Peneliti Sebut Hasil Rapid Test Masih Harus Diuji PCR

Peneliti Sebut Hasil Rapid Test Masih Harus Diuji PCR
Kerabat Pasien Corona Depok. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho
NEWS | 21 Maret 2020 14:34 Reporter : Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Pemerintah saat ini sudah menerapkan rapid test atau tes cepat untuk mendeteksi seseorang terpapar virus corona (Covid-19). Menurut Reaserch Fellow, A-Star Singapore atau Peneliti Bioteknologi Samira Husen Alamudin tes tersebut belum terjamin keakuratan untuk menditeksi virus ada di dalam tubuh.

"Rapid tes ini mendeteksi anti bodi dalam tubuh, sehingga menghasilkan sebagai respon atas infeksi virus. Jadi tidak mendeteksi virus, tapi respon tubuh, nah respon tubuh ini antibodi, biasanya bisa dideteksi setelah 3 hari atau 7 hari setelah terinfeksi," kata Samira dalam diskusi dengan tema 'Covid-19 ujian kebersamaan kita' di Jakarta, Sabtu (21/3).

Dia mengatakan alat yang lebih akurat untuk mendeteksi virus corona yaitu dengan menggunakan PCR atau Polymerase Chain Reaction. Pemeriksaan tersebut, yaitu memeriksa spesimen dari swab tenggorokan dan mulut dapat lebih akurat mengetahui DNA virus dalam tubuh.

"Jadi kalau dilihat dari akurasinya PCR akurasi jauh lebih tinggi, butuh waktu," ungkap Samira.

Namun dia menilai, rapid tes tersebut baik digunakan untuk mendeteksi dini dengan hasil yang cepat. Dia mengatakan tidak sampai 10-15 menit, hasil sudah didapat.

Kemudian, dia juga menjelaskan pasien yang sudah mendapatkan hasil negatif dari rapid tes sebaiknya menunggu terlebih dahulu 7 sampai 10 hari ke depan. Selanjutnya, kata dia, jika hasilnya positif, pasien tersebut pun harus dipastikan kembali dengan PCR.

"Hasil rapid tes ini, "orang ini pernah terpapar" tapi terpaparnya kapan dan apakah virus ini masih aktif, ini harus dilakukan berkelanjutan," jelas Samira.

"Kalau positif, hasilnya 'oh tubuh orang ini pernah terinfeksi" tapi apakah orang ini sudah sembuh atau belum harus dideteksi dengan PCR," tambah Samira.

Tetapi dia menilai pemerintah Indonesia sudah mengambil langkah baik untuk melakukan hal tersebut. Namun masyarakat kata dia harus paham bahwa tes tersebut adalah bukan diagnosis.

"Ya ini langkah yang bagus, tetapi bukan untuk diagnosis tapi ini untuk screening awal. Jadi bagus," ungkap Samira. (mdk/rhm)

Baca juga:
Tangkal Corona, Jalan di Jakarta akan Disemprot Disinfektan Besok
Pemerintah Didesak Segera Distribusi APD Tenaga Medis Secara Merata ke Daerah
Cerita Dokter Spesialis Paru Kewalahan Hadapi PDP Covid-19 Tolak Gunakan Masker
Persiapan Pilkada di Tangsel Terkendala Wabah Virus Corona
Fokus Tangani ODP Covid-19, Puskesmas Pamulang Tidak Layani Pengobatan Umum
Waspada Covid-19, Bupati Jember Instruksikan Seluruh Guru Tidak ke Sekolah

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami