Polisi Bongkar Jual Beli Organ Harimau Sumatera di Riau

Polisi Bongkar Jual Beli Organ Harimau Sumatera di Riau
PERISTIWA | 16 Februari 2020 11:09 Reporter : Abdullah Sani

Merdeka.com - Tiga pria ditangkap karena kedapatan memperdagangkan organ tubuh Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrea) yang sudah mati, Sabtu (15/2) pukul 11.00 Wib. Organ satwa liar dilindungi itu terdiri dari 1 lembar kulit, 4 taring, dan 1 karung berisi tulang-belulang Raja Hutan disimpan dalam plastik dan karung.

Penangkapan dilakukan, di Jalan Arjuna Dusun IV RT/RW 002/091 Kelurahan Candi Rejo, Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.

"Tim menerima informasi jual beli bagian tubuh Harimau Sumatera sehari sebelumnya. Ketiga tersangka membawa bagian tubuh Harimau Sumatera dari daerah Muara Tebo, Jambi menggunakan mobil Toyota Avanza nopol D 1606 ABK," ujar Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto Minggu (15/2).

1 dari 2 halaman

Ketiga pelaku berencana akan mengantarkan bagian tubuh harimau tersebut kepada seseorang di daerah Air Molek. Ketiga tersangka, MN Bin KR (45), warga Desa Balai Rajo, Kecamatan Tujuh Ilir, Tebo, Jambi, RT (57), warga Jorong Koto Baru, Desa Sisawah, Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat dan A (43) Desa Seresam, Siberida, Inhu, Riau.

Ketiga pelaku merupakan kurir yang bertugas mengantar kulit dan tulang harimau dari Tebo Jambi oleh eksekutor inisial AT (DPO) dengan upah Rp 2 juta. Selanjutnya akan diserahkan kepada seseorang HN (DPO) di Air Molek, Kabupaten Indragiri Hulu.

"Ketiga tersangka kita amankan dan dibawa bersama barang bukti ke Mapolda Riau, Pekanbaru guna penyidikan lebih lanjut," jelas Sunarto.

2 dari 2 halaman

Maraknya praktik perdagangan ilegal kulit dan organ harimau sumatera karena motif tingginya harga jual organ harimau di pasar gelap. Selembar kulit harimau bisa dijual dengan harga sekitar Rp 30 juta hingga Rp 80 juta, taring harimau Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per buah. Dan tulang harimau laku Rp 2 juta per kilo di pasar gelap.

Harga tinggi itu disinyalir menjadi alasan para penyelundup untuk nekat melakukan aksi kejahatannya. Indonesia sebagai bagian dari dunia internasional, akan menghentikan kejahatan penyelundupan satwa tersebut, mengingat satwa itu sudah dalam kategori terancam punah.

"Ini bentuk kejahatan terorganisir dengan sistem terputus. Satu dengan lainnya memiliki tugas dan perannya masing-masing. Polda Riau akan terus perangi dan ungkap perdagangan ilegal ini," pungkas Sunarto. (mdk/rnd)

Baca juga:
Melihat Jenis Panda Raksasa Tertua dan Satu-satunya di Dunia
8 Fakta Menarik Trenggiling Patut Diketahui, Hewan Tertuduh Sebagai Perantara Corona
Gangguan Pencernaan, Gajah Betina Ditemukan Mati di Bengkalis
Salma Anak Gajah Sumatera Mati Setelah Dirawat Sejak Juni 2019
Kisah Nenek Merawat Anak-anak Kanguru Korban Kebakaran Hutan di Australia
Polda Riau Periksa Dua Saksi Terkait Kematian Bayi Leopard di Kebun Binatang

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami