Pemulihan Hutan Terdampak Erupsi Gunung Merapi Butuh Waktu Puluhan Tahun

Pemulihan Hutan Terdampak Erupsi Gunung Merapi Butuh Waktu Puluhan Tahun
Ilustrasi Gunung Merapi. ©2021 Merdeka.com/Instagram @bpptkg
PERISTIWA | 3 Maret 2021 09:29 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Pemulihan kerusakan kawasan hutan yang terdampak erupsi Gunung Merapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menilai restorasi membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk bisa kembali menjadi hutan sekunder hingga hutan sekunder tua.

"Pemulihan kerusakan hutan yang terdampak erupsi Gunung Merapi dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kerusakan. Ini membutuhkan waktu cukup lama hingga puluhan tahun," kata Kepala BTNGM Pujiati di Sleman, Rabu (3/3). Dikutip dari Antara.

Ia mencontohkan seperti pada kejadian erupsi besar Gunung Merapi pada 2010 yang berdampak sangat besar pula pada kerusakan hutan di lereng Merapi, karena wilayah yang terdampak cukup luas dan material vulkanis yang menerjang hutan juga sangat banyak.

"Pada erupsi Merapi 2010, wilayah yang terdampak cukup luas, dan dampak paling berat di kawasan hutan wilayah Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman," sambungnya.

Menurut dia, hutan yang terdampak material panas erupsi Gunung Merapi membutuhkan waktu lama untuk kembali pulih, mulai dari proses pertumbuhan semak belukar hingga kembali menjadi hutan sekunder membutuhkan waktu puluhan tahun.

"Rentang waktu satu hingga dua tahun pascaerupsi, semak belukar dan pertumbuhan jenis pionir dimulai, kemudian tiga sampai lima tahun pascaerupsi pertumbuhan jenis pionir mulai menutup area terbuka. Enam sampai 10 tahun pertumbuhan semak belukar dan vegetasi jenis pionir menjadi hutan sekunder," katanya.

Selanjutnya dari hutan sekunder menuju ke hutan sekunder tua membutuhkan proses yang cukup lama hingga sebuah hutan masuk dalam klasifikasi hutan primer.

"Proses pertumbuhan ini akan berlangsung hingga sekitar 25 tahun sampai menjadi hutan sekunder tua dan bertahap tergantikan oleh jenis subklimaks maupun klimaks kemudian menjadi hutan primer. Proses ini membutuhkan waktu lama bahkan hingga ratusan tahun, dengan catatan tidak terjadi gangguan lagi atau diterjang erupsi lagi," terang Pujiati.

Pujiati mengatakan, dalam upaya pemulihan hutan Merapi tersebut BTNGM telah melakukan penanaman di area bekas erupsi sejak 2011 di wilayah yang terdampak berat.

"Penanaman kembali menggunakan press block di area terdampak berat pada 2011 dan penanaman di area bekas erupsi untuk pengayaan jenis hutan pegunungan," lanjut dia.

Ia mengatakan, untuk dampak erupsi Gunung Merapi pada 2021 ini pihaknya belum melakukan evaluasi, karena saat ini aktivitas Merapi masih tinggi dan masih sering terjadi guguran lava maupun awan panas.

"Saat ini status Gunung Merapi masih pada level III atau siaga, aktivitas vulkanik masih tinggi. Nanti setelah aktivitas Merapi reda kami akan pantau kerusakan hutan yang terdampak dengan menggunakan pesawat tanpa awak (drone)," pungkasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Luncurkan Awan Panas Sejauh 1.900 Meter, Ini 3 Fakta Terbaru Aktivitas Gunung Merapi
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 1.900 Meter
Hingga Pukul 18.00 WIB, Gunung Merapi Tujuh Kali Meluncurkan Guguran Lava
Balai Taman Nasional Pantau Kerusakan Hutan Dampak Erupsi Gunung Merapi
Gunung Merapi Kembali Mengeluarkan Awan Panas Guguran Sejauh 1.900 Meter

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami