Penambangan Pasir Ilegal di Muara Sungai Opak Rusak Pertanian dan Hutan Mangrove

Penambangan Pasir Ilegal di Muara Sungai Opak Rusak Pertanian dan Hutan Mangrove
Warga Demonstrasi Tolak Tambang Pasir Ilegal di Muara Sungai Opak. ©2021 Merdeka.com/Purnomo Edi
PERISTIWA | 18 April 2021 22:03 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Warga di Kalurahan Srigading dan Tirtohargo, Kabupaten Bantul menggelar aksi demonstrasi menolak penambangan pasir ilegal di Muara Sungai Opak, Minggu (18/4). Puluhan warga dari dua kalurahan ini menggelar aksi sembari membakar sampah dan memasang belasan spanduk di lokasi pertambangan pasir ilegal.

Aksi demonstrasi ini merupakan respons atas rusaknya lingkungan dan lahan pertanian di muara Sungai Opak karena penambangan pasir ilegal.

Koordinator aksi, Setyo mengatakan penambangan pasir ilegal ini selama 5 tahun ini nekat melakukan aktivitas pertambangan di gumuk pasir. Padahal gumuk pasir ini merupakan pembatas antara Laut Selatan dengan Laguna Pantai Samas yang berada di muara Sungai Opak.

"Dampaknya lahan pertanian hilang karena terkena abrasi yang disebabkan hilangnya gumuk pasir karena penambangan pasir ilegal. Padahal gumuk pasir itu menahan laju air ke daratan menjadi rusak," kata Setyo.

Abrasi, kata Setyo dikhawatirkan merusak vegetasi tanaman. Selain itu sangat dimungkinan terjadinya intrusi air laut yang mempengaruhi kualitas air di permukiman warga.

Setyo menerangkan dampak lain dari penambangan pasir ilegal adalah banyak hutan mangrove yang mati akibat terseret arus muara Sungai Opak. Tak hanya itu, penambangan tersebut juga menyebabkan tempat bertelur penyu juga terancam punah.

Melihat banyaknya dampak kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir ilegal ini, sambung Setyo, warga pun sepakat melakukan penolakan. "Warga sepakat menolak penambangan pasir di muara Sungai Opak," tegas Setyo.

Sementara itu, Lurah Srigading, Prabowo Suganda menilai jika aktivitas tambang pasir saat ini tak terkontrol. Akibatnya banyak orang yang terdampak dan lingkungan pun terancam mengalami kerusakan.

“Ada hutan mangrove di wilayah ini, selain itu warga juga banyak yang bertani. Berbicara soal penghidupan memang mungkin para penambang harus melakukan itu untuk bertahan hidup. Tapi bukan berarti tak melihat sekitarnya yang juga berjuang hidup dengan cara bertani,” tutur Prabowo.

Sementara Lurah Tirtohargo Sugiyamto menyebut aktivitas pertambangan ilegal di muara Sungai Opak, merusak lingkungan. Selain itu ratusan hektar sawah di sekitaran Sungai Opak terancam.

"Kalau dibiarkan kita mau wariskan apa kepada anak cucu kita. Para konsumen yang membeli pasir pantai untuk membangun rumah pasti dalam waktu tidak lama bangunan akan hancur karena pasir pantai mengandung garam," tutup Sugiyamto. (mdk/gil)

Baca juga:
Polisi Buru Tiga DPO Kasus Penambangan Emas Ilegal di Parigi Moutong
Walhi Duga Penambangan Emas Ilegal di Aceh Barat Dibiarkan Aparat
DPRD Sulsel: Banyak Bermunculan Tambang Galian C Ilegal Minim Pengawasan
Ratusan Lubang Galian Emas Ilegal Ditemukan di Tasikmalaya
Pesawatnya Jatuh di Hutan Amazon, 36 Hari Dia Belajar Bertahan Hidup dari Monyet
Walhi Sebut Kerugian Akibat Penambangan Pasir di Sulsel Mencapai Rp 80,4 Miliar

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami