Polda Sumsel Belum Diminta Cari 2 Saksi Kunci Prada DP yang Hilang Misterius

PERISTIWA | 14 Agustus 2019 20:59 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Dua saksi kunci kasus pembunuhan Fera Oktaria (21) dengan terdakwa pacarnya sendiri, Prada DP (22) hilang misterius. Meski dipanggil beberapa kali, kedua saksi itu, Dodi Karnadi (36) dan Muhammad Hasanuddin belum juga hadir di sidang Pengadilan Militer I-04 Palembang.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi mengungkapkan, belum ada permintaan dari Kodam II Sriwijaya atau pihak terkait untuk mencari keberadaan kedua saksi tersebut. Jika diminta, mereka siap menurunkan personel dan bekerja optimal.

"Sejauh ini belum ada permintaan kepada kami mencari dua saksi itu. Jika diperlukan kami siap membantu," ungkap Supriadi, Rabu (14/8).

Menurut dia, sejak kasus ini dilimpahkan ke Pomdam II Sriwijaya, polisi tidak lagi ikut campur menangani kasus ini. Sebab tersangka adalah prajurit TNI sehingga proses hukumnya diambil alih satuannya dan Pengembangan Militer.

"Sejak saat itu kami tidak lagi terlibat, itu wewenang Kodam II Sriwijaya," ujarnya.

Supriadi juga belum mendapat informasi pembongkaran makam Imam, rekan paman Prada DP, untuk dilakukan autopsi penyebab kematiannya oleh Bid Dokkes Polda Sumsel. Imam disebut terdakwa sebagai orang yang menyuruhnya membakar jasad korban untuk menghilangkan jejak.

"Belum dengar tuh, saya belum tahu ada informasi itu," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, dua saksi kunci kasus ini, paman terdakwa, Dodi Karnadi dan Muhammad Hasanuddin yang merupakan teman Dodi, hilang misterius sejak sebulan lalu. Mereka telah dipanggil sebanyak empat kali untuk memberikan keterangan di pengadilan.

Dodi adalah orang pertama yang mengetahui pembunuhan dan Hasanuddin yang membawa terdakwa dalam persembunyiannya ke Banten. Mereka tinggal di Musi Banyuasin.

Di persidangan, oditur CHK Mayor D Butar Butar menyebutkan, pihaknya telah memeriksa keduanya ketika proses penyidikan. Dari pemeriksaan, saksi Dodi menyebut terdakwa datang ke rumahnya usai pembunuhan, Rabu (8/5). Terdakwa menceritakan bahwa dirinya kabur dari pendidikan dan baru saja membunuh Fera di penginapan Sahabat Mulya, Sungai Lilin.

Saat bertemu itu, terdakwa meminta Dodi menyiapkan alat-alat untuk memutilasi korban, seperti parang, gergaji, kapak, dan parang. Terdakwa bermaksud menghilangkan korban dan barang bukti.

Lantaran ditolak, terdakwa menyuruh Dodi membeli kantong plastik yang nantinya digunakan membungkus potongan tubuh korban.

"Terdakwa memberikan sejumlah uang kepada Dodi untuk membeli kantong plastik besar, setelah dibeli terdakwa kembali ke penginapan," ujarnya.

Setiba di penginapan, Dodi dihubungi terdakwa untuk meminta pendapat tempat membuang mayat korban. Namun, Dodi tidak memberikan pendapat atas permintaan terdakwa.

Lalu, terdakwa menghubungi Imam, teman pamannya yang tinggal di Palembang. Imam diketahui telah meninggal dunia saat kasus ini disidik Pomdam II Sriwijaya.

"Sepengetahuan saksi, Imam yang menyarankan terdakwa membakar mayat korban," kata dia.

Tidak lama kemudian, saksi Dodi menyerahkan sepeda motor korban kepada Imam untuk dijual. Uang itu digunakan sebagai modal kabur dan keluar Sumatera.

"Imam dan terdakwa menemui saksi Hasanuddin. Imam mengaku Prada DP ingin belajar mengaji karena ada masalah keluarga," kata Butar.

Saksi Hasanuddin pun menyarankan terdakwa mengaji di salah satu pondok pesantren di Serang, Banten. Atas permintaan Imam, Hasanuddin pun mendampingi terdakwa ke sana.

"Tetapi setelah tiba di Banten, Hasanuddin baru mengetahui masalah yang dihadapi terdakwa. Itu menjadi alasan pergi ke sana," kata dia.

(mdk/cob)

BERI KOMENTAR
Join Merdeka.com