Pemilik Rumah Karaoke di Surabaya Didakwa Tidak Bayar Royalti

PERISTIWA | 11 Desember 2019 21:11 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Sidang perdana pelanggaran hak atas kekayaan intelektual (HaKI) pemutaran lagu-lagu secara komersil yang nyanyikan oleh grup musik Super Girlies dengan terdakwa Ivan Kuncoro, Direktur Utama PT Rasa Sayang Inti digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Terdakwa dijerat pidana lantaran tidak membayar royalti lagu-lagu yang dimiliki outletnya pada para pemilik lagu atau pada lembaga manajemen kolektif nasional (LMKN).

Dakwaan terhadap Ivan ini dibacakan Jaksa Penuntut Umum Kejati Jatim Novan Afrianto. Pada sidang tersebut, terdakwa Ivan Kuncoro didakwa telah melakukan pelanggaran HAKI sejak tahun 2016. Selain tidak membayar royalti ke LMKN, terdakwa juga diduga telah melakukan praktik penggandaan lagu. Yakni memperbanyak lagu ciptaan dari satu server ke server lain di beberapa ruang karaoke.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pasal Pasal 117 ayat (2) jo pasal 24 ayat (2) huruf d UU RI No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta," terang JPU Novan, Rabu (11/12).

Dalam dakwaan juga dijelaskan, bagaimana terdakwa melakukan perbuatan penggandaan lagu tersebut. Di antaranya dengan membeli kepingan compact disk (CD) ke toko-toko yang ada di kawasan Siola, Surabaya.

"Bahwa terdakwa Ivan mendapatkan lagu-lagu atau fonogram tersebut dari Toko Flamboyan, Cinema Trixa di PTC Mal Surabaya, dan toko di sekitar Siola, berupa kepingan CD dengan pembayaran langsung cash seharga Rp10 ribu perkepingnya," tegasnya.

Atas dakwaan tersebut, terdakwa Ivan Kuncoro melalui tim penasehat hukumnya mengaku akan mengajukan eksepsi.

"Kami mengajukan eksepsi majelis," kata Adnan Fanany, penasehat hukum terdakwa.

Di akhir persidangan, Ivan Kuncoro mengajukan permohonan penangguhan penahanan dengan jaminan istri dan ibu kandung terdakwa. Namun belum dikabulkan lantaran masih dilakukan musyawarah oleh majelis hakim.

"Kami akan musyawarahkan dulu dengan majelis," pungkas Ketua Majelis hakim Mashuri Effendi sembari menutup persidangan.

Untuk diketahui, Kasus pelanggaran HAKI ini dilaporkan oleh LMKN ke Polda Jatim. Selain menetapkan Ivan Kuncoro sebagai tersangka, polisi juga menyita barang bukti dalam perkara ini, di antaranya server rumah karaoke, layar monitor, sound system, metadata lagu-lagu dalam daftar putar yang belum berizin.

Dalam perkara ini, tim penyidik Polda Jatim juga menyita sejumlah barang bukti, di antaranya server rumah karaoke, layar monitor, sound system, metadata lagu-lagu dalam daftar putar yang belum berizin.

Saat gelar kasus ini, Polda Jatim juga menghadirkan sejumlah musisi, di antaranya Anang Hermansyah, vokalis Dmasiv Band, Rian Ekky, dan Adi Adrian personel KLa Project yang juga komisioner LMKN.

Dalam kesempatan tersebut, Anang Hermansyah mengungkapkan, ulah pemilik karaoke melanggar hak cipta sampai menggandakan lagu menyebabkan banyak kerugian bagi para seniman. Namun pihaknya enggan menyebutkan berapa kerugian yang dialaminya.

"Hak cipta itu konsepnya harus minta izin ke LMKN. Itu sudah diatur dalam UU. Saya berharap penegakan yang dilakukan Polda Jatim bisa dicontoh Polda lainnya," kata mantan Anggota DPR itu saat di Mapolda Jatim, Kamis (22/10) lalu. (mdk/cob)

Baca juga:
Langgar Hak Cipta, 3 Tempat Karaoke di Surabaya Dilaporkan ke Polisi
Kekayaan Intelektual Indonesia Tak Bisa Diklaim Negara Lain
4 Tahun, Bekraf Fasilitasi 4.000 Pelaku Ekonomi Kreatif Kantongi HAKI
Baru 902.000 Pelaku Ekonomi Kreatif RI Kantongi Hak Kekayaan Intelektual
Bekraf Serahkan Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual ke 12 Pelaku Ekonomi Kreatif
Menkum HAM dorong produk potensi dalam negeri didaftarkan HAKI

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.