Polemik Vaksin Nusantara, Anggota DPR Sebut BPOM sudah Berpolitik

Polemik Vaksin Nusantara, Anggota DPR Sebut BPOM sudah Berpolitik
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena. ©2021 Liputan6.com/Ditto Radityo
PERISTIWA | 17 April 2021 14:28 Reporter : Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi IX DPREmanuel Melkiades Laka Lena menegaskan tidak ada muatan politik dalam dukungan yang ditunjukan pada sejumlah legislator terkait vaksin Nusantara. Justru dia mengklaim bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI saat ini sudah meluncurkan aksi politik dan meminta dukungan pada sejumlah pihak terkait hal tersebut.

"Jadi sekarang BPOM sudah berpolitik juga, mereka bilang kita main-main politik, mereka main-main politik, DPR RI itu masih memiliki keputusan politik tapi sekaligus berbasis data-data ilmiah sanstifik," kata Melki dalam diskusi daring, Sabtu (17/4).

Dia menduga saat ini BPOM sedang mengumpulkan dukungan sebab merasa didzolimi. Mulai dari para tokoh bangsa, kata dia, akan menggelar aksi dukungan untuk BPOM.

"BPOM sekarang sudah main politik, jadi kami tahu siapa yang menggerakan itu, informasi sudah ada di kami, jadi sekarang BPOM sebagai lembaga indepen mengumumkan para tokoh, dan mengatakan save badan POM dan sebagaimanya," bebernya.

Sebelumnya, sejumlah tokoh politik, seperti Aburizal Bakrie dan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah menjadi relawan vaksin Nusantara. Padahal, vaksin tersebut belum lolos uji klinis tahap pertama dari BPOM.

Menyikapi hal tersebut, Kepala BPOM Penny K Lukito menegaskan bahwa uji klinis yang dilakukannya sesuai dengan standar good clinical trial yang berlaku internasional.

"Apa yang sekarang terjadi itu di luar BPOM ya, bukan kami untuk menilai itu, BPOM itu pendampingan pada saat uji klinik sesuai dengan standar good clinical trial yang berlaku internasional, berlaku umum, dan itu tidak ada pengecualian untuk diterapkan kepada seluruh pengembangan vaksin yang ada di indonesia," dia di PT Bio Farma, Jalan Dr Djunjunan, Kota Bandung, Jumat (16/4).

"Tidak ada pengecualian, tidak ada pilih-pilih, berbeda, semua sama, dan itu ya itulah yang terjadi yang kemarin ya, bahwa itu sudah di luar, kami tidak terlibat di dalamnya," ia melanjutkan.

Sebelumnya, Penny menyoroti kaidah medis dalam pelaksanaan penelitian vaksin Nusantara. Pemenuhan good clinical practice juga tidak dilaksanakan dalam penelitian ini.

Izin pelaksanaan uji klinik fase 1 dikeluarkan oleh RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Namun, pelaksanaan penelitian malah dilakukan di RSUP dr Kariadi Semarang. BPOM belum memberikan sinyal untuk Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis II vaksin Nusantara.

Selain itu, melalui keterangan tertulisnya, pembuatan produk vaksin yang menggunakan campuran sel dendritik itu tidak steril, terlebih pembuatan vaksin Nusantara dilakukan secara manual dan open system.

Produk antigen SARS CoV-2 yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan vaksin Nusantara bukan Pharmaceutical grade dan dinyatakan oleh produsen (Lake Pharma-USA) tidak dijamin sterilitasnya. Bahkan, antigen tersebut hanya digunakan untuk riset di laboratorium bukan untuk diberikan kepada manusia.

Produk akhir dari vaksin Nusantara tidak dilakukan pengujian kualitas sel dendritik. Peneliti hanya menghitung jumlah selnya saja. Sementara itu, penghitungan sel juga tidak konsisten karena ada 9 dari 28 sediaan yang tidak diukur. Kemudian, dari 19 yang diukur terdapat 3 sediaan yang di luar standar tetapi tetap dimasukkan.

Tidak hanya soal pemenuhan Good Manufacturing Practice (GMP), Penny juga membeberkan Good Laboratory Practice (GLP) uji klinis vaksin Nusantara. Dia menyebut, metode pengujian tidak dilakukan validasi dan standarisasi sebelum pelaksanaan penelitian.

Peneliti vaksin Nusantara juga hanya menyerahkan hasil dengan dua macam pengujian menggunakan alat yang berbeda dan hasil yang berbeda. Hal tersebut tidak diperbolehkan karena akan timbul subjektivitas peneliti dengan memilih hasil yang dianggap lebih baik memberikan nilai.

"Berdasarkan hal tersebut, BPOM menyatakan bahwa hasil tidak dapat diterima validitasnya," sambung Penny.

Sebagai informasi, penilaian BPOM ini dilakukan setelah mengawal proses uji klinis fase satu vaksin Nusantara. BPOM juga telah melakukan inspeksi ke center uji klinik vaksin Nusantara di RSUP Dr. Kariadi dan laboratorium pemeriksaan imunogenisitas Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan. (mdk/cob)

Baca juga:
Tenaga Ahli Sebut Terawan Gagas Vaksin Nusantara saat Jabat Menteri Kesehatan
Aburizal Bakrie Disuntik Vaksin Nusantara
Ini Seluk Beluk Sponsor Vaksin Nusantara Terawan
Respons BPOM soal Deretan Tokoh Politik jadi Relawan Vaksin Nusantara
BPOM Tunggu Perbaikan Prosedur Uji Klinik Fase 1 Vaksin Nusantara

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami