Pasien Covid-19 di Palembang Terus Bertambah, Belum Ada Wacana PSBB Diperpanjang

Pasien Covid-19 di Palembang Terus Bertambah, Belum Ada Wacana PSBB Diperpanjang
PERISTIWA | 3 Juli 2020 20:19 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Meski pasien Covid-19 di Palembang terus bertambah dan status masih zona merah, pemerintah setempat belum mewacanakan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap ketiga. PSBB sebelumnya disarankan Gugus Tugas Covid-19 Sumsel untuk menekan penularan.

Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Palembang Yudhi Setiawan mengungkapkan, sejauh ini pihaknya belum ada wacana atau pembahasan penerapan PSBB lagi seperti direkomendasikan. Namun tidak menutup kemungkinan PSBB diusulkan kepada Pemerintah Kota Palembang jika pasien positif terjadi lonjakan signifikan.

"Sementara ini belum ada wacana ke arah pemberlakuan PSBB kembali, mungkin saja nanti ada perkembangan baru," ungkap Yudhi, Jumat (3/7).

Dikatakannya, penerapan PSBB tidak mudah dilakukan karena banyak pertimbangan. Terlebih keputusan diambil secara bersama oleh gugus tugas dan Pemkot Palembang.

"Yang penting sekarang adalah masyarakat harus bisa tetap menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19," tegasnya.

Yudhi menambahkan, jumlah kasus positif di Palembang saat ini berjumlah 1.440 orang setelah ada tambahan 27 kasus hari ini. Sebaran kasus positif di kota itu separuh lebih dari keseluruhan di Sumsel yang berjumlah 2.156 kasus.

"Kasus terbanyak tersebar di Kecamatan Kemuning, Ilir Barat I, Ilir Timur II, dan Sukarami," kara dia.

Sebelumnya, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Sumsel Iche Andriyani Liberty mengungkapkan, penyebaran virus corona di Palembang khususnya, lantaran tingginya aktivitas warga setelah PSBB tak lagi diterapkan. Bahkan, lonjakan pasien positif terjadi seusai PSBB, terlebih masyarakat salah menafsirkan istilah menuju new normal.

"Melihat kondisi lonjakan di Palembang, kami usulkan atau sarankan agar PSBB kembali diterapkan karena hanya itu menekan penularan, hanya itu solusinya," ungkap Iche, Selasa (30/6).

Dia menjelaskan, ada pembuktian pengaruh positif saat PSBB berlangsung selama 28 hari di Palembang sebelumnya. Ketika itu angka penularan (RT) menurun menjadi 0,99, namun seusai PSBB kembali meningkat di atas 1, persisnya 1,02.

"Kalau dari sisi epidemologi lebih banyak kasus terjadi setelah PSBB, masyarakat sudah lepas kontrol sehingga terjadi peningkatan. Masyarakat sudah mulai kendor, karena memang ini akan berimplikasi ke RT," kata dia.

Iche juga menyayangkan penetapan status zona merah menjadi orange dari Gugus Tugas Covid-19 Palembang. Padahal, penyebaran corona di kota itu masih tinggi dan masih berstatus siaga.

"Sampai sekarang status Palembang masih zona merah atau penularan tinggi, tidak pernah berubah menjadi zona orange. Kami bingung apa indikator mereka menurunkan sendiri statusnya," ujarnya.

Dia menambahkan, pemerintah setempat juga tidak asal mengambil kebijakan menerapkan kegiatan belajar tatap muka atau sekolah kembali dibuka. Perlu pertimbangan matang agar tidak justru menambah klaster baru seperti yang terjadi di banyak negara.

"Pembukaan sektor pendidikan hati-hati, harus tahapan prakondisi dulu dan timing yang cepat. Terutama SD dan PAUD harus sangat hati-hati, pesantren juga karena mereka tinggal bersama, harus dipersiapkan dulu protokolnya," terangnya. (mdk/gil)

Baca juga:
Hasil Tes Usap 45 Tenaga Medis di Madani Pekanbaru Negatif Covid-19
Dinkes Jateng Ungkap ASN Pemprov Terpapar Covid-19 dari Klaster Panti Jompo Rembang
Ratusan Tenaga Kesehatan di Solo Bakal Terima Insentif
Tak Semua Pasien Dirawat, Kapasitas RS Dipakai Baru 55,5 Persen
Penularan Corona di Sumsel Naik Terus, Warga Diminta Patuh Protokol Kesehatan
Surabaya Jadi Zona Hitam, Pertamina EP Lakukan MWT Virtual di Poleng Field

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami