PDIP Minta Peristiwa Kudatuli Dituntaskan agar Tak Sekadar Tabur Bunga

PDIP Minta Peristiwa Kudatuli Dituntaskan agar Tak Sekadar Tabur Bunga
PERISTIWA | 27 Juli 2020 22:32 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menggelar tabur bunga dan doa bersama untuk memperingati peristiwa serangan kantor DPP pada 27 Juli 1996 atau biasa disebut peristiwa Kudatuli. PDIP dan segenap lapisan masyarakat, khususnya penggiat HAM dan demokrasi memperingati peristiwa kelam serangan terhadap kantor DPP PDI saat itu.

"Peringatan peristiwa 27 Juli di Kantor DPP PDI Perjuangan dilakukan dengan tabur bunga, doa, dan webinar," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulisnya dilansir Antara, Senin (27/7).

Hasto mengenang peristiwa yang memakan korban jiwa tersebut di masa orde baru. Menurutnya, kudatuli tidak hanya merusak kedaulatan partai politik tetapi juga demokrasi.

"Pemerintah Orde Baru selalu memilih jalan kekuasaan terhadap rakyatnya sendiri. Serangan tersebut tidak hanya menyerang simbol kedaulatan partai politik yang sah, namun juga membunuh demokrasi. Kekuasaan dihadirkan dalam watak otoriter penuh tindakan anarki," ujar Hasto.

Meski kantor PDI luluh lantak, kata dia, namun sejarah mencatat energi perjuangan tidaklah surut. Hal tersebut ditunjukkan dengan keputusan Ketum Megawati Soekarnoputri memilih jalur hukum atas peristiwa tersebut.

"Apa yang dilakukan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri dengan memilih jalur hukum, di tengah kuatnya pengaruh kekuasaan yang mengendalikan seluruh aparat penegak hukum sangatlah menarik," ujarnya.

Langkah tersebut, kata Hasto, menunjukkan keyakinan politik dan moral yang kuat. Sebagai buktinya kekuatan demokrasi arus bawah tergerak.

"Kekuatan moral itu mendapatkan momentumnya ketika seorang hakim di Riau yang bernama Tobing, mengabulkan gugatan Ibu Megawati. Di sinilah hati nurani menggalahkan tirani," papar Hasto.

Dia mengaku menanyakan sikap Mega terkait peristiwa ini. Kemudian keluarlah jawaban yang di luar perkiraannya. "Saya tidak ingin sejarah terulang, seorang Presiden begitu dipuja berkuasa, dan dihujat ketika tidak berkuasa. Rakyat telah mencatat apa yang dialami oleh keluarga Bung Karno. Karena itulah, mengapa Bung Karno selalu berada di hati dan pikiran rakyat. Kita tidak boleh dendam lalu hanya melihat masa lalu, dan melupakan masa depan," kata Hasto yang menirukan ucapan Megawati.

Oleh karena itu, lanjut Hasto, Kudatuli mengajarkan inti dari kekuatan moral politik. Pilihan jalur hukum saat itu memperkuat moral pejuang demokrasi.

"Kudatuli menjadi benih perjalanan reformasi di mana kekuatan rakyat menyatu dan mampu mengalahkan tirani. Di balik jatuhnya Pak Harto, Ibu Megawati telah mengajarkan politik rekonsiliasi, berdamai dengan masa lalu dan melihat masa depan. Di situ hadir kekuatan moral seorang pemimpin," ucap Hasto.

Baca Selanjutnya: Komnas HAM Harus Terus Usut...

Halaman

(mdk/ray)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami