Perpres Iuran BPJS Kesehatan Turun Diprediksi Rampung Bulan Ini

Perpres Iuran BPJS Kesehatan Turun Diprediksi Rampung Bulan Ini
PERISTIWA | 9 April 2020 13:04 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - BPJS Kesehatan mengaku belum bisa menurunkan tarif iuran mengikuti ketentuan MA. Sebab, masih menunggu Peraturan Presiden (Perpres) yang sampai sekarang belum rampung.

BPJS Kesehatan memprediksi Perpres pengganti Perpres Nomor 75 Tahun 2019 yang dibatalkan Mahkamah Agung akan rampung di bulan April 2020.

Sebelumnya, hasil judical review Mahkamah Agung (MA) telah membatalkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Jaminan Kesehatan.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Iqbal Anas Ma’ruf menjelaskan, sampai saat ini terus melakukan koordinasi kepada pemerintah terkait proses penerbitan pepres baru tentang iuran BPJS Kesehatan. Menurutnya, bulan ini akan selesai dibahas.

"InsyaAllah bisa kelar di April ini," kata Iqbal saat dikonfirmasi merdeka.com, Kamis (9/4).

Iqbal menambahkan, karena belum adanya perpres pengganti maka iuran berlaku saat ini adalah iuran baru yang diterapkan sejak Januari 2020. Nantinya, apabila sudah ada aturan baru maka kelebihan pembayaran akan dimasukkan untuk pembayaran bulan berikutnya.

"Iya masih sesuai Perpres 75. Nanti disesuaikan. Yang dianggap kelebihan akan dijadikan saldo untuk iuran peserta bulan berikutnya," ujar Iqbal.

1 dari 1 halaman

Dengan pembatalan MA, BPJS Kesehatan seharusnya mengembalikan iuran seperti semula yaitu kelas I sebesar Rp80.000, kelas II sebesar Rp51.000 dan kelas 3 sebesar Rp25.500. Pada Januari lalu, iuran tersebut sudah mulai dinaikkan menjadi kelas I sebesar Rp160.00, kelas II Rp110.000 dan kelas III sebesar Rp42.000.

"BPJS Kesehatan telah mempelajari dan siap menjalankan Putusan MA tersebut. Saat ini Pemerintah dan Kementerian terkait dalam proses menindaklanjuti Putusan MA tersebut dan sedang disusun Perpres pengganti," jelas Iqbal.

Iqbal menambahkan, sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 Pasal 8 ayat (1); Panitera Mahkamah Agung mencantumkan petikan putusan dalam Berita Negara dan dipublikasikan atas biaya Negara, dan ayat (2) Dalam hal 90 (Sembilan Puluh) hari setelah putusan Mahkamah Agung tersebut dikirim kepada Badan atau Pejabat Tata Usaha negara yang mengeluarkan Peraturan Perundang-undangan tersebut, ternyata pejabat yang bersangkutan tidak melaksanakan kewajibannya, demi hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan tidak mempunyai kekuatan hukum.

"Melihat aturan di atas, tindak lanjut Putusan MA dapat dieksekusi oleh tergugat dalam kurun waktu 90 hari melalui aturan baru, atau apabila jika tidak terdapat aturan baru dalam kurun waktu tersebut, maka Pepres 75/2019 pasal 34 dianggap tidak memiliki kekuatan hukum atau dibatalkan," jelasnya.

"Intinya dalam waktu 90 hari ke depan setelah salinan keputusan diumumkan resmi, BPJS Kesehatan menunggu terbitnya Perpres pengganti. Saat ini sedang berproses," sambungnya.

BPJS Kesehatan juga telah bersurat kepada Pemerintah dalam hal ini Sekretaris Negara untuk menetapkan langkah-langkah yang dapat dilakukan BPJS Kesehatan selanjutnya, dalam mengeksekusi putusan tersebut.

"Masyarakat juga diharapkan tidak perlu khawatir, BPJS Kesehatan telah menghitung selisih kelebihan pembayaran iuran peserta segmen PBPU atau mandiri dan akan dikembalikan segera setelah ada aturan baru tersebut atau disesuaikan dengan arahan dari Pemerintah. Teknis pengembaliannya akan diatur lebih lanjut, antara lain kelebihan iuran tersebut akan menjadi iuran pada bulan berikutnya untuk peserta," tandasnya. (mdk/rnd)

Baca juga:
Jerit Masyarakat Iuran BPJS Kesehatan Tak Kunjung Turun di Tengah Corona
Perpres Belum Terbit, Iuran BPJS Kesehatan Masih Rp 160.000
Jokowi: Pembatalan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Pengaruhi Pelayanan Pasien Corona
Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Dibatalkan, Jokowi Minta Ada Landasan Hukum Baru
Jokowi Minta Dasar Hukum Baru Usai MA Batalkan Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan
Imbas Iuran BPJS Batal Naik, Masyarakat Senang Sampai Kualitas Layanan Terancam Turun

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami