Penonton: Saya Saksikan Aparat Seragam Hitam-Hitam Pertama Kali Tembak Gas Air Mata

Penonton: Saya Saksikan Aparat Seragam Hitam-Hitam Pertama Kali Tembak Gas Air Mata
Suasana kericuhan di laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. ©2022 REUTERS TV
NEWS | 5 Oktober 2022 13:33 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, masih membekas diingatan Fu seorang Aremania. Dia saat itu hadir menyaksikan tim kesayangan berlaga dengan Persebaya dari tribun VIP.

"Saya saksikan waktu itu karena saya di VIP saya ikut bantu pihak penyelenggara untuk pengamanan," kata Fu menceritakan kepada rekan-rekan NGO secara langsung seperti dikutip dari akun YouTube Yayasan LBH Indonesia, Rabu (5/10).

Fu menolak penggunaan diksi kericuhan untuk menggambarkan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Menurut dia, bahasa kericuhan lebih tepat jika peristiwa terjadi akibat ulah adanya suporter tamu atau suporter tuan rumah.

Sedangkan, suporter lawan sepakat tidak hadir pada pertandingan Arema melawan Persebaya 1 Oktober 2022 kemarin. "Dari pihak tamu tidak menghadirkan suporter dari Surabaya. Ini sebenarnya bukan kerusuhan tapi ini adalah insiden," ujar dia.

Fu menerangkan, tragedi di Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang lebih tepatnya insiden kelalaian dari semua pihak. Terutama, menurut dia dari Kesatuan Brimob.

"Yang saya tahu pihak brimob tidak bisa menahan diri," ujar dia.

2 dari 3 halaman

Fu sebagai pencinta bola sejati paham betul regulasi FIFA pada Pasal 19 terurai penjelasan bahwa pihak keamanan tidak boleh masuk ke dalam stadion dengan membawa senjata api dan senjata gas air mata.

"Saya lihat cara pandang sebagai seorang suporter bahwa membawa saja tidak boleh apalagi ditembakkan. UU Regulasi FIFA berlaku untuk semua negara," ucap dia.

Faktanya, aparat Brimob bukan saja membawa masuk senjata gas air mata tapi turut ditembakkan secara membabi buta. Fu menyaksikan dengan kepala dan mata sendiri.

Ia sedang berada di bangku VIP. Aparat berseragam hitam-hitam pertama kali menembakkan gas air mata ke arah lapangan bola utara.

"Penembakan pertama, kedua, ketiga ke daerah area sentel band. Jadi tidak masuk ke tribun penonton," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Fu mengaku heran tembakan gas air mata tak membuat gentar penonton meninggalkan kursi penonton. Lagi-lagi aparat berseragam hitam-hitam melepaskan tembakan gas air mata. Namun, kali ini ke arah tribun selatan.

"Karena apa? Karena ada beberapa suporter dari gawang turun mungkin maksudnya membantu kawan-kawan yang ada di utara karena telah terjadi penembakan gas air mata yang membabi buta," ujar dia.

Namun, mirisnya kali ini tembakan yang diarahkan ke arah selatan tak lagi ke sentel band tapi langsung ke tribun penonton.

"Itu yang sayangkan dari pihak mereka, mereka menembak ke dalam tribun duduk penonton selatan dua kali, tiga kali," ujar dia.

Fu mengatakan, aparat TNI juga turut berada di lokasi. Namun, sepandangan matanya, yang melepaskan tembakan gas air mata hanyalah aparat yang mengenakan seragam hitam.

"Saya tidak pernah melihat anggota TNI menembak gas air mata. Saya tahu tembak ke utara, dan selatan itu dari Brimob," tandas dia.

Reporter: Ady Anugrahadi
Sumber: Liputan6.com.

(mdk/tin)

Baca juga:
Panglima Jelaskan Protap TNI Amankan Sepak Bola: Kita Lapisan Keempat, Brimob Ketiga
Panglima Ungkap Pemeriksaan 5 TNI soal Tragedi Kanjuruhan: 4 Mengaku Serang Suporter
Liga Indonesia Dihentikan Pasca Tragedi Kanjuruhan, Begini Respons PSMS Medan
Fakta-Fakta Tragedi Kanjuruhan Berdasarkan Temuan Kompolnas
Disorot Media Asing, Potret Ventilasi Dijebol Penonton Demi Keluar dari Kanjuruhan

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini