Pesan Harmoni di Wihara Tertua di Bandung

PERISTIWA | 25 Januari 2020 13:17 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Wihara Dharma Ramsi menjadi salah satu rumah ibadah tertua di Kota Bandung. Berdiri sejak tahun 1952 di kawasan permukiman, kehidupan toleransi tumbuh subur dan terbingkai kuat.

Menjelang perayaan lmlek, suasana Wihara yang berlokasi di Gang Ibu Aisyah, Jalan Luna Kecamatan Cibadak, Kelurahan Astanaanyar tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa orang lalu lalang membawa perlengkapan sembahyang. Sebagian lain membersihkan banyak rupang dewa pada 27 altar.

Tapi dari semua rupang yang ada, tentu rupa Kwang Kong dan Cun Kuy Zu Shi yang paling menarik perhatian karena berukuran 2,5 x 1,5 meter. Keduanya sudah ada sejak awal mula Wihara berdiri. Bahkan, Cun Kuy Zu Shi diukir sama persis dari sebuah wihara yang letaknya di sebuah gunung di Tiongkok.

Memasuki gerbang, foto sang pendiri Wihara, bikhu asal China Anense dan Amoise terpasang di dalam dua pagoda seakan menyambut siapapun yang datang. Selain itu, ratusan lilin berukuran besar dipajang tepat sebelum pintu masuk. Semua hasil produksi menggunakan alat pencetak sendiri.

1 dari 2 halaman

Di dalam ruangan, aroma wangi dupa yang menyelimuti hampir di setiap ruangan. Aromanya lebih kuat dari asap rokok yang tercium sesekali.

Dulunya, bangunan ini adalah rumah, kemudian berubah sebagai kelenteng sebelum menjadi Wihara. Beberapa perombakan dilakukan untuk menampung lebih banyak jemaah datang beribadah. Kini, Wihara sering digunakan oleh tiga umat, yaitu Buddha, Konghucu, dan kepercayaan.

Belum tuntas menikmati suasana Wihara, tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri dengan senyum lebar. "Selamat siang, perkenalkan saya Asikin," kata dia seraya mengajak jabat tangan.

Pria kelahiran Bandung 27 Mei 1950 itu adalah relawan dan pengurus Wihara sejak tahun 2011 lalu. Ia dipercaya mengemban tugas dari pihak yayasan meski beragama katolik.

Setelah memahami kebudayaan dan bergaul dengan berbagai masyarakat lintas agama, acap kali ia selalu menjadi penerima rombongan mahasiswa atau masyarakat yang datang untuk berdiskusi maupun sekadar ingin tahu mengenai bangunan hingga proses ibadah di Wihara Dharma Ramsi.

"Pertama kali saya datang ke sini itu bantu-bantu pas ada acara. Dari sana berlanjut sampai sekarang. Saya merasa nyaman karena semua di sini saling menghargai. Sikap toleransi para pengurus (yayasan Wihara Dharma Ramsi) hingga warga sekitar sudah terbangun sejak lama," kata dia.

"Bahkan, yang muslim juga suka ikut membantu kalau pihak Wihara mengadakan acara hari raya besar, seperti Imlek sekarang. Sama juga kalau Idul Fitri atau Natal, kami ikut membantu," katanya melanjutkan.

2 dari 2 halaman

Dengan penuh bangga, ia memberitahu bahwa vihara ini memiliki Grup Kesenian Barongsai Dharma Ramsi yang sudah berjalan puluhan tahun. Semua terbentuk hasil koordinasi dengan ketua rukun warga setempat agar pemuda-pemuda tersebut memiliki kegiatan yang positif. Kini, wadah kesenian ini bisa berkontribusi meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal.

Kehidupan harmonis yang terjalin membuatnya merasa vihara Dharma Ramsi menjadi rumah keduanya. Tidak pernah ada singgungan berkaitan dengan isu SARA yang menimpanya.

Dari sana, percakapan terus mengalir. Ternyata, kenyamanan yang dirasakannya itu tidak terlepas dari kehidupan pribadinya yang sudah lekat dengan toleransi. Empat anaknya memiliki keyakinan yang berbeda. Si sulung dan si bungsu sudah menjadi seorang muslim. Anak kedua dan ketiga memilih kristen.

"Saya membebaskan anak saya untuk memilih keyakinan. Semuanya bisa saling menghargai, rukun. Di sini (Vihara Dharma Ramsi) juga ternyata sama. Kan yang penting bagaimana kita berhubungan baik dengan sesama manusia. Keyakinan itu urusan hati, bukan hal yang bisa kita paksakan," ucapnya dengan raut muka semringah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Artinya, ia harus kembali bertugas melayani tamu yang datang sekaligus membantu merampungkan perisapan imlek yang akan digelar pada malam hari.

"Oh iya, dulu sebelum saya di sini, saya pernah ikut membantu KH Zainuddin MZ lho. Seru, beliau tidak mempermasalahkan agama saya. Pengalaman paling berkesan itu bisa bercanda sambil main gapleh bareng sama beliau,". (mdk/lia)

Baca juga:
Keunikan Graha Maria Annai Velangkani, Gereja Bergaya Hindu di Medan
Keindahan Masjid Terbesar di Eropa yang Berubah Warna Saat Adzan Berkumandang
6 Masjid Warna-Warni Paling Indah di Berbagai Negara
Gunung Popa, Rumah 37 Roh Terkuat di Myanmar
Viral Video Pelarangan Ibadah, Bupati Inhil Bantah Satpol PP Terlibat

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.