Pelaku penggelapan mobil tewas, keluarga adukan polisi ke LBH

PERISTIWA | 8 Desember 2012 04:00 Reporter : Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Keluarga Syarif Tarigan (45), yang tewas setelah rumahnya didatangi empat personel Polres Aceh Tengah, tetap akan mengupayakan langkah hukum, meskipun polisi membantah melakukan pemukulan. Mereka pun berencana meminta pendampingan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

"Kami tetap akan tetap memproses kasus ini, kami tidak mau berdamai, karena abang ipar saya memang dipukuli sebelum meninggal. Kami berencana melaporkan kasus ini ke LBH," papar Edi Surya, adik ipar Syarif, Jumat (7/12).

Kata dia, pemukulan itu disaksikan langsung istri Syarif, Nurhasanah alias Inun alias Aling (32). Perempuan yang tengah hamil muda ini mengaku melihat suaminya sekali dipukul di depan rumah. Setelah itu, dia langsung mengambil anak balitanya yang ada di dalam rumah. Saat kembali suaminya sudah tersungkur.

"Dipukul dengan tangan, mukanya kan luka. Saya lihat sekali, tapi setelah itu anak saya si Marcelo (6) yang melihat ayahnya ditendang dari belakang dipukul dan diinjak-injak setelah tersungkur," ucapnya.

Nurhasanah mengaku sudah mengingatkan keempat polisi agar jangan membuat keributan, karena suaminya punya riwayat sakit jantung, tapi peringatan itu diabaikan.

"Bahkan si Riskan pun saya mintai tolong sampai koyak saya tarik bajunya yang warna cokelat. Tapi dia diam saja. Mereka pergi setelah suami saya terkapar," paparnya.

Meninggalnya Syarif memberi duka mendalam kepada keluarganya. Pasalnya, laki-laki ini meninggalkan enam orang anak dan janin di dalam kandungan Nurhasanah. Mereka menjadi yatim.

Seperti diberitakan, Syarif tewas saat personel kepolisian melakukan penangkapan terhadap Wiwin Sanara Putra Lubis alias Erwin yang disangka menggelapkan mobil Toyota Fortuner milik Riskan Auril, pegawai PT Pos Indonesia di Aceh. Riskan ikut dalam penangkapan ini. Selain itu, tiga personel Polda Sumut mengantar mereka.

Penangkapan dilakukan di rumah kontrakan Syarif di Jalan Karantina, Medan Timur, Kamis (6/12) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Syarif diketahui berteman dengan Erwin dan kenal pula dengan Riskan.

Saat penangkapan itu, polisi juga menginterogasi Syarif. Dia dibawa ke teras rumah. Keluarga menyatakan saat itulah pria yang berprofesi sebagai sopir ini dipukuli. Bahkan pemukulan terjadi di depan anak dan istrinya.

Setelah Syarif tersungkur, empat polisi asal Polres Aceh Tengah bersama Riskan Auril pun langsung pergi sambil membawa tersangka Erwin.

Namun, Kasat Reskrim Polresta Medan Kompol M Yoris Marzuki membantah tudingan keluarga. Kata dia, delapan polisi dan seorang saksi pelapor yang diperiksa menyatakan tidak terjadi tindak penganiayaan. Dia juga memaparkan, hasil sementara autopsi terhadap jenazah Syarif menunjukkan adanya pembengkakan di jantungnya, karena dia pernah menjalani operasi bypass jantung.

"Begitupun kita masih melakukan penyidikan. Propam pun sedang memeriksa petugas yang datang ke rumah korban," jelas Yoris. (mdk/did)

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.