Pemerintah Ganti Istilah New Normal Jadi Adaptasi Kebiasaan Baru

Pemerintah Ganti Istilah New Normal Jadi Adaptasi Kebiasaan Baru
PERISTIWA | 13 Juli 2020 17:10 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Pemerintah tak akan menggunakan istilah new normal yang kerap digunakan selama pandemi virus Corona (Covid-19). Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, istilah new normal kini diganti dengan adaptasi kebiasaan baru.

"Soal new normal, setahu saya sudah dipertegas sekarang tidak gunakan new normal, sekarang istilahnya apa itu adaptasi dengan keadaan yang baru," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (13/7).

Dia mengakui, istilah new normal dan lockdown memang tak sesuai dengan undang-undang (UU). Muhadjir menjelaskan, jika merujuk pada UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, saat ini Indonesia seharusnya masuk dalam masa transisi rehabilitasi sosial ekonomi dan rekonstruksi sosial ekonomi.

Namun, dia mengungkapkan, istilah itu tidak untuk menggambarkan bencana non alam, seperti pandemi Corona. Untuk itu, UU Penanggulangan Bencana akan segera direvisi.

"Atas insiatif DPR Komisi VIII, maka UU 24/2007 ini akan segera direvisi dengan seiring perkembangan yang ada ini. Terutama karena kita sudah alami bencana wabah non alam ini," ujar Muhadjir.

1 dari 1 halaman

Menurutnya, UU yang direvisi tersebut nantinya akan menetapkan istilah yang sesuai dengan kondisi saat ini. Sehingga, Muhadjir meminta, pergantian istilah new normal tersebut tidak dipeributkan lagi.

"Jadi istilah new normal, lockdown itu memang enggak sesuai UU. Sehingga kita kalau gunakan harus hati2. Termasuk juga dengan adaptasi baru itu," ucapnya.

Muhadjir menjelaskan new normal adalah sebuah istilah yang dikeluarkan oleh Roger McNamee dari bukunya yang berjudul The New Normal: Great Opportunities in a Time of Great Risk. Dalam buku itu, istilah new normal tak ada kaitannya dengan Covid-19.

"Karena itu kita harus hati-hati gunakan diksi itu, tapi ya enggak dilarang namanya juga istilah. Apalagi wartawan kan punya kebebasan pakai diksi apapun itu untuk menarik pembaca," tutupnya.

Seperti diketahui, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengakui bahwa istilah new normal yang sering digunakan selama pandemi Covid-19 adalah diksi yang salah. Yuri mengatakan pemerintah menggunakan istilah adaptasi kebiasaan baru.

Hal ini lantaran penggunaan istilah new normal dianggap membingungkan masyarakat. Istilah new normal justru diartikan masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Reporter: Lisza Egeham
Sumber: Liputan6.com (mdk/fik)

Baca juga:
Anies: Selama PSBB Transisi Ada 6.748 Kasus Baru Covid-19 di Jakarta
Wagub DKI Ajak Peserta Didik & Pengajar Tetap Tangguh di Masa Pandemi Covid-19
Sekolah di Zona Hijau Diizinkan Dibuka, Pelajar Harus Patuhi Protokol Kesehatan
DPRD Minta Pemprov DKI Berani Perketat PSBB Jika Kasus Covid-19 Melonjak
Tak Bisa Angkut Penumpang, Ribuan Ojek Online Demo di Depan Balai Kota Bandung
Kasus Covid-19 Masih Tinggi, IDI Minta Pemerintah Evaluasi New Normal

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami