Perjuangan Emu Melawan HIV/Aids Meski Divonis Dokter Sisa Hidup 3 Hari

Perjuangan Emu Melawan HIV/Aids Meski Divonis Dokter Sisa Hidup 3 Hari
ADHA asal NTT Welhelmus Eduardus Nahak alias Emu. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 14 Oktober 2021 03:01 Reporter : Ananias Petrus

Merdeka.com - Nasib seseorang tidak ada yang bisa menentukan. Begitu pun hidup dan mati bagi manusia adalah rencana Tuhan Yang Maha Esa. Welhelmus Eduardus Nahak alias Emu (48) merupakan salah satu Orang Dengan HIV/Aids (ODHA), yang masih bertahan hidup.

Awalnya pada tahun 2010 lalu, saat menderita HIV dan dirawat dua pekan di rumah sakit, Emu divonis dokter hanya bisa bertahan hidup tiga hari.

Dua pekan dia berjuang melawan virus tersebut. Dukungan dari istri dan anak sulungnya menjadikan ayah tiga anak ini bisa melewati masa kritis, dan bisa bertahan hidup hingga saat ini, walaupun harus mengkonsumsi obat seumur hidup.

Pengalaman menjadi ODHA menjadikannya motivasi untuk menjadi konselor dan motivator bagi orang lain yang bernasib sama dengannya.

Ditemui di kediamannya di Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Emu yang saat ini aktif sebagai relawan penanggulangan bencana alam (Tagana) NTT ini mengaku, kehidupan bebas yang dijalani menjadikannya menderita HIV/Aids.

Saat menikah pada tahun 1996 lalu, ia masih sehat walafiat hingga memiliki tiga anak. Namun karena kehidupan yang kurang terkontrol maka ia pun terkena virus HIV.

Saat masuk rumah sakit, bukan saja menderita HIV, namun ada pula penyakit lain yakni TB Paru. Ia pun nyaris lumpuh dan tak berdaya dengan sakit yang diderita saat itu. Hal ini menjadikannya putus harapan dan drop.

Dua minggu menjalani perawatan dan adanya vonis dokter menyatakan kalau ia hanya bisa bertahan hidup tiga hari lagi, sempat membuatnya cemas dan tak berdaya.

Namun ia bersyukur mendapat dukungan penuh dari istri serta anaknya, yang dengan setia merawat dan memperhatikannya. Hingga dua pekan terlewati dan ia mulai sembuh.

Dia bisa kembali ke rumah dengan sejumlah resep dokter. Ia juga harus mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya. "Harus telaten dan tertib konsumsi obatnya," kata Emu, Rabu (13/10).

Ia pun berkeyakinan bahwa ODHA bisa hidup asalkan ada kemauan dan motivasi untuk sehat dan hidup.

"Banyak yang tidak percaya bawa ODHA bisa hidup sehat kembali. Saya sudah 11 tahun hidup pasca terinfeksi HIV dan tetap bisa beraktivitas," ujarnya.

Berbekal penderitaan dan pengalaman menjadi ODHA, Ia pun mendirikan LSM Perjuangan sebagai rumah singgah bagi ODHA. Sebelumnya selama tiga tahun ia menjadi relawan pada LSM Flobamor Jaya Peduli, LSM yang juga peduli pada ODHA.

Namun sejak 14 Februari 2014 lalu, ia menggagas pendirian LSM Perjuangan setelah ia kembali mengikuti pelatihan konselor di Yogyakarta, dan sempat memeriksakan kesehatannya di rumah sakit serta dinyatakan sehat, walaupun tetap mengkonsumsi obat-obatan karena secara medis belum ada obat yang menyembuhkan HIV/Aids.

LSM Perjuangan yang dirintisnya mendampingi dan merawat sejumlah warga yang terkena HIV, serta merupakan penderita AIDS.

Ia menyadari banyak ODHA yang cenderung tertutup dan tidak terbuka akan keadaannya kepada keluarga dan lingkungan. Padahal, keterbukaan sangat penting sehingga ada dukungan keluarga dan lingkungan.

Menurut Emu, tingginya penderita AIDS yang meninggal beberapa waktu lalu karena para penderita cenderung menutup diri dan tidak terbuka sehingga sulit dirawat.

Emu juga menepis anggapan kalau orang terinfeksi HIV/Aids karena pergaulan bebas dan menikmati dunia malam. Namun anggapan tersebut dianggap keliru, karena kebanyakan ODHA adalah ibu rumah tangga, ada tokoh agama, ada perawat dan bukan saja dari anak muda.

"LSM yang saya dirikan adalah karena pengalaman pribadi dan LSM ini dari orang sakit untuk orang sakit sehingga saya memberikan pendampingan," jelasnya.

Bahkan beberapa ODHA yang pernah dirawat di LSM Perjuangan saat ini sudah dinyatakan sehat dan menjadi relawan bagi penderita lain.

Dampingan yang dilakukan yakni layanan kesehatan dan terapi HIV dengan mengingatkan penderita agar mengkonsumsi obat tepat waktu. LSM-nya juga mendampingi keluarga ODHA agar menjadi Pengawas Minum Obat (PMO) bagi ODHA itu sendiri.

Disadari pula kalau para ODHA kesulitan mendapatkan pekerjaan karena adanya stigma negatif dari masyarakat terkait keberadaan ODHA.

Untuk itu LSM Perjuangan melakukan pemberdayaan ekonomi dan memberikan modal usaha, sehingga saat ini banyak ODHA yang memiliki usaha mandiri seperti warung makan, mebel dan kios.

"Pendampingan oleh LSM Perjuangan pun dilakukan sepanjang masa tanpa batas waktu," tambah Emus.

Dia juga bersyukur dengan dukungan dari pemerintah, yang hadirkan setiap kelurahan di Kota Kupang sudah ada wadah Warga Peduli Aids (WPA) yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Ia sendiri mengaku kalau LSM-nya sempat mendapatkan bantuan pemerintah provinsi NTT dan Kota Kupang, namun saat ini dia ingin LSM yang ia bentuk tidak dimanja sehingga masih menutup diri dengan donatur dari lembaga lain.

Saat ini ia masih menampung dua orang warga yang menderita HIV/Aids di rumahnya, sejak tahun 2019 lalu. Ia bersyukur kalau para penderita ini sudah mulai pulih dan sudah bisa berjalan walau belum sepenuhnya normal, karena sebelumnya mengalami kelumpuhan.

Untuk saat ini LSM Perjuangan juga mendampingi 214 ODHA di Kota Kupang, 350 ODHA di Kabupaten TTS dan sejumlah ODHA lain di Kabupaten Malaka, Belu, Rote Ndao, Sabu Raijua, Kabupaten Kupang dan Alor.

Ia berharap ODHA tidak dikucilkan dan didiskriminasi di dunia kerja tetapi diberikan peluang yang sama karena ODHA bisa sembuh asalkan ada keterbukaan dan niat yang tulus. (mdk/cob)

Baca juga:
KPA Sebut Penderita HIV Aids di Bali Meningkat Selama Pandemi Covid-19
Kemenkes: ODHA Dapat Jatah Obat 3 Bulan Selama pandemi Covid-19
CEK FAKTA: HIV Bisa Sembuh dengan Antibodi? Simak Faktanya
17 Warga Lamongan Derita HIV, Ini yang Harus Diperhatikan Agar Tak Berakibat Fatal
Mengenal Penyebab AIDS yang Perlu Diwaspadai, Ketahui Gejala dan Cara Mencegahnya
CEK FAKTA: Hoaks Makanan Kaleng Produksi Thailand Menularkan Virus HIV/Aids
17 Ciri HIV AIDS yang Jarang Disadari, Salah Satunya Sering Sariawan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami