Penjelasan Psikolog Soal Penembakan Mantan Pacar di Duren Sawit

PERISTIWA | 14 Agustus 2019 20:05 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Polisi telah menangkap Eki Yunianto (27), pelaku penembakan terhadap mantan pacarnya yakni Widya Lestari (23) kekasihnya Muhammad Ramli Abdul Muis (23). Ia ditangkap oleh warga sekitar di lokasi kejadian setelah beberapa menit melakukan penembakan di Banjir Kanal Timur (BKT), Malaka, Jakarta Timur, pada Minggu (11/8).

Eki yang nekat menembak Widya sebagai mantan pacarnya itu dan Ramli sebagai kekasih baru Widya. Lantaran, masih belum terima dengan putusnya hubungan Eki sebagai pacar Widya.

Menurut Psikologi Forensik Reza Indragiri menilai 'wajar' saja tindakan yang dilakukan oleh Eki. Karena, apa yang dilakukan oleh Eki sangatlah tindakan yang ada dalam diri seseorang.

"Tanda petik wajar ya, karena saya pikir situasinya kan tertuang dalam teori klasik yang namanya teori frustrasi agresi. Jadi diputus oleh pacar merasa frustasi dan caranya untuk mengatasi memang secara teoritis bisa dilakukan secara agresif atau perilaku kekerasan. Tinggal dilihat, kekerasannya terarah kepada diri sendiri atau ke objek eksternal, dalam hal ini adalah si pacar orang yang mutusin dia," kata Reza saat dihubungi merdeka.com, Rabu (14/8).

Reza menjelaskan, penggunaan senjata oleh Eki dinilai sebagai faktor yang menyebabkan dia berani bertindak atau berbuat aksi kejahatan. Hal itu ia katakan berdasarkan adanya teori efek senjata, yang memang sangat berbahaya bila seseorang sudah memegang senjata.

"Senjata itu bisa melipatgandakan perasaan negatif manusia, jangankan ada perasaan negatif, tanpa perasaan negatif pun orang yang punya atau pegang senjata, bisa sewaktu-waktu menggunakan senjatanya tanpa didahului oleh niat sama sekali," ujarnya.

Meski hal tersebut dinilai wajar, tetapi apa yang dilakukan oleh Eki harus dipertanggungjawabkan secara hukum. Terlebih, tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh Eki telah mengancam nyawa Widya dan Ramli.

"Munculnya perasaan frustasi, sedih dan putus asa campur amarah itu sesungguhnya adalah dinamika psikologis yang sangat manusiawi, ada catatan faktor yang menyebabkan kesedihan manusia itu karena privasi. Kehilangan sesuatu yang dicintai dan disayangi, baik itu barang maupun manusia," tegasnya.

"Tetapi untuk mengatakan bahwa itu dinamika yang manusiawi, perasaan itu manusiawi, tidak menutup kemungkinan, kemudian ditafsirkan membenarkan tindakannya itu tidak, perasaannya manusiawi tapi tindakannya mesti dipertanggungjawabkannya secara pidana, karena salah," sambungnya.

Sebelumnya, sepasang kekasih menjadi korban penembakan senapan angin di Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu 11 Agustus 2019. Diduga, pelaku merupakan mantan kekasih korban yang cemburu.

"Sedang dicek Kapolsek Duren Sawit di rumah sakit. Info sementara karena cemburu," kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes Pol Edy Wibowo melalui pesan singkat, dikutip dari Antara.

Menurut dia, pelaku menembak korban menggunakan senapan angin. Namun kronologi kejadian maupun identitas pelaku masih dalam pengecekan petugas di lapangan.

Dari informasi yang dihimpun, korban diketahui bernama Ramli (23) dan kekasih perempuannya bernama Widya.

Dari informasi tim medis Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur, Ramli menderita luka tembak peluru mimis di bagian paha dan luka di kepala akibat hantaman benda keras. Sementara Widya menderita luka tembak di perut.

Insiden itu terjadi di kawasan Malaka, Duren Sawit, Jakarta Timur pada Minggu sore.

"Pelakunya mantan kekasih saya. Dia tidak terima diputusin sama Widya. Dia cemburu saat melihat saya dan Widya jalan bareng," kata Ramli di ruang Instalasi gawat darurat RS Islam Pondok Kopi.

(mdk/eko)

TOPIK TERKAIT