Penembakan 2 Orang di Nduga Papua, TNI Sebut Anggota KKB Kelompok Egianus Kogoya

Penembakan 2 Orang di Nduga Papua, TNI Sebut Anggota KKB Kelompok Egianus Kogoya
TNI di Papua. ©Puspen TNI
PERISTIWA | 22 Juli 2020 00:17 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Penembakan terhadap dua orang terjadi di Kabupaten Nduga, Papua diduga oleh anggota TNI. Insiden tersebut terjadi pada hari Sabtu, (18/7). Berdasarkan kronologi yang dihimpun Amnesty International Indonesia, penembakan terjadi sekitar pukul 15.00 waktu setempat.

Penelusuran Amnesty International menyebutkan kedua korban atas nama Selu Karunggu, anak laki-laki berusia 20 tahun dan Elias Karunggu, seorang ayah berusia 34 tahun. Mereka adalah penduduk sipil berstatus pengungsi pasca-peristiwa 2 Desember 2018 di Distrik Yigi, Nduga.

Keduanya diduga ditembak oleh oknum TNI saat hendak menuju ke Keneyam, Ibu Kota Kabupaten Nduga. Dan selama ini bertahan di hutan tempat pengungsian yang tidak layak. Banyak orang dilaporkan mati kelaparan di pengungsian tersebut.

Lokasi kejadian bertempat di kampung Masanggorak, pinggir sungai Keneyam, hanya berjarak setengah kilometer dari Kota Keneyam. Oknum TNI menembak kedua korban dari pos darurat mereka di pinggir sungai saat keduanya menyeberang sungai.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mendesak negara melakukan investigasi guna mengungkap kejadian tersebut. Dia meminta pelaku penembakan dua warga tersebut diproses hukum sesuai aturan di TNI.

"Kami mendesak adanya investigasi segera, menyeluruh, independen, transparan dan tidak berpihak," kata Hamid dalam keterangannya dikutip merdeka.com, Selasa (21/7)

"Meski berstatus militer, pelaku harus diadili di bawah jurisdiksi peradilan umum sesuai perintah UU TNI. Tidak cukup hanya disiplin internal maupun di pengadilan militer, karena ini bukan hanya pelanggaran disipliner, tapi merupakan tindak pidana dan pelanggaran HAM," tambah Hamid.

Hamid juga mendorong pemerintah memberikan rehabilitasi, restitusi, kompensasi dan jaminan perlindungan kepada keluarga korban. "Proses dan hasil investigasi harus dipublikasikan dan diberikan kepada keluarga korban dan masyarakat umum," tegas dia.

"Kami mendesak Pemerintah untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM yang kerap kali terjadi di Papua," kata Hamid.

Baca Selanjutnya: Terpisah Komando Gabungan Wilayah Pertahanan...

Halaman

(mdk/ray)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami