Perubahan Iklim dan Ekologis Dinilai Jadi Salah Satu Penyebab Bencana di Indonesia

Perubahan Iklim dan Ekologis Dinilai Jadi Salah Satu Penyebab Bencana di Indonesia
Banjir di Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan. ©2021 Merdeka.com
PERISTIWA | 26 Januari 2021 21:32 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Awal tahun 2021 sejumlah wilayah di tanah air dilanda bencana. Gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir yang menerjang Kalimantan Selatan, Sumedang, dan Bogor. Belum lagi erupsi Gunung Merapi dan Gunung Semeru. Pelbagai bencana melanda bumi pertiwi itu membuat masyarakat was-was.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2020 terjadi 2.929 bencana alam di Indonesia. Banjir menduduki tempat tertinggi yakni sebesar 1.067 kasus. Jumlah tersebut disusul bencana puting beliung yang mencapai 875 kasus dan diakhiri oleh erupsi gunung sebanyak 7 kasus.

Peer Group Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Rita Noviani menyebut Indonesia memang etalase bencana. Hal tersebut karena tingginya kompleksitas bencana di Indonesia mulai dari tsunami, gempa bumi, banjir, hingga erupsi.

"Indonesia berada di Ring of Fire, pertemuan tiga lempeng, ada di garis khatulistiwa, belum lagi perubahan iklim dan ekologis akibat penggundulan hutan. Itulah yang mengakibatkan banyak bencana," ujar Rita, Selasa (26/1).

Menurut dia, kesadaran masyarakat yang kurang mengenai kondisi geografis sekitar juga menjadi penyebab banyaknya korban material dan jiwa akibat bencana. Dosen Pendidikan Geografi FKIP UNS tersebut mencontohkan masyarakat tidak tahu kalau tinggal di daerah patahan atau sesar yang sewaktu-waktu akan aktif.

Selain itu, lanjut dia, faktor kebijakan pemerintah juga memiliki andil cukup besar. Seperti halnya pemberian konsesi lahan.

Salah satu contoh yakni pembukaan lahan hutan membuat air hujan yang turun tidak diserap oleh akar-akar pohon sehingga turun ke daerah hilir menjadi air permukaan dan menimbulkan banjir.

"Harus ada komitmen dari pemerintah untuk mengatasi dampak perubahan lingkungan. Pembangunan ekonomi perlu diselaraskan dengan pembangunan sosial dan lingkungan," tandasnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, Pusat Studi Bencana LPPM UNS turut mengambil langkah dalam urusan kebencanaan. Yakni penguatan kapasitas masyarakat dengan membina komunitas-komunitas masyarakat peduli bencana.

"Kami mendampingi komunitas seperti Kampung Tanggap Bencana (Katana) dan Kampung Siaga Bencana (Kasiba) untuk menguatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mengajak masyarakat beradaptasi dengan lingkungan yang ada," pungkasnya. (mdk/gil)

Baca juga:
Beri Fasilitas Pengungsi, 5 Posko Longsor di Cimanggung Sumedang Dipasang Wifi Gratis
Tanpa Dukungan APBD, Begini Kabar Terbaru Penanggulangan Bencana di Jember
Viral Video Pria Buang Telur ke Sawah, Sedih Banyak Bencana Mending Disumbangkan
Jokowi Bersyukur Indonesia Bisa Kendalikan Krisis Kesehatan dan Ekonomi
Walhi Ingatkan Pemprov Sumsel Waspadai Banjir dan Tanah Longsor
Pengiriman Makanan dan Logistik Korban Banjir Paniai Sempat Terkendala Cuaca

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami