Pemenang ISDP 2021, Jalan Panjang Latifriansyah Membangun Kedai Kiwae

Pemenang ISDP 2021, Jalan Panjang Latifriansyah Membangun Kedai Kiwae
Latifriansyah Membangun Kedai Kiwae. ©2021 Merdeka.com/Purnomo Edi
NEWS | 20 September 2021 09:01 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Jatuh bangun dalam membangun usaha dirasakan oleh pemilik usaha Kiwae Ayam Kekinian, Latifriansyah Usman Ali. Baginya, jatuh bangun yang dialaminya dalam membangun usaha adalah pembelajaran yang mahal dan mendewasakan untuk langkah selanjutnya.

Latif menceritakan awal mula dirinya terjun ke dunia usaha karena kondisi dan upaya untuk bertahan hidup. Latif mengenang, 2014 menjadi tahun yang tak terlupakan baginya. Saat itu ayah dan ibunya musti bercerai dan rumahnya pun dijual.

"Awalnya saya masuk ke dunia usaha karena memang kondisi. Bapak ibu cerai, rumah dijual. Saya gak punya rumah. Mau gak mau saya harus bertahan hidup dan akhirnya saya harus mulai sesuatu yaitu buka usaha," katanya saat ditemui di Kedai Kiwae, Jalan Nologaten Sleman beberapa waktu yang lalu.

Untuk memulai usaha, di tahun 2014, Latif harus mengumpulkan modal sendiri. Modal ini didapatnya dari memulung dan bekerja serabutan lainnya.

Bermodal Rp500 ribu, Latif bersama seorang temannya kemudian membuat bahan minuman coklat. Kemudian bahan ini disetorkannya di sejumlah restoran dan hotel di DIY. Usaha ini dilakoninya hingga tahun 2018, sebelum akhirnya gulung tikar.

Tak menyerah, Latif pun mencoba peruntungan usahanya ke bisnis kuliner Sate Taichan yang kemudian dinamainya Kiwae. Alasan memakai nama Kiwae adalah akronim dari Iki Wae atau dalam Bahasa Indonesia mempunyai makna ‘ini saja’. Nama ini dipilih karena gampang diingat dan mudah diucapkan.

"Awalnya kita jualan Sate Taichan Kiwae dari event ke event jualannya. Kemudian setelah mulai ramai dan kemudian kita jualan di sebuah foodcourt di Jalan Pramuka. Kemudian kita pindah ke gerai baru di Jalan Agro UGM," tutur pria kelahiran tahun 1996 ini.

"Jadi Sate Taichan ini saya buat usai usaha minuman coklat down. Kemudian mikir mau bikin apa. Akhirnya bikin Sate Taichan karena saat itu lagi trend dan bagus penjualannya," sambung Latif.

Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian UGM ini menuturkan usaha Sate Taichan Kiwae ini pun akhirnya tutup seiring turunnya trend penjualan produk sejenis. Selain itu, Latif mengaku masalah internal juga menambah pelik permasalahan usahanya hingga akhirnya berganti konsep. Konsep Sate Taichan kemudian diubah Latif menjadi ayam kekinian.

Perubahan konsep ini diakui Latif didapatnya kala mengikuti program Islamic Sociopreneur Development Program (ISDP) di tahun 2020. Ketika itu, Latif yang mendapatkan pendampingan program menyebut bahwa berbisnis tak bisa hanya bermain asumsi tetapi harus memakai data.

"Kita rombak semua. Kita pakai data kemudian karena memang saat itu penjualan Sate Taichan turun. Dari data Google yang kita dapatkan, kita tahu penjualan makanan tertinggi di Yogyakarta adalah ayam goreng. Akhirnya saya berpikir kenapa gak bermain di market yang sudah pasti saja. Akhirnya Kiwae kita ubah jadi menunya ayam kekinian," papar alumni SMA Negeri 4 Yogyakarta ini.

"Kita juga bikin riset kecil-kecilan. Kita tanya dengan uang Rp 12 ribu, konsumen lebih memilih membeli Sate Taichan atau ayam goreng? Rata-rata lebih memilih ayam goreng karena secara visual dinilai lebih menarik ayam goreng dan lebih mengenyangkan. Akhirnya kita pilih ganti ke ayam goreng," imbuh Latif.

Latif pun kemudian melakukan perombakan. Kiwae yang semula berjualan Sate Taichan diubah menjual menu olahan daging ayam dengan mengusung konsep ayam kekinian.

Sejumlah kreasi menu pun dilahirkan oleh Latif. Salah satunya adalah menu Chicken Cheetos yang dinamai Chikitos. Menu ini pun banyak digandrungi oleh masyarakat dan menjadi menu andalan di Kiwae.

"Chikitos ini paling banyak dipesan. Hampir 60 persen penjualan, ya Chikitos ini," ucap Latif.

Berkat kerjakerasnya bersama tim Kiwae, Latif saat ini mempunyai dua kedai. Satu berada di Jalan Nologaten nomor 142, Kabupaten Sleman dan satu lagi ada di Jalan Pandega Marta nomor 106, Kabupaten Sleman. Bulan Oktober mendatang, Latif berencana membuka dua cabang Kiwae lagi di Jalan Kabupaten dan di daerah Pakualaman, Kota Yogyakarta.

Latif mengaku bahwa dalam sehari dirinya bisa mendapatkan omset sebanyak Rp 6 juta hingga Rp 7 juta seharinya untuk satu outlet.

Kesuksesan Latif membangun bisnis kulinernya ini mengantarkan menjadi salah satu pemenang ISDP 2021 yang diselenggarakan oleh Bank Syariah Indonesia. ISDP sendiri merupakan beasiswa bergengsi khusus bagi mahasiswa yang bercita-cita menjadi sociopreneur.

Selain Latif dan Kedai Kiwae, ada dua pemenang lainnya di ISDP 2021. Keduanya adalah Koes Hendra yang merupakan CEO Sugeng Jaya Farm dan Bintang Wijaya yang merupakan CEO Bikin Bareng. Seremoni wisuda dan penyerahan penghargaan dilakukan di Wisma Mandiri Jakarta, Kamis (25/3) lalu.

Terkait ISDP, Latif menuturkan banyak hal yang didapatnya dari program ini. Salah satunya adalah adanya pendampingan atau mentoring kewirausahaan yang diberikan ISDP kepada para pesertanya. Selain itu, lanjut Latif yang menarik dari ISDP adalah nilai-nilai keIslaman yang diajarkan dalam mengelola usaha sehingga tercipta keseimbangan antara membangun usaha dengan nilai-nilai Islam. (mdk/fik)

Baca juga:
Tak Ingin Jadi Beban, Ini Kisah Inspiratif Difabel Bantul Jadi Pengusaha Wastafel
Berani Berubah: Wastafel Portabel ala Disabilitas
29 Tahun Berjualan Kelapa, Pria Ini Terpilih Jadi Dirut Perumda Pasar Medan
Dulu Dipandang Sebelah Mata, Pria Ini Kini Gagah Berseragam Polisi
Cerita Perjuangan Silvia Kuliah Sambil Bekerja, Pulang ke Rumah Dagang Seblak
Kisah Eks Travel Blogger Raup Ratusan Juta dari Jual Tanaman Hias

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami