Peredaran beras plastik dituding buat hambat beras analog

Peredaran beras plastik dituding buat hambat beras analog
Beras Palsu. ©instagram.com/dewinurizza
PERISTIWA | 31 Mei 2015 09:48 Reporter : Efendi Ari Wibowo

Merdeka.com - Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan merebaknya isu beras plastik saat ini merupakan upaya untuk menghambat pengembangan beras analog. Padahal, sejumlah perguruan tinggi sedang berusaha mengembangkan beras analog tersebut.

"Saat ini sejumlah lembaga riset dan perguruan tinggi sedang mengembangkan beras analog, sebagai upaya meningkatkan keanekaragaman pangan di Indonesia," kata Enny ketika ditemui di Jakarta, Minggu (31/5).

Beras analog, ujarnya, merupakan bahan pangan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip dengan padi namun dibuat dari berbagai jenis umbi-umbian, sehingga layak dan aman untuk dikonsumsi.

Kata dia, riset tersebut sudah cukup berhasil dan apabila dapat dikembangkan dengan skala besar maka bisa menyokong suplai kebutuhan pangan nasional.

Oleh sebab itu, ia pun menyangsikan motif isu tersebut berlandaskan motif ekonomi, mengingat biaya produksi beras plastik jauh lebih mahal daripada mengolah beras.

"Kalau motifnya ekonomi, gampangnya kita beli barang murah tapi kita jual mahal. Tapi di kasus ini tidak, jadi ini lebih mungkin jika ada tujuan lain," tukas Enny seperti dilansir Antara.

Terkait dengan riset tersebut, ia menilai saat ini ada sejumlah pihak yang berupaya menghalangi pengembangan jenis bahan pangan tersebut dengan tujuan menimbulkan penolakan di tengah masyarakat.

"Kalau sudah masuk pasar, bisa mengurangi ketergantungan beras. Tapi ini juga jadi ancaman bagi pihak yang tidak setuju. Dengan adanya isu beras plastik, masyarakat justru risau. Mereka tidak bisa membedakan beras sintetis dan analog," tukasnya.

Apabila isu beras plastik tersebut telah berhasil diterima masyarakat, tuturnya, maka para peneliti atau pihak yang mendukung program tersebut akan sangat sulit melakukan sosialisasi.

"Karena kan masyarakat tahunya ini bukan beras asli (padi), jadi mereka tidak tahu apakah ini aman untuk dimakan atau tidak. Jika sudah begitu, perguruan tinggi pun akan susah untuk menyampaikan ke masyarakat," pungkas dia. (mdk/efd)

Baca juga:

Kabareskrim: Dewi penemu beras plastik cuma diperiksa, tak dipidana

Hasil lab beras plastik Sucofindo dan BPOM beda, siapa benar?

Aceh aman beras sintetis, cukup hingga Oktober

Sudah 7 jam lebih, Dewi penemu beras plastik masih diperiksa polisi

Kasus beras plastik, wartawan pun diperiksa polisi

Menteri Rini tak yakin hasil uji beras plastik Sucofindo

Hasil laboratorium beras plastik positif, Sucofindo diperiksa polisi

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami