PBNU dan PP Muhammadiyah ajak rakyat tidak saling bermusuhan di tahun politik

PERISTIWA | 31 Oktober 2018 21:40 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyambangi PP Muhammadiyah. Adapun dua ketua umum serta para pengurus saling bertatap muka, dan melakukan pertemuan secara tertutup.

Pertemuan keduanya di Gedung PP Muhammadiyah, diawali oleh makan malam. Ada 4 kesimpulan yang dihasilkan kedua ormas Islam terbesar besar itu, yang langsung ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, mengatakan, kedua belah pihak menyadari pentingnya kedaulatan dan kemajuan bangsa dan negara. Karenanya Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyepakati beberapa hal.

"Satu, berkomitmen kuat menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan atas Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami. Bersamaan dengan itu menguatkan dan memperluas kebersamaan dengan seluruh komponen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa," ucap Helmy di lokasi, Rabu (31/10/2018).

Yang kedua, masih kata dia, kedua belah pihak, mendukung sistem demokrasi dan proses demokratisasi sebagai mekanisme politik kenegaraan.

"Dan seleksi kepemimpinan nasional yang dilaksanakan dengan profesional, konstitusional, adil, jujur, dan berkeadaban. Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantif serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia," jelas Helmy.

Sementara itu, di tempat yang sama, Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu'ti, menyampaikan poin ketiga, yaitu, meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang konstruktif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun masyarakat yang makmur baik material maupun spiritual, serta peran politik kebangsaan melalui program pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan bidang-bidang strategis lainnya.

"Komunikasi dan kerjasama tersebut sebagai perwujudan ukhuwah keumatan dan kebangsaan yang produktif untuk kemajuan Indonesia," tegas Abdul.

Kemudian, masih kata dia, untuk poin terakhir, menyinggung masuknya tahun politik, di mana semua pihak agar mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik.

"Kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, cerdas, dewasa, serta menjunjung tinggi keadaban serta kepentingan bangsa dan negara. Hindari sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama. Kami percaya rakyat dan para elite Indonesia makin cerdas, santun, dan dewasa dalam berpolitik," pungkasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra

Sumber: Liputan6.com (mdk/bal)

Baca juga:
Jamuan nasi liwet 'temani' pertemuan Muhammadiyah dan NU
Usai bertemu, Muhammadiyah dan NU tegaskan netral di Pilpres 2019
Muhammadiyah minta kasus pembakaran bendera tulisan tauhid tidak diperbesar lagi
NU dan Muhammadiyah bakal halau pendirian khilafah di Indonesia
NU dan Muhamadiyah serukan warganya tak ikutan aksi demo terkait pembakaran bendera

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.