PBNU: Indonesia Sudah Final, Tak Usah Lagi Ngomong Khilafah dan Negara Islam

PERISTIWA » MALANG | 13 Januari 2019 06:43 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Dua persoalan di depan mata menjadi tantangan Nahdlatul Ulama ( NU) dan Bangsa Indonesia sekarang ini. Keduanya adalah munculnya pihak yang mempersoalkan atau mempertanyakan aspek-aspek kebangsaan dan kenegaraan yang sudah final, serta kelompok yang menjadikan Islam sebagai aspirasi politik.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) bidang Hukum, HAM dan Perundang-Undangan, Robikin Emhas mengatakan, NU sebagai organisasi terbesar harus mengambil peran dalam mengantisipasi munculnya gerakan-gerakan tersebut. Pengurus NU di seluruh lapisan harus menyampaikan pesan itu kepada masyarakat, khususnya anak-anak milenial.

"Pengurus NU di seluruh lapisan harus kembali mengelorakan, menyampaikan pada masyarakat khususnya anak-anak milenial, bahwa Indonesia sudah final. Tidak usah diotak-atik lagi, tidak usah lagi ngomong khilafah, tidak usah ngomong negara Islam," kata Robikin Emhas di Guest House Universitas (UB) Brawijaya, Sabtu (12/1).

Orang atau kelompok itu, diidentifikasi oleh Robikin, kembali mempertanyakan aspek-aspek kebangsaan dan kenegaraan yang sebenarnya sudah final. Selain itu, kemudian menjadikan Islam sebagai aspirasi politik yang syarat kepentingan.

"Apakah Indonesia sudah kategori Islami, kalau tidak misalnya apakah negara kafir, dan kemudian mau mengganti dan sebagainya. Ini tantangannya," tegasnya.

Robikin juga melihat arus yang cukup kuat munculnya Islam radikal di tengah-tengah masyarakat. Ajaran disampaikan dengan cara-cara penuh kebencian yang bertentangan dengan budaya Indonesia, bahkan Islam itu sendiri.

"Islam yang ramah, Islam yang moderat itulah yang saya kira dikehendaki oleh Allah melalui ajaran Islam," tegasnya.

Kedua persoalan tersebut, katanya tidak punya ruang untuk tumbuh di negara ini, karena harus ditegaskan Indonesia sudah jelas Islami.

"Salah, kalau NKRI diganti konstitusi dengan Pancasilanya dan Bhineka Tunggal Ikanya dianggap tidak Islami, itu salah," tegasnya.

Robikin juga mengajak untuk berkaca kepada negara-negara terutama di Timur Tenggah yang menjadikan agama sebagai aspirasi politik.

"Begitu banyak agama dijadikan aspirasi politik, yang terjadi konflik. Pecah-pecah masyarakatnya, bahkan tidak jarang terjadi perang saudara. Kita harus menghindarkan itu semua," pungkasnya.

Robikin hadir dalam rangkaian pelantikan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Malang. Bersamaan juga digelar Rapat Kerja Nasional Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU).

Baca juga:
Istri Mantan Rais Aam PBNU Nyai Nihayah Ahmad Shiddiq Meninggal
Said Aqil: Kalau Kelas Menengah Kuat, Hoaks Enggak akan Laku
PBNU Harap Revisi UU Pesantren Tidak Ganggu Independensi
Said Aqil Undang Wapres JK ke Penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU
Pemilu, Ketum PBNU Serukan Para Kiai Tak Rusak Kesatuan dan Fitnah

(mdk/ded)

TOPIK TERKAIT