Perbolehkan Hajatan, Pemkot Solo Hanya Larang Hiburan Musik

Perbolehkan Hajatan, Pemkot Solo Hanya Larang Hiburan Musik
PERISTIWA | 28 September 2020 19:00 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Solo kembali mengeluarkan peraturan terkait kegiatan warga saat pandemi Covid-19. Sejumlah perubahan dan pembatasan kembali dilakukan seusai maklumat Kapolri, demi untuk pencegahan penyebaran virus corona. Diantaranya terkait penyelenggaraan hajatan, baik yang diadakan di gedung pertemuan maupun di hotel.

Jika sebelumnya, penyelenggaraan hajatan diperbolehkan menggunakan hiburan musik, mulai hari ini Pemkot Solo melarangnya. Namun untuk tarian tradisional yang tidak menggunakan iringan musik secara langsung masih diperbolehkan.

"Untuk hajatan masih tetap diperbolehkan, sesuai dengan surat edaran Gugus Tugas, jumlah tamu maksimal 50 persen dari kapasitas. Kalau lebih dari 50 persen, kita bubarkan," kata Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo (Rudy), Senin (28/9).

Menurutnya, kesehatan harus tetap dikendalikan dan menjadi prioritas utama, namun demikian roda ekonomi juga tetap bisa dijalankan. Selain membatasi jumlah tamu, Pemkot Solo juga mengatur tentang adanya hiburan atau pertunjukan musik saat hajatan.

"Jadi perlu kami sampaikan, di hotel juga sama, kalau ada hajatan tidak boleh menggunakan musik. Kalau tari Gambyong boleh, yang tidak ada dorpletnya," tegasnya.

Ketua Gugus Tugas Covid-19 Kota Solo, Ahyani menambahkan, kegiatan hajatan di gedung pertemuan ataupun di hotel masih tetap diperbolehkan. Namun tetap dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Tim Gugus tugas, dikatakannya, akan memonitor kegiatan tersebut. Jika tidak sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ditentukan, akan di ambil tindakan.

"Untuk teman-teman yang mengadakan hajatan, batasan waktu tetap 2 jam, tidak boleh lebih.Untuk jumlah tamunya maksimal hanya 50 persen. Untuk gedung yang kapasitasnya besar seperti Graha Saba, Alila, Sunan dan lainnya, itu maksimal hanya 600 tamu," ujarnya.

Untuk hiburan tarian, lanjut Sekda kota Solo ini, meski diperbolehkan namun harus tetap menaati protokol kesehatan. Namun untuk tarian semacam Gatotkaca Gandrung yang memerlukan kontak fisik, tetap tidak diperbolehkan.

Sejumlah wedding organiser (WO) menanggapi positif peraturan baru Pemerintah Kota Solo tersebut. Seperti disampaikan pemilik WO Samaradana Organizer, asal Serengan, Solo, Anna Marita.

"Sebagai WO, kami sebisa mungkin mengikuti aturan yang dibuat pemerintah tersebut, sembari mencari solusi untuk alternatif pengganti hiburan," ujar Anna, kepada merdeka.com.

"Bagi kami, yang utama adalah keselamatan dan kenyamanan semua pihak. Sehingga penerapan protokol kesehatan harus dipatuhi bersama," tutupnya. (mdk/fik)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami