Pariwisata Domestik di Bali Dibuka 31 Juli

Pariwisata Domestik di Bali Dibuka 31 Juli
PERISTIWA | 28 Juli 2020 21:03 Reporter : Moh. Kadafi

Merdeka.com - Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardha Sukawati atau Cok Ace menerangkan, bahwa pariwisata domestik di Pulau Dewata akan dibuka pada tanggal 31 Juli 2020 mendatang. Namun, untuk pembukaan para wisatawan hanya ditawarkan pariwisata alam, budaya serta seni pertunjukan. Tetapi, untuk hiburan malam seperti kelab malam dan karaoke belum diperkenankan dibuka.

"Belum, itu sampai sekarang belum diizinkan (kelab malam dan karaoke)," kata Cok Ace, di Denpasar, Bali, Selasa (28/7).

Selain itu, Cok Ace juga mengatakan untuk seni pertunjukan seperti tari kecak pihaknya sedang bekerjasama dengan Institusi Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Kerja sama itu, untuk mengkaji bagaimana tarian yang biasanya melibatkan banyak orang ini bisa ditampilkan sesuai protokol kesehatan.

Kemudian, selain itu, Bali juga siap dengan pariwisata seperti menyelenggarakan pertemuan-pertemuan seperti meeting.

"Meeting boleh tak ada masalah. Bahkan, Pemerintah Pusat juga menganjurkan. (Tetapi) sifatnya masih dalam batas-batas protokol kesehatan. Saya kira Bali masih punya tempat yang cukup bervariasi baik indor ataupun dalam gedung-gedung terbuka juga banyak," ujar Cok Ace.

Ia juga menyampaikan, untuk pembukaan pariwisata domestik memang sudah direncanakan dibuka pada tanggal 31 Juli 2020 mendatang. Hal itu, menurutnya karena kondisi pandemi di Bali masih terkendali karena tingkat kesembuhan jauh lebih banyak daripada angka positif Covid-19.

"Dan syukur, sampai saat ini kondisi masih terkendali dengan baik. Bahkan, angka kesembuhan meningkat beberapa hari terakhir ini melebihi angka yang positif. Tentu waktu yang ditetapkan itu kita akan lakukan sebaik-baiknya. Tanggal 30, mudah-mudahan tidak ada halangan Bapak Menteri akan hadir," ujarnya.

Ia juga menyatakan, untuk saat ini hanya pariwisata domestik yang dibuka dulu. Karena, menurutnya tidak mungkin untuk wisatawan mancanegara untuk dibuka. Kendati, sudah diagendakan pada tanggal 11 September 2020 mendatang.

Selain itu, Peraturan Menteri Hukum dan HAM nomor 11 tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Negara Republik Indonesia belum dicabut.

"Karena, kita tidak mungkin ke wisatawan mancanegara yang kita rancang di tanggal 11 September. Karena, masih ada beberapa hal yang masih kita perlu koordinasikan antara lain, masalah izin wisatawan asing untuk masuk gerbang NKRI ke Indonesia," ujarnya.

"Permen (nomor) 11, tahun 2020 juga belum dicabut. Iya sambil juga melihat perkembangan luar negeri. Apakah kita sudah siap menerima wisatawan luar negeri yang berapa daerah juga masih menunjukkan peningkatan pandemik -nya," ujar Cok Ace.

1 dari 1 halaman

Persyaratan Liburan di Bali

Ia menerangkan, Gubernur Bali mengeluarkan SE tentang persyaratan wisatawan nusantara yang berkunjung ke Bali. Kemudian, untuk dasar pertimbangannya ada tiga poin.

1. Kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya memiliki nilai luhur yang harus terus
dijaga, agar tercipta keseimbangan alam, manusia, dan budaya Bali. Sehingga Bali tetap
memiliki daya tarik yang kuat, dicintai, dihormati, dan disegani oleh masyarakat dunia.

2. Sejalan dengan nilai-nilai yang luhur itu, maka kepariwisataan Bali harus mengedepankan aspek kesehatan dan kualitas yang lebih memberi pelindungan, kenyamanan, dan
keamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali dalam masa pandemi Covid-19.

3. Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nomor 9 Tahun 2020 tentang
perubahan atas Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2020 tentang kriteria dan persyaratan perjalanan orang dalam masa adaptasi kebiasaan baru, menuju masyarakat produktif dan
aman Covid-19, tertanggal 26 Juni 2020.

Sementara, untuk ketentuan mengenai persyaratan bagi wisatawan nusantara yang berkunjung ke Bali ada 8 poin.

1. Bebas Covid-19 dengan menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) minimum hasil non raktif rapid test dari instansi yang berwenang.

2. Masa berlaku surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR atau hasil non-reaktif rapid test untuk berkunjung ke Bali adalah paling lama 14 hari sejak surat
keterangan tersebut dikeluarkan.

3. Wisatawan yang telah menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR
atau hasil non-reaktif rapid test yang masih berlaku, tidak lagi diwajibkan melakukan uji
swab atau rapid test, kecuali mengalami gejala klinis Covid-19.

4. Wisatawan yang tidak dapat menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis
PCR atau hasil non reaktif rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR atau rapid test di Bali.

5. Wisatawan yang hasilnya reaktif rapid test, berkewajiban mengikuti uji swab berbasis PCR
di Bali. Selama menunggu hasil uji swab, wisatawan menjalani proses karantina di tempat
yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Bali.

6. Wisatawan yang positif COVID-19 berdasarkan hasil uji swab akan dirawat di fasilitas
kesehatan yang ada di Bali.

7. Biaya uji swab, rapid test, karantina atau fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab
wisatawan.

8. Sebelum keberangkatan ke Bali, setiap wisatawan berkewajiban mengisi aplikasi LOVEBALI.

"Petunjuk aplikasi LOVEBALI dapat diakses pada laman
https://lovebali.baliprov.go.id. Pelaku usaha akomodasi pariwisata di Bali wajib memastikan setiap wisatawan sudah mengisi aplikasi LOVEBALI," ujar Pramana.

(mdk/eko)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami