Polda Jatim Bongkar Praktik Aborsi Antarkota, Modus Berpindah-pindah Tempat

PERISTIWA | 25 Juni 2019 14:35 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Praktik aborsi yang melibatkan banyak orang di Surabaya dan Sidoarjo dibongkar jajaran Ditreskrimsus Polda Jatim. Uniknya, untuk menghindari 'penciuman' polisi, praktik aborsi tersebut selalu berpindah tempat.

Wadir Reskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara, mengatakan pengungkapan kasus ini berawal dari informasi yang diterimanya pada Maret lalu. Saat itu, polisi menerima informasi adanya seseorang yang menawarkan praktik aborsi.

"Awalnya, Subdit 4 Ditreskrimsus menerima info adanya praktik aborsi di Sidoarjo," ujarnya, Selasa (25/6).

Mendapati informasi tersebut, penyidik lantas mendapati nama tersangka Laksmita Wahyuning. Ia diketahui sebagai pihak yang melakukan eksekusi.

Praktik tersebut dilakukannya di sebuah rumah di Sidoarjo dan Karah Agung, Surabaya. Petugas juga mendapati jejak pengakuan, jika tersangka pernah melakukan aborsi di sebuah hotel di Surabaya.

Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, pada April lalu, polisi menangkap yang bersangkutan. Dari penangkapan tersangka ini, petugas langsung melakukan pengembangan kasus.

"Usai melakukan pengembangan, kita mendapati ada tersangka lain dalam kasus ini," tegasnya.

Setidaknya, ada enam tersangka lain yang juga berhasil diringkus. Di antaranya, Fauziah Tri Arini selaku suplier obat, Vivi Nurmalasari selaku suplier obat, M Busro selaku suplier obat, Tri Suryanti yang menggugurkan kandungannya, Muhammad Syaiful Arif selaku pemberi atau penyuplai dana, dan Retno Muktia Sari selaku pembantu pelaksanaan aborsi.

Dalam kasus ini, pihaknya menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya, obat jenis Chromalux Musoprostol tablet 200 Mcg, Cytotec Misoprostol tablet 200 ug, dan lnvitec Misoprostol tablet 200 Mcg.

"Saat ini masih terus melakukan pemeriksaan secara intensif guna kepentingan penyidikan lebih lanjut," imbuh Amran.

Sementara itu, tersangka Laksmita Wahyuning mengakui sudah dua tahun melakukan praktik aborsi. Dari praktik itu, setidaknya sudah 20 orang yang pernah menggugurkan kandungan padanya. "Sudah 20 pasien," ujarnya.

Arman menambahkan, terkait dengan kasus ini, para tersangka dijerat pasal berlapis. Mulai dari Pasal 83 dan Pasal 64 UU no 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan, Pasal 194 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan hingga Pasal 55 ayat 1 KUHP, pasal 56 KUHP, pasal 346 KUHP.

Baca juga:
Aborsi Dibantu Kekasih, Seorang Mahasiswi Kubur Janin di Kampus
Setelah 66 Tahun Korea Selatan Akan Cabut Larangan Aborsi
Bantu Pacar Aborsi Hingga Tewas, Mahasiswa di Medan Ditangkap Polisi
Layani Aborsi Online, Bidan Desa Ini Dapat Imbalan Rp 1 juta
Polisi Bongkar Sindikat Aborsi Online di Klaten
Menkes Siapkan Layanan Aborsi Aman Sesuai UU, Kemen-PPPA Nilai Pelanggaran Hak Anak
Ribuan Wanita Argentina Demo Tuntut Legalisasi Aborsi

(mdk/lia)

TOPIK TERKAIT