Penjelasan Produsen Soal Harga Masker Mahal Saat Corona

Penjelasan Produsen Soal Harga Masker Mahal Saat Corona
PERISTIWA | 8 April 2020 20:28 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Ketua Umum Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) Ade Tarya menjelaskan faktor penyebab harga masker bisa naik beberapa kali lipat dan menjadi mahal di pasaran. Penyebabnya tak lain mayoritas bahan baku hingga produk masker berasal dari luar negeri alias impor.

"Masker saja 30 persen produksi dalam negeri, 70 persen impor. Itu pun harga industri dalam negeri terintimidasi dengan harga impor dari China," kata dia dalam rapat virtual dengan Komisi IX, Rabu (8/4).

Tantangan produsen masker setelah merebaknya Covid-19 yakni melonjaknya harga bahan baku. Mengingat negara sumber, seperti China dan Taiwan mengutamakan penggunaan di dalam negeri.

"USD2,6 per kilogram menjadi USD80 per kilogram. China dan Taiwan mengutamakan penggunaan dalam negeri. Di sini diperlukan peran pemerintah melakukan komunikasi g to g (government to government)," ujar dia.

"Biaya operasional tinggi dengan overtime dan bahan baku tinggi, masker tadinya Rp30.000 menjadi Rp200.000 di pasaran.

1 dari 1 halaman

Minta Fasilitasi Dapatkan Bahan Baku

Karena itu, untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah perlu memfasilitasi para produsen alat kesehatan untuk mendapatkan bahan baku. Bila perlu pemerintah dapat memberikan subsidi bahan baku.

"Jadi kami harapkan pemerintah mengadakan bahan dan disubsidi. Apa mungkin kita jual seadanya dengan harga bahan baku yang tidak terjangkau produsen. Bantuan pemerintah soal bahan baku itu penting," ungkapnya.

Saat ini, pihaknya juga tengah melakukan kajian untuk dapat memproduksi ventilator. Kajian dilakukan dengan menggandeng perguruan tinggi dan BPPT. Pemerintah diharapkan dapat membantu dari segi relaksasi izin edar, jika nantinya ventilator yang diproduksi memang layak untuk digunakan.

"Ventilator, Aspaki, bekerja sama dengan UI, UGM, BPPT. Pemerintah buat relaksasi izin edar. Industri yang elektromedik akan merealisasikan memproduksi ventilator dalam waktu cepat. Kita tidak melakukan pengujian seperti izin edar, tapi pengujian di rumah sakit apakah bagus, kemudian diproduksi dan diedarkan," tandasnya. (mdk/eko)

Baca juga:
Penjualan Masker Kain Meningkat di Tengah Pandemi Corona
Cegah Virus Corona, Ini 4 Cara Kelola Sampah Masker Medis yang Benar dan Aman
Turki Bagikan Masker Gratis untuk 82 Juta Penduduk, Diantar Tukang Pos
Tokoh Banggai Haji Amir Bagikan Masker dan APD Bantu Perangi Corona
Mulai 12 April, Penumpang di Jember Tidak Pakai Masker Dilarang Naik Kereta
Kabareskrim Minta Dinkes Dampingi UMKM Produksi Masker

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami