Perusahaan Bantah Belum Penuhi Hak TKA China yang Mengamuk di Bandara Banyuwangi

Perusahaan Bantah Belum Penuhi Hak TKA China yang Mengamuk di Bandara Banyuwangi
PERISTIWA » BANYUWANGI | 29 Mei 2020 20:47 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Pabrik semen Imasco yang ada di Jember, Jawa Timur akhirnya angkat bicara soal insiden perusakan fasilitas bandara Blimbingsari, Banyuwangi oleh seorang mantan pegawainya. Juru bicara PT Semen Imasco Asiatic, Sugiyanto menyatakan perusahaan menyesalkan insiden yang dilakukan oleh tenaga kerja asing (TKA) asal China, Cui Changqing tersebut.

"Rekan-rekannya sudah pulang semua. Hanya tinggal dia sendiri. Ini kan provokator," kata Sugiyanto saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (29/05).

Atas kejadian tersebut, Imasco menyatakan tidak mau ikut campur dengan penindakan secara hukum oleh kepolisian kepada yang bersangkutan. "Karena sudah berbuat kelewat batas," lanjut Sugiyanto.

Imasco mempekerjakan ratusan TKA asal China di pabrik yang ada di Jember melalui empat subkontraktor. Salah satunya adalah melalui PT Sinoma Engineering. Keduanya menggarap konstruksi pabrik di Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger. Imasco dan Sinoma kemudian memulangkan 150 TKA asal China pada Senin (25/05) kemarin. Dengan menggunakan lima bus pariwisata, mereka berangkat dari Jember menuju Bandara Banyuwangi.

Para WN China tersebut naik pesawat Batik Air charter flight repatriasi WNA dengan nomor flight ID 8591. Dari Bandara Banyuwangi, pesawat singgah di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta kemudian melanjutkan perjalanan menuju Guangzhou, China, Senin (25/5).

Namun saat tiba di Bandara Banyuwangi, Cui Changqing loncat dari bus dan memberontak. Bahkan Cui sempat melakukan perusakan terhadap sejumlah fasilitas bandara seperti komputer. Selain itu, Cui sempat akan lari dengan masuk ke dalam kolong bus. Atas perbuatannya itu, Cui langsung diamankan oleh polisi yang juga mengawal kepulangan ratusan TKA China tersebut.

Kepada petugas, Cui Changqing beralasan, ia menolak dipulangkan karena hak-hak kepegawaiannya belum dipenuhi perusahaan.

Ketika dikonfirmasi, Sugiyanto membantah tudingan Cui tersebut. Imasco menegaskan, telah memenuhi seluruh hak pekerja asing tersebut. "Sudah dibayar semua. Buktinya, teman-temannya yang lain pulang kan," ujar Sugiyanto.

Menurut Sugiyanto, setiap pekerja sudah diberi gaji dan ditanggung biaya hidupnya selama bekerja membangun pabrik beberapa bulan di Jember. Setelah masa kontrak habis, para pekerja dipulangkan ke negara asalnya. Sugiyanto juga menegaskan, semua akomodasi kepulangan pekerja ke Guangzhou, China tersebut dibiayai Imasco.

"Termasuk juga membayar tambahan biaya untuk karantina lanjutan selama 14 hari di China, dengan nominal sekitar Rp20 juta per orang. Jadi setiap orang total dapatnya Rp40 juta ketika pulang. Yang Rp20 juta itu Rp10 jutanya buat bayar karantina di China. Selama karantina kan dapat gaji (dihitung Rp10 juta sisanya)," papar Sugiyanto.

Sebenarnya, selain Cui Changqiang, masih ada 3 TKA China lain yang batal pulang karena dokumen keimigrasian belum lengkap. "Itu sekarang sedang ditangani pihak imigrasi," jawab Sugiyanto.

Namun, bagi Cui Changqing, kasusnya bertambah rumit sebab ia (mdk/cob)

Baca juga:
Ogah Dipulangkan, TKA China Lompat dari Bus dan Mengamuk di Bandara Banyuwangi
Di Tengah Pandemi Corona, WN China Keliling Kota dan ke NTT Bertemu Teman Wanita
Ombudsman Sebut Ketidakjelasan Informasi Soal 49 WN China di Kendari Buat Resah
Langgar Izin Tinggal, 30 WN China di Deportasi Imigrasi Semarang
Buka Salon Kecantikan Ilegal di Jakarta, Dua WNA China Ditangkap
24 WN China Tanpa Dokumen Lengkap Terjaring Razia di Tangerang

melakukan tindak pidana di bandara. "Silakan perusahaan yang memproses, kita perusahaan tidak ada urusan karena itu masalah dia sendiri," kata Sugiyanto.

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5