Petugas RSDP Serang Mengaku Tak Tahu Penanganan Korban Tsunami Tak Dipungut Biaya

PERISTIWA | 29 Juli 2019 20:45 Reporter : Dwi Prasetya

Merdeka.com - Saksi untuk perkara pungli pengurusan jenazah korban tsunami Selat Sunda di Rumah Sakit dr Drajat Prawiranagara (RSDP) Serang Amran mengatakan, petugas Instalansi Forensik RSDP tidak mengetahui prosedur penanganan medis kejadian luar biasa tidak dipungut biaya.

Pengakuan ini terungkap di sidang lanjutan pungli korban tsunami di Pengadilan Negeri Serang, Kota Serang, Senin (29/7). Amran merupakan kepala ruangan forensik RSDP Serang.

Ia mengaku belum pernah mendapat sosialisasi penanganan medis bagi korban kejadian luar biasa dan sosialisasi Peraturan Bupati Serang nomor 46 tahun 2013 tentang pola tarif jasa pelayanan kesehatan pada badan layanan umum daerah rumah sakit umum daerah kabupaten Serang bagi korban bencana.

Pihaknya baru mengetahui pembiayaan pengurusan jenazah tidak dipungut biaya pada tanggal 29 Desember 2018 saat diberitahu oleh pihak kepolisian dari Polda Banten.

"Belum pernah ada petunjuk (penanganan medis) soal bencana. Kemudian belum pernah ada selembaran (prosedur penanganan kejadian luar biasa) dan pemberitahuan belum pernah," kata Amran saat dimintai keterangan oleh majelis hakim Muhammad Ramdes.

Amran mengatakan, pemungutan biaya pengurusan jenazah berlaku bagi keluarga korban yang meminta dilakukan pelayanan maksimal seperti biaya pemandian jenazah, pemberian formalin dan kain kafan serta penggunaan peti jenazah. Semua penentuan dan pemungutan dilakukan oleh terdakwa Fatullah.

Sedangkan, keluarga korban yang tidak meminta dilakukan pelayanan maksimal tidak dipungut biaya. Hanya dimandikan lalu dibawa langsung oleh pihak keluarga.

"Ada jenazah masuk dilakukan pemeriksaan luar dimasukan di kulkas jenazah. Formalin, kain kafan dan peti harus ada permintaan keluarga. Kalau enggak ada permintaan keluarga langsung dibawa," katanya.

Selain tidak mengetahui prosedur, menurut Amran, pungutan biaya tersebut untuk membeli kain kafan, formalin dan peti jenazah korban tsunami Selat Sunda. Karena barang tersebut tidak tersedia di RS.

"Tidak paham penanganan medis kejadian luar biasa terkait bencana alam dan barangnya tidak ada," katanya.

Dalam persidangan sebelumnya terungkap bahwa honor petugas pemandi jenazah pun dipotong oleh tiga terdakwa selaku petugas forensik. Fakta ini terkuak setelah tiga saksi yang merupakan petugas pemandi jenazah yakni Rahayu, Yanti dan Asiah cerita soal honor yang diterima saat memandikan jenazah korban tsunami. Ketiganya menjadi saksi dalam persidangan kasus pungli dengan terdakwa Tb Fathullah selaku petugas forensik, serta Budiyanto dan Indra Juniar Maulana petugas ambulans.

Rahayu memberikan keterangan bahwa dirinya bersama dua rekannya memandikan enam jenazah perempuan korban tsunami. Dari satu jenazah ia mengaku mendapat imbalan sebesar Rp 500 ribu.

"Tiap satu jenazah dikasih upah 500 ribu rupiah. Honor untuk (memandikan) jenazah saya terima dari Pak Fathullah yang memberikan di Pos Satpam. Saya terima masih dalam amplop," kata Rahayu dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Serang, Senin (1/7).

Di sela-sela persidangan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Subardi kemudian menanyakan kepada ketiga saksi mengenai ketentuan besaran honor memandikan jenazah.

Ketiga saksi hanya menggelengkan kepala tak ada satupun dari ketiga saksi mengetahui mengenai besaran honor sesuai ketentuan pemerintah. Karena tidak mendapat jawaban, Jaksa Subadri kemudian memberitahukan bahwa standar honor memandikan jenazah di RSDP Kabupaten Serang sudah tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 46 tahun 2013 tentang Pola Tarif Jasa Pelayanan Kesehatan pada Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Serang.

Subardi menyebutkan bahwa standar honorarium memandikan jenazah untuk dewasa sebesar Rp 1,3 juta per orang. Mendapat keterangan Subardi, ketiga saksi tampak bingung. Namun segera ditimpali oleh Rahayu bahwa ia tidak mengetahui ketentuan tersebut. "Saya enggak tahu Pak. Saya niatnya cuma membantu saja, ikhlas," katanya.

Terhadap keterangan saksi, ketiga terdakwa tidak membantahnya. Kemudian keterangan tersebut dianggap sesuai dengan peristiwa yang terjadi sebenarnya.

Baca juga:
Pemkab Sebut Dana Bantuan Korban Tsunami Banten Capai Rp 5,6 M,
Terdakwa Pungli Korban Tsunami Selat Sunda juga 'Sunat' Honor Pemandi Jenazah
Polisi Limpahkan Berkas Tersangka Pungli Bantuan Tsunami ke Kejati Banten
Jeritan Hati Anak Korban Tsunami Lampung Selatan ke Pemerintah
Presiden Jokowi Cek Penanggulangan Pendidikan Korban Bencana di Pandeglang
49.000 Botol Air Mineral Disalurkan Buat Korban Tsunami Selat Sunda
Keceriaan Anak-Anak Korban Tsunami Banten Berwisata di Ancol

(mdk/gil)