Penyelundupan 172 Taring Beruang Madu di Pekanbaru Digagalkan

PERISTIWA | 8 Mei 2019 22:29 Reporter : Abdullah Sani

Merdeka.com - Balai Karantina Pertanian Kelas I Pekanbaru menggagalkan upaya penyelundupan 172 taring beruang madu. Taring itu milik 43 satwa liar beruang atau nama latin Helarctos malayanus, hanya untuk diambil giginya.

Kepala Balai Karantina Kelas I Pekanbaru, Rina Delfi mengatakan 172 taring satwa dilindungi tersebut ditemukan Petugas Aviation Security Terminal Kargo Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, beberapa waktu lalu. Taring itu terdeteksi petugas Avsec saat pemeriksaan alat deteksi X Ray.

"Taring itu dikemas rapi dalam sebuah paket, bertuliskan berisi makanan. Setelah dibuka, ternyata isinya gigi atau taring hewan beruang madu yang dikirim tanpa dokumen karantina, selanjutnya petugas AVSEC menyerahkan kepada petugas Karantina Pertanian Pekanbaru," ujar Rina, saat konferensi pers, Rabu (8/5).

Paket itu dibungkus dalam kardus berukuran 26x20x14 cm dikirim dari Pekanbaru tujuan Jakarta Barat melalui jasa ekspedisi. Paket itu berisi 172 gigi taring hewan, masing-masing dikemas dalam plastik kecil berisikan 4 buah gigi.

Kemudian petugas Karantina Pekanbaru melakukan indentifikasi awal morfologi dan mencurigai bahwa gigi taring tersebut adalah gigi taring beruang madu. "Tapi terlebih dahulu harus dilakukan uji lebih jauh untuk memastikan jenis gigi satwa tersebut," jelasnya.

Pemeriksaan juga dilakukan ke Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor. Berdasarkan Surat Hasil Pengujian dari LIPI No.B-1540/2019 menyimpulkan bahwa sampel gigi yang dikirim memiliki kesamaan morfologi dengan spesimen acuan. "Hasilnya, ternyata benar itu gigi taring beruang madu," imbuhnya.

Struktur anatomi bagian dalam gigi sampel sesuai dengan struktur anatomi gigi pada umumnya yaitu terdapat dentin dan celah pulpa. Delapan sampel gigi memendarkan warna kehijauan saat disinari oleh sinar UV sehingga dipastikan mengandung fosfor seperti pada umumnya. Selain itu, struktur mikroanatomi yang tampak saat diamati menggunakan scanning electron microscope dimana terdapat pertemuan antara akar gigi dengan email.

Pengiriman gigi taring beruang madu tanpa sertifikat kesehatan dari karantina ini melanggar Undang-Undang RI No.16/1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan serta PP No.82/2000 tentang Karantina Hewan.

Bahwa dalam pasal 6 UU tersebut menjelaskan bahwa setiap media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK) yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia wajib dilengkapi sertifikat kesehatan dari daerah asal bagi hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan.

Melalui tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan serta dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran untuk dilakukan tindak karantina. Pengiriman gigi ini juga tanpa dilengkapi dokumen Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN) dari BBKSDA Riau.

Kepala Bidang Teknis BKSDA Riau, Mahfudz menyebutkan potensi konflik manusia dan satwa dilindungi, seperti beruang cukup tinggi di Riau. Bahkan sejumlah satwa lainnya seperti harimau, gajah dan harimau juga kerap terjadi.

Seluruh barang bukti taring itu bukanlah bagian dari konflik yang terjadi melainkan jelas aksi pembantaian massal. "Makhluk hidup yang sebetulnya menjaga keseimbangan, tetapi kita sebagai manusia ada yang merasa lebih kuat," katanya.

Mahfuz berharap pengungkapan kasus ini dapat menjadi pintu masuk agar pengawasan satwa dapat dilakukan sebaik mungkin. Sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali.

"Kita berupaya selamatkan makhluk lain khususnya hewan dilindungi yang terancam punah," terangnya.

Baca juga:false
Penyelundupan 8 Boks Daging Penyu ke Bali Digagalkan
Luhut Minta Menteri Susi Ubah Aturan Penjualan Benih Lobster
Gubernur Minta Bayi Komodo yang Dijual Ke Luar Negeri Dipulangkan ke NTT
Petugas Bandara Soekarno-Hatta Gagalkan Penyelundupan Bibit Lobster Rp 1,4 Miliar
Gubernur NTT Geram Komodo Diselundupkan: Ini Menunjukkan Indonesia Gagal Jaga TNK
Penyelundupan Benih Lobster senilai Rp 11 Miliar ke Singapura Digagalkan

(mdk/noe)