Penyerangan Tim Satgas Karhutla Polisi & TNI di Jambi, 45 Orang Diciduk

PERISTIWA | 18 Juli 2019 19:19 Reporter : Lia Harahap

Merdeka.com - Polisi mengamankan 45 orang terkait penyerangan terhadap anggota Satgas Karhutla Terpadu saat melakukan pemadaman di area okupansi, Tanjung Jabung Barat, Jambi, pada Jumat (12/7) pekan lalu.

"Update terbarunya 45 pelaku sudah diamankan dan masih didalami," kata Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Kuswahyudi Tresnandi saat dihubungi merdeka.com, Kamis (18/7).

Menurutnya, kasus itu merupakan konflik lahan terkait pendudukan lahan dan terjadi pembakaran lahan. Saat petugas melakukan pemadaman agar tak menyebar ke daerah lain, massa tidak terima.

Penyerangan itu menyebabkan 3 prajurit TNI dan 2 petugas kepolisian yang tergabung dalam satgas tersebut mengalami luka. Beruntung, kondisinya hanya luka ringan dan sudah sehat.

Pascakejadian tersebut, lanjut Kuswahyudi, tidak ada pengamanan tambahan terhadap tugas. "Tidaklah itu karena di daerah konflik, kalau di tempat lain aman," tegasnya.

Untuk diketahui, pada Sabtu 13 Juli 2019 sekitar 60 orang dari kelompok SMB merangsek masuk ke Distrik VIII untuk mencari tim pemadam yang memadamkan api.

Pada saat kedatangan kelompok itu, anggota satgas monitoring Karhutla Korem dan Anggota Polri melihat adanya kemungkinan kelompok tersebut melakukan lagi pembakaran lahan karena membawa senjata rakitan dan senjata tajam dan alat-alat lainnya.

Tim yang berusaha melakukan komunikasi untuk mencegah dan menghimbau kelompok tersebut dan bahwa pembakaran dapat berdampak luas, namun kelompok tersebut tidak menerima dan melakukan pemukulan terhadap anggota TRC Damkar dan karyawan PT WKS yang ada di lokasi.

"Pemukulan SMB tersebut juga mengenai dua orang personel Satgas Monitoring Karhutla Rem 042/Gapu yang mengakibatkan lebam dan lecet," kata Danrem, Elphis Rudy yang juga Dansatgas Karhutla Jambi.

Danrem 042/Gapu juga mengatakan bahwa salah satu tugas tim dalam siap siaga Karhutla adalah menjamin dan menjaga masyarakat Jambi bebas dari bencana karhutla, dan kami berkomitmen untuk itu.

"Namun masih ada segelintir orang yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan sengaja membakar lahan," kata Danrem.

Dia juga sangat menyesalkan kejadian ini, personel saya yang sudah berjibaku melawan ancaman kebakaran hutan dan lahan justru ikut diperlakukan tidak semestinya.

Kelompok SMB ini telah melakukan tindakan kriminalisme dan premanisme. Mereka sengaja membakar lahan padahal sudah dilarang dengan Perda dan Pergub.

Pembakaran ini bila dibiarkan dapat menjadi bencana kebakaran bagi Jambi, mereka juga menggunakan senjata rakitan ilegal untuk melukai orang, dan dilarang karena bisa mematikan.

Mereka juga memprovokasi, mengintimidasi dan menganiaya masyarakat dan berani menyerang aparat yang tidak bersenjata dan hukum harus ditegakkan ini tidak bisa dibiarkan, kata Danrem Eplhis Rudy.

Sebelumnya kelompok SMB bentrok dengan pemilik IUP HTR di Desa Belanti Jaya, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari Jambi dan menganiaya kepala desa, kali ini justru menyasar terhadap Satgas Terpadu Karhutla yang baru memadamkan kebakaran lahan di area tersebut.

Baca juga:
Tujuh Desa di Kapuas Hulu Kalbar Rawan Karhutla
Kebakaran Lahan di Sumsel Kembali Terjadi, Pemadam Kesulitan Cari Air
BNPB Sebut Kekeringan Berpotensi Picu Kebakaran Hutan dan Lahan
Cerita Prajurit TNI AD Lewati 'Medan Barat' Patroli Karhutla ke Pelosok Hutan TNTN
Hingga Juli, Lahan di Aceh yang Terbakar seluas 221 Hektare
Hari Ini, Hotspot di Sumsel Terpantau Ada 9 Titik
3 Hektare Lahan PTPN dan Semak Belukar di Ogan Ilir Terbakar

(mdk/lia)

TOPIK TERKAIT