka, maka akan diterapkan sistem shift. Hal itu untuk mengatur jarak duduk siswa di dalam kelas.

"Kita shift, misalnya dalam satu hari cukup satu kelas yang masuk. Besoknya yang lain lagi masuk sehingga ruang kelas tidak penuh dan pengaturan jarak duduk yang aman bisa diterapkan," kata Dowansiba.

Cara tersebut, katanya, mengisyaratkan jumlah tenaga pengajar yang lebih banyak. Di sisi lain jumlah guru di provinsi masih terbatas.

"Kalau kita laksanakan ini maka jam kerja guru akan lebih banyak. Pertanyaannya, kira-kira mereka mampu atau tidak. Ini harus menjadi pertimbangan karena kita juga harus mempertimbangkan kesehatan guru," katanya lagi.

Sementara itu, untuk sistem belajar online saat siswa di rumah, ia mengakui masih menemui kendala. Setidaknya dari alat komunikasi bagi siswa.

"Untuk belajar online berarti siswa minimal harus punya handphone dan bisa membeli paket data. Sedangkan masih banyak warga kita yang kurang mampu, tidak semua punya handphone dan belum tentu bisa membeli paket data untuk anaknya," katanya lagi.

Ia mengutarakan bahwa Papua Barat masih dilematis untuk membuka tahun ajaran baru yang akan dimulai pada 13 Juli 2020.

"Situasi saat ini memang sulit, terutama daerah-daerah yang masuk dalam zona merah COVID-19 seperti Manokwari, Kota Sorong, Raja Ampat, Sorong Selatan, Teluk Wondama, Fakfak, Manokwari Selatan dan Kaimana," sebut Dowansiba seraya menyebutkan bahwa Papua Barat masih menunggu petunjuk dari pusat. Seperti diberitakan Antara. (mdk/rhm)

Baca juga:
Gugus Tugas Covid-19 Kaji Empat Daerah di Papua Terapkan New Normal
Pasien Positif Covid-19 Sembuh di Papua Mencapai 241 Orang
23 Kabupaten dan Kota Belum Salurkan BLT Dana Desa, Terbanyak di Papua
Kronologi Perubahan Gugatan Permintaan Maaf Atas Pemblokiran Internet di Papua
PKS Nilai Vonis Jokowi Bersalah Blokir Internet Papua Pelajaran untuk Demokrasi
Staf Khusus Presiden Sebut Pemerintah Hormati Putusan PTUN Soal Blokir Internet Papua

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Putar Otak Bisnis Ritel Hadapi Corona

5