Penjelasan Said Aqil Soal Imam dan Khatib Selain dari NU Salah Semua

PERISTIWA | 28 Januari 2019 19:39 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj menjelaskan maksud pernyataannya khatib, imam selain dari NU salah semua. Said Aqil mengatakan, pernyataannya itu sebetulnya bermaksud untuk mengkritik khatib-khatib yang menyiarkan agama dengan nada kebencian hingga umat terprovokasi.

"Khatib sekarang baca Qur'annya plentang-plentong. Makanya saya bilang kemarin khatib kalau bukan dari NU itu salah semua," ucap Said saat memberikan sambutan di Rakornas Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Se Indonesia di Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (28/1/2019).

Dia menuturkan, jika menjadi khatib, tidak boleh membuat orang menjadi marah atau bersedih. Apalagi diprovokasi.

"Khotbah disedih-sedihkan sampai nangis, enggak boleh, engggak baik. Khotbahnya diprovokasi, marah, enggak baik. Tanya Rais Aam (PBNU) sah mboten? Caci maki orang," kata Said.

Dia menuturkan, perkataan tersebut ditegur oleh Sekjen MUI. Namun, dirinya menegaskan itu bukan ranahnya. Namun, itu disampaikannya dengan guyonan khasnya.

"Sekjen MUI meminta saya mencabut ungkapan saya kemarin itu. Saya atau NU bukan bawahan majelis ulama. Bukan bawahan majelis ulama. Gak ada hak perintah-perintah saya. Majelis ulama adalah forum silaturahim bukan induknya NU. Paham mboten? Mbok sekali-kali kayak saya gitu lho nekat. Ketua PBNU harus nekat, enggak boleh takut sama siapa pun. Kecuali sama istri saya. Itu pun kadang-kadang engggak terus-terusan," katanya.

Soal pernyataannya itu menjadi kontroversi, Said Aqil kembali menegaskan, bahwa di NU tidak ada yang khotbahnya memprovokasi.

"Kalau imamnya bukan dari NU, dikhawatirkan radikal khotbahnya, provokasi, mencaci maki. Yakin itu bukan NU, saya jamin bukan NU. NU enggak caci maki, Seperti (masjid) Sunda Kelapa, Istiqlal, enggak ada itu. Karena dipegang oleh NU," kata dia.

Dia pun tak masalah jika ada ormas lain, yang mempertanyakan kembali pernyataannya. "Boleh-boleh saja," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam acara hari jadi Muslimat NU ke 73 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Said Aqil menuturkan, baik NU secara keseluruhan maupun Muslimat mempunyai peran di tengah-tengah masyarakat.

Dengan gaya khasnya yang selalu menggunakan canda, dia menegaskan, salah satunya yang dipegang adalah di bidang agama. Menurutnya, jika tak dipegang NU, menjadi tidak pas.

"Peran agama, harus kita pegang. Misalnya, Imam masjid, khatib-khatib, KUA-KUA, Kantor Urusan Agama, harus dari NU. Kalau dipegang selain NU, salah semua," ucap Said Aqil di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Dia juga menuturkan, saat ini juga harus banyak peran yang dimainkan oleh NU. Baik itu di bidang ekonomi, budaya, sampai masalah kesehatan. Termasuk soal akhlak.

"Agar apa? Agar kita berperan di tengah-tengah masyarakat," jelas Said Aqil.

Dia mencontohkan, karena selama ini sebenarnya Muslimat diisi oleh tokoh-tokoh ternama. Dan harus muncul lebih banyak lagi untuk masyarakat.

"Membentuk organisasi, umat (harus) yang keren, yang berperan, dan umat yang berkualitas. Muslimat keren tidak? Hebat tidak? Berperan?" tukasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra
Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Saiq Aqil Sebut NU 2019 Harus Menang, Khofifah Bilang Itu Buat Ma'ruf Amin
PBNU Harap Revisi UU Pesantren Tidak Ganggu Independensi
Said Aqil: Kalau Kelas Menengah Kuat, Hoaks Enggak akan Laku
Ketum PBNU Setuju Pembebasan Abu Bakar Ba'asyir
Datangi Istana, 14 Ormas Islam Doakan Jokowi Menang Pilpres 2019
Said Aqil: Selamat Datang Pak Jokowi, Presiden RI Tahun 2019-2024
Said Aqil: Imam Masjid, Khatib, KUA Harus Dari NU, Kalau Tidak Salah Semua

(mdk/gil)