Pemilih millenial dalam Pemilu 2019 diprediksi bakal meningkat
PERISTIWA | 20 September 2017 22:35 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta

Merdeka.com - Generasi millenial semakin menyebar ke berbagai sudut, salah satunya dunia politik. Ide mereka seperti membuka jalan baru untuk kemajuan Indonesia. Bahkan mereka juga bisa membantah dan memprotes apa-apa saja yang menurut mereka tidak benar. Mereka juga bisa memberhentikan pemimpin, lalu mengusulkan calon pemimpin yang baru yang menurut mereka bisa dipercaya.

Tapi apakah kekuatan generasi millenial bisa sangat mempengaruhi kondisi politik di Indonesia?

"Kita tidak bisa membayangkan millenial dalam politik. Artinya dalam konteks misalkan 212. Sebagian jelas ada yang bisa menjadi pendukung Anies. Tapi di sisi lain sebagian mungkin ada yang mengusung logo-logo kebhinekaan, atau sebagai tanda protes. Memang millenial beragam, dan itu harus kita terima. Dan mereka akan terlibat dalam pola-pola semacam ini ke depannya," kata peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI Ibnu Nadzir Daraini dalam diskusi di kantor Populi Center Jalan Letjen S. Parman, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (20/9).

Menurutnya, generasi millenial suatu saat bisa masuk dalam dunia politik. Hal itu mulai diprediksi pada Pemilu Serentak 2019.

"Di tahun 2019, kita punya populasi pemilih millenial ada 40 persen dari populasi Indonesia. Jadi saya belum bandingkan berapa persen dari jumlah pemilih, tapi saya kira mungkin akan di atas 50 persen. Artinya pada tahun 2019, ketika akan ada pemilihan presiden dan partai baru, mereka akan memilih partai baru. Saya kira politisi juga penting sekali memerhatikan bagaimana menangkap aspirasi kaum millenial. Bagaimana mereka bisa menjual diri mereka sebagai calon pemimpin ideal," ujar dia.

Menurut Ibnu, sebenarnya sudah ada beberapa contoh cara millenial yang digunakan pemimpin maupun calon pemimpin kita. Seperti Jokowi yang membuat video, Anies juga membuat video, dan meme-meme yang mereka buat.

Dengan begitu, bisa saja cara millenial mengubah cara lama para politisi untuk mengkampanyekan progam mereka ke masyarakat. Karena sepertinya cara generasi millenial yang kekinian lebih mudah ditangkap oleh masyarakat, dari pada hanya dengan berpidato, berteriak dengan janji-janji mereka.

Baca juga:

MA Kenya batalkan hasil pilpres karena KPU curang dan berpihak

KPU dan DPR diminta konsisten soal verifikasi parpol

Kapolda Jatim antisipasi isu SARA jelang Pilgub

DPR dan KPU sepakati 5 PKPU Pilkada 2018

Ekspresi suku pedalaman Kenya saat antre coblos Presiden baru

Pemilu di Madura dinilai masih rawan kecurangan

DPR usulkan KPU gunakan kotak suara transparan di Pilkada 2018

(mdk/gil)

TOPIK TERKAIT