Persidangan kasus Cebongan dinilai tidak profesional

Persidangan kasus Cebongan dinilai tidak profesional
Sidang kasus Lapas Cebongan. ©2013 Merdeka.com/parwito
PERISTIWA | 3 September 2013 18:04 Reporter : Ahmad Baiquni

Merdeka.com - Proses persidangan terhadap 12 anggota Grup II Kopassus Kandang Menjangan yang melakukan penembakan pada tahanan titipan di Lapas Cebongan dinilai berlangsung dengan tidak profesional. Hal ini didasarkan pada sejumlah temuan tim pemantau terdiri dari beberapa LSM yang bergerak di bidang hukum selama persidangan berlangsung seperti oditur yang tidak percaya diri saat pembuktian.

"Oditur dalam membuktikan dakwaannya tampak tidak cukup percaya diri, selain itu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Oditur juga tidak mampu mengungkap fakta-fakta secara detail dan mendalam tentang peristiwa yang terjadi," ujar Peneliti Pusham UII, Sumiardi di Jakarta, Selasa (3/9).

Sumiardi mengatakan, ketidakpercayaan diri Oditur disebabkan adanya faktor kepangkatan. Menurut dia, Oditur memiliki pangkat yang lebih rendah dibanding penasehat hukum.

"Bahkan hakim memiliki pangkat yang lebih rendah dari Oditur," kata Sumiardi.

Selain itu, Sumiardi menjelaskan, terdapat banyak sekali tindakan yang bersifat intimidatif ditujukan kepada tim pemantau oleh pengunjung sidang yang notabene pendukung para terdakwa. Bahkan, menurut dia, para pengunjung juga banyak yang membawa senjata tajam di dalam ruang sidang.

"Kami menemukan fakta hakim terkesan membiarkan adanya gangguan selama persidangan berlangsung," ungkap Sumiardi.

Di samping itu. Sumiardi juga menerangkan, dari substansi perkara, proses pemeriksaan terlalu banyak mengacu pada eksepsi. "Hampir semua materi persidangan cenderung mengikuti isi eksepsi dari penasehat hukum," terang dia.

Lebih lanjut, Sumiardi menilai persidangan berpotensi gagal dalam membongkar fakta yang lebih lengkap. Menurut dia, persidangan juga bertentangan dengan janji yang selama ini didengungkan yakni transparan.

"Janji atas persidangan yang adil, terbuka dan transparan, tidak dapat diwujudkan karena masih adanya intimidasi yang dibiarkan oleh penegak hukum yang berwenang," pungkas Sumiardi. (mdk/did)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami