Pemuda Papring Banyuwangi Kembalikan Kejayaan Kerajinan Anyaman Besek

Pemuda Papring Banyuwangi Kembalikan Kejayaan Kerajinan Anyaman Besek
PERISTIWA » BANYUWANGI | 9 April 2020 17:04 Reporter : Mohammad Ulil Albab

Merdeka.com - Ada banyak kegiatan kreatif yang bisa dilakukan di desa selama beraktivitas di rumah untuk mencegah sebaran virus corona (Covid-19).

Sejumlah pemuda yang tinggal di pinggir hutan di Lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi membuat dokumentasi video warganya yang sedang sibuk membuat kerajinan anyaman bambu berupa besek. Pemuda yang tergabung dalam komunitas Kampung Papring Kreatif tersebut kemudian mengunggah karyanya ke media sosial untuk menguatkan pasar kerajinan besek yang sedang lesu.

Para pemuda mengkampanyekan penggunaan besek untuk tempat makanan, buah dan kemasan kaos atau oleh oleh karena lebih ramah lingkungan, dibandingkan kemasan berbahan plastik.

"Kami buat video berlima dengan tetap memperhatikan jarak aman (cegah Covid-19) antara kita dengan masyarakat di lingkungan kami sendiri yang sedang membuat kerajinan. Sebagai pemuda kami ingin membantu agar pasar kerajinan besek ini tidak mati," ujar Widie Nurmahmudy, salah satu anggota Komunitas Kampung Papring Kreatif saat dihubungi via telepon, Kamis (9/4).

Tidak hanya di bidang ekonomi kreatif, di Papring juga terdapat komunitas Kampoeng Batara yang menjadi pusat belajar pendidikan alternatif untuk Anak anak di sana.

"Namun untuk sementara kegiatan belajar Anak-anak di Kampoeng Batara libur selama masa wabah ini. Sehingga juga belum menerima relawan yang masuk untuk mengajar seperti sebelumnya," katanya.

Selain mengenalkan potensi besek di desanya, para pemuda juga membantu pemasaran besek dari perajin ke kawasan Banyuwangi dengan harga lebih mahal dibandingkan dari tengkulak.

"Kami ambil harga lebih mahal untuk perajin dibandingkan harga yang diberi tengkulak. Kemudian dijual ke pemesan, keuntungan hasil penjualan 50 persen untuk kami yang memasarkan, dan sebagian lagi untuk kas komunitas pemuda kami," kata Widie.

Sejak tahun 1970-an masyarakat desa Papring sempat mengalami masa kejayaan sebagai sentra kerajinan besek. Seperti namanya, papring merupakan kawasan yang banyak tersedia tanaman bambu sebagai bahan kerajinan. Namun, pada tahun 1996 produksi kerajinan besek sempat turun drastis dan berdampak hingga saat ini karena muncul produksi kemasan plastik dan kertas yang menggantikan fungsi besek dengan harga lebih murah.

"Saya jadi pengepul besek tahun 1970-an dengan menggandeng 60 perajin di sini bisa kirim 6000-7000 besek setiap hari. Waktu tahun 1996 saingannya awalnya plastik, kemudian kotakan kerdus. Akhirnya banyak warga nganggur karena semakin gak laku. Saya sendiri juga bangkrut. Nah sekarang saya coba aktif lagi membuat besek," kata Munaju (75) salah satu perajin yang dulu menjadi pengepul besar di Papring.

Widie bersama pemuda Papring berupaya menguatkan pasar lokal untuk kembali menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan. Sebelumnya, perajin hanya mengandalkan pasar Bali dengan harga murah lewat tengkulak sejak tahun 1970-an. Pasar Bali tidak pernah sepi karena besek menjadi bagian dari kebutuhan kebudayaan tempat menaruh buah.

"Tahun 1970-an sampai 1996 di kawasan Banyuwangi, masyarakat masih gunakan besek untuk tempat makanan orang hajatan, termasuk kemasan makanan di rumah makan wina. Tapi yang paling rame berkatan (makanan selamatan)," ujarnya.

Saat ini, Widie bersama pemuda Papring berupaya membangkitkan kembali kejayaan kerajaan besek di Papring, namun dengan cara gotong royong. Keuntungannya tidak hanya untuk kepentingan pribadi, seperti sebagian untuk kas komunitas.

Agar pasar besek kembali diminati, Widie coba menawarkan beragam model kerajinan besek di luar ukuran pakem. Bila biasanya menggunakan ukuran 14 Cm persegi, dia bisa menerima pesanan lebih besar atau kecil untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen.

"Disesuaikan lagi ukurannya agar bisa untuk kemasan souvenir, kaos, makanan dan lain lain, dan motif anyamannya pun dibuat lebih inovatif. Jadi harganya pun lebih variatif, ada yang standar dan lebih mahal," katanya.

Saat ini, di tengah masa pencegahan virus corona, dia dan pemuda Papring hanya menerima pesanan 100-300 besek tiap pekannya yang sebelumnya bisa mencapai 1000 besek.

"Pesanan semakin jarang. Tapi kebanyakan yang pesan saat ini untuk tempat makanan hajatan. Karena hajatan sementara ini kan gak boleh (dampak Covid-19), jadi banyak yang pesen besek buat wadah makanan diantar langsung ke masyarakat," katanya.

Untuk harga besek sendiri, Widie menjual mulai Rp 2.500 sampai Rp Rp 5000 per besek. Sementara Widie hanya menggandeng sekitar 5 orang perajin dengan harga lebih mahal yang bersedia membuat besek sesuai pesanan.

"Kalau pesan di luar ukuran normal memang harus ngomong dulu. Karena perajin di sini terus buat untuk tengkulak namun dengan ukuran normal. Kalau kami beda, selain karya perajin kami hargai lebih mahal, juga ada inovasi untuk meningkatkan nilai jual ke pasaran," paparnya.

Widie mengatakan, Kampung Papring Kreatif diisi oleh pemuda-pemuda Papring yang mulai mengangkat kembali potensi Kampungnya, mulai dari tanaman, kerajinan, sejarah kampung dan pengembangan SDM.

"Melalui video dokumen yang kami buat, kami juga mengkampanyekan penyelamatan hasil panen tanaman pokok masyarakat agar tidak langsung dijual ke tengkulak. Apalagi di masa Covid-19," ujarnya. (mdk/hhw)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5