Pemerintah Diminta Tarik Draf RUU Cipta Kerja, Wapres Tunggu Keputusan DPR

Pemerintah Diminta Tarik Draf RUU Cipta Kerja, Wapres Tunggu Keputusan DPR
PERISTIWA | 28 Februari 2020 15:48 Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Merdeka.com - Pemerintah diminta menarik draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law oleh sejumlah pihak. Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin menyebut, pemerintah menunggu keputusan DPR.

"Itu kan sudah disampaikan ke DPR ya kita tunggu saja nanti apa kata DPR nya," kata Ma'ruf di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (28/2).

Ma'ruf menambahkan, permintaan untuk menarik draf RUU Omnibus Law memang ada. Namun, keputusan tetap menunggu DPR.

"Memang ada permintaan itu saya kira bisa saja. Tapi kita prosedurnya menyampaikan ke DPR, DPR yang melakukan rapat dengar pendapat. kemudian apa nanti keputusan dari DPR. Kita tunggu aja," ujar Ma'ruf.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyarankan pemerintah menarik kembali RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Alasannya, terdapat salah ketik pada Pasal 170.

Salah ketik yang dimaksud adalah wewenang Presiden mengubah Undang-Undang melalui Peraturan Pemerintah (PP).

"Ya prosesnya kan karena ada yang salah ketik, ditarik terus kemudian diajukan konsep yang baru," ujar Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2).

Muzani mengatakan, Fraksi Gerindra akan mendiskusikan dan membahas pasal 170 kepada ahli. Pasal yang membolehkan UU dibatalkan dengan peraturan pemerintah (PP) dinilai bertabrakan dengan hukum.

"Tetapi baru perencanaan kami, supaya kami itu bisa lakukan tindakan respons yang lebih konstruktif," ucapnya.

Menurutnya, jika memang terdapat salah ketik seharusnya pemerintah juga menyiapkan naskah yang benar.

"Saya berharap pemerintah segera mempersiapkan kesalahketikan itu, yang salah di mana supaya ada pembetulan," ucapnya.

Muzani menilai pasal 170 ini bertentangan dengan semangat reformasi. Menurutnya tidak bisa demi menarik investasi dan penciptaan lapangan kerja, menabrak demokrasi.

"Karena itu, kami merasa perlu mengingat kan bahwa cara pikiran seperti itu menurut hemat kami harus dibenerin, tidak pas dengan semangat kita dalam proses pengelolaan negara yang sudah menjadi kesepakatan kita bersama sejak reformasi," tegasnya.

"Saya khawatir ada masukan yang tidak pas kepada presiden tentang hal ini," imbuh Muzani.

1 dari 1 halaman

Salah Ketik

Dalam RUU Cipta Lapangan Kerja Bab XIII Pasal 170 Ayat 1, disebutkan jika dalam rangka percepatan kebijakan strategis cipta kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) berdasarkan Undang-undang ini pemerintah pusat berwenang mengubah ketentuan dalam Undang-undang yang tidak diubah dalam Undang-undang ini.

Selanjutnya, dalam ayat (2) diperjelas bahwa Perubahan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Dalam ayat (3) disebutkan bahwa Dalam rangka penetapan Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemerintah pusat dapat berkonsultasi dengan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. (mdk/gil)

Baca juga:
PPP Nilai Omnibus Law Perlu Segera Dibahas
Permudah Izin, Omnibus Law Dorong Aktivitas Sektor Properti
Jokowi Minta Omnibus Law Selesai 100 Hari, Ketua DPR Ingin Manfaat Buat Rakyat
Ketua Apindo: Omnibus Law Tak Hanya soal Buruh & Pengusaha, tapi Lapangan Kerja
Bertemu Mahfud, KSPI Bahas RUU Omnibus Law yang Dinilai Rugikan Buruh
Tak Kasih Uang Pemanis ke Pekerja, Perusahaan Dapat Sanksi?

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Curhat Siswa Lulusan Tanpa Ujian Nasional

5