Petani Sawit di Riau Ogah Dituduh Jadi Pelaku Pembakaran Lahan

PERISTIWA | 17 September 2019 10:14 Reporter : Abdullah Sani

Merdeka.com - Kumpulan petani sawit di Riau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menolak dituduh membakar lahan. Mereka menduga ada pihak tertentu yang memfitnah petani sawit agar harga sawit menjadi rendah.

"Orang pasti nuduh yang bakar (lahan) petani sawit. Ada dua konsep, dibakar atau terbakar. Tapi tak mungkin ada setan yang bakar. Yang jelas, bukan petani sawit yang bakar," ujar Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Medali Emas Manurung kepada wartawan, Senin (16/9).

Menurut Gulat, persoalannya kebakaran hutan dan lahan di Riau saat ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Dia menduga ada sesuatu yang bermain, dan ada tujuan tertentu.

"Kalau dibakar, tentu hutan atau persiapan land clearing, kalau terbakar tak sengaja. Jadi pemerintah dan aparat hukum harus tegas mencari orangnya, kalau dapat orangnya suruh hirup asap selama 3 hari 3 malam," kata Gulat.

Gulat yakin petani sawit di Riau tidak bodoh untuk melakukan pembakaran lahan. Sebab, kata Gulat, para petani lebih pintar dalam membersihkan lahan bukan dengan cara membakar.

"Tak mungkin petani atau perusahaan yang bakar lahan. Yang bakar lahan itu tidak normal. Sementara, tidak ada petani yang tidak normal," terang Gulat.

Gulat mengeluarkan pernyataan sikap yang intinya mengecam para pembakar hutan dan lahan, yang mengakibatkan kabut asap pekat menyelimuti Riau.

"Petani sawit Indonesia sepakat memusuhi pembakar lahan. Saya pribadi ada rasa malu sebagai seorang petani sawit, melihat anak-anak terpaksa pakai masker," katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Gulat mengatakan seluruh petani sawit anggota Apkasindo sepakat bahwa membuka lahan dengan cara membakar adalah perbuatan jahat.

Dia berharap penegak hukum menggandeng organisasi petani untuk berkolaborasi mengungkap kasus pembakaran hutan dan lahan.

"Kita sepakat petani harus menjaga jengkal demi jengkal lahan kita dari kebakaran. Kita tolak pembakaran lahan," terang Gulat.

Gulat mengklaim tidak ada anggota Apkasindo yang membakar hutan maupun lahan. Gulat juga memberikan solusi, Apkasindo sudah membuat posko percepatan pelepasan lahan sawit di kawasan hutan agar ada inventarisasi lahan dan jelas siapa pemiliknya.

Dengan adanya kepemilikan yang jelas maka penegak hukum akan lebih mudah untuk mengungkap pelaku pembakaran.

"Kalau sekarang ini banyak surat di bawah tangan, kalau kebakaran yang punya lahan tiarap semua," katanya.

Saat ini, kata Gulat, ada sekitar 2,4 juta hektare kebun kelapa sawit di Riau milik 512 ribu petani swadaya. Dari jumlah itu, sekitar 1,2 juta hektare berada di kawasan hutan seperti hutan produksi, hutan produksi terbatas (HPT) dan hutan produksi yang bisa dikonversi (HPK).

"Jumlah sawit milik petani swadaya di Riau lebih luas dari lahan milik perusahaan yang sekitar 1,6 juta hektare. Tapi dari Apkasindo kita tegas, tidak ada yang di hutan lindung maupun konservasi," tegasnya.

Karena, terangnya Gulat, tidak masuk akal apabila petani membakar lahannya yang sudah ditanami karena akan menimbulkan kerugian. Ia juga yakin tidak ada anggota Apkasindo yang melakukan pembukaan lahan dengan membakar.

"Saya yakin seratus persen, petani kami enggak ada membakar, tak ada lagi yang nekat membakar. Kecuali itu petani dibayar oleh seseorang supaya ribut dan agar dilepaskan lahannya dari kawasan hutan," tandasnya.

Baca juga:
Jokowi Salat Minta Hujan Sebelum Menuju Lokasi Kebakaran Hutan
Jarak Pandang Membaik 2 Km, Pesawat Kepresidenan Bisa Mendarat di Pekanbaru
Kapolri Turunkan Propam dan Irwasum Pantau Polda Riau Tangani Karhutla
VIDEO: Jokowi Pimpin Rapat di Tengah Kabut Asap
Terbakar 4 Hektare, Lahan Perusahaan Malaysia Disegel di Riau
Cerita Relawan Samarinda Bertemu 3 King Cobra saat Padamkan Karhutla

(mdk/cob)