Penyuap Eks Panitera Pengadilan Negeri Jakpus Diduga Pernah Minta Bantuan Nurhadi

Penyuap Eks Panitera Pengadilan Negeri Jakpus Diduga Pernah Minta Bantuan Nurhadi
PERISTIWA | 6 Agustus 2020 07:07 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Plt Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ali Fikri mengatakan, pihaknya melakukan pemeriksaan Doddy, seorang terpidana kasus suap mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution. Tujuannya untuk menggali keterangan Doddy selaku saksi untuk tersangka Nurhadi dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait perkara di Mahkamah Agung (MA) tahun 2011-2016.

"Penyidik mendalami pengetahuan saksi (Doddy) terkait dengan penanganan perkara yang diduga pengurusan perkara tersebut akan dibantu oleh tersangka NHD (Nurhadi) dengan kesepakatan pemberian uang," katanya saat dikonfirmasi, Rabu (5/8) malam.

Sebagai informasi, sebelum menjadi narapidana, Doddy adalah karyawan PT Artha Prayama Anugrah, anak usaha Lippo Group. Doddy dihukum 4 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor pada 14 September 2016 karena menyuap Edy sebesar Rp 150 juta demi meringankan hukumannya.

Selain Doddy, lanjut Ali, KPK juga memeriksa saksi lain bernama Irawati yang berstatus sebagai ibu rumah tangga. Menurut Ali, penyidik mengonfirmasi apakah bena terdapat aliran uang Nurhadi kepada Irawati.

"Penyidik mengkonfirmasi keterangan saksi terkait dengan dugaan aliran uang kepada tersangka NHD," ujarnya.

Nurhadi adalah aktor utama dalam kasus ini. Eks sekretaris Mahkamah Agung itu sempat buron dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi penanganan perkara di Mahkamah Agung (MA). KPK berhasil membekuknya pad awal Juni 2020, setelah pintar bersembunyi sejak awal tahun ini.

Ada tiga perkara yang menjerat mantan dia. Pertama perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara, kedua sengketa saham di PT MIT, dan ketiga gratifikasi terkait dengan sejumlah perkara di pengadilan periode 2011-2016.

Melalui menantunya, Rezky Herbiono yang juga tersangaka dan telah ditangkap, Nurhadi diduga bersalah menerima uang suap dengan total Rp 46 miliar dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto (HS) yang juga berstatus tersangka dan masih buron sejak Februari 2020.

Reporter: M Radityo
Sumber: Liputan6.com (mdk/fik)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami