Polisi Isolasi Diri Usai Amankan Viral Jenazah PDP Covid-19 di Kolaka Dibawa Pulang

Polisi Isolasi Diri Usai Amankan Viral Jenazah PDP Covid-19 di Kolaka Dibawa Pulang
PERISTIWA | 26 Maret 2020 12:38 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Seorang personel kepolisian terpaksa mengisolasi diri. Hal itu ia lakukan usai mengamankan lokasi jenazah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Kabupaten Kolaka yang dibawa pulang paksa oleh pihak keluarga.

Video tersebut viral di media sosial. Nampak, keluarga yang histeris melepas pembungkus plastik dan menciumi almarhumah.

"Iya (isolasi diri) sebagai langkah antisipasi," tutur Kapolda Sulawesi Tenggara (Sultra) Brigjen Merdisyam saat dikonfirmasi, Kamis (26/3).

Menurut Merdisyam, perwira polisi tersebut turut menjalani tes swab untuk memastikan paparan virus corona. Pasalnya saat bertugas mengamankan, dia sempat berada cukup dekat dengan almarhumah.

"Nanti akan lebih jelas kalau hasil swab sudah keluar," jelas dia.

Sebagai upaya menekan penyebaran Covid-19, lanjutnya, keluarga dan warga yang juga berada di lokasi pun diminta untuk melakukan isolasi diri di rumah masing-masing.

"Sebagai langkah antisipasi dan untuk pencegahan kepada warga terkait tetap disampaikan untuk melakukan isolasi sendiri dan menjaga diri," Merdisyam menandaskan.

Video jenazah Pasien dalam Pengawasan (PDP) Corona Covid-19 asal Kabupaten Kolaka viral di media sosial. Sebelumnya, perempuan berusia 32 tahun itu, meninggal di RS Bahteramas Sulawesi Tenggara, Senin (23/3).

1 dari 2 halaman

Rumah Sakit Minta Keluarga buat Surat Pernyataan

Dalam video yang beredar, tangis histeris menyambut jenazah wanita yang belakangan diketahui bernama Rahma itu ketika sampai di rumah duka. Jenazah PDP itu dibawa dari RS Bahteramas menuju Kabupaten Kolaka dengan menggunakan mobil pribadi milik anggota keluarganya

Sebelum jenazah dipulangkan, perawat dan dokter rumah sakit telah melaksanakan tindakan antisipasi dengan memutus potensi virus menyebar. Dokter melilit jenazah yang memiliki riwayat perjalanan umrah itu, dengan plastik bening sebelum dibawa oleh pihak keluarga.

Direktur RS Bahteramas Kendari, dr Sjarif Subijakto menyatakan bahwa pasien tersebut sudah berusaha ditangani sesuai SOP. Namun, keluarga menolak diberikan peti dan diantar oleh mobil ambulans saat jenazah dibawa pulang ke rumah.

"Yaa terpaksa kami buat surat pernyataan, kalau ada apa-apa nantinya, keluarga yang menanggung akibatnya karena rumah sakit sudah memaksa," kata Sjarif.

Tidak sampai di situ, dalam video lainnya, ternyata lilitan plastik dan lakban pada jenazah dilepas pihak keluarga sebelum dimakamkan. Beberapa kerabatnya, terlihat mencium dan memeluk korban di atas pembaringan.

Dokter forensik Sulawesi Tenggara, dr Mauluddin menyatakan, apa yang dilakukan pihak rumah sakit sudah sesuai prosedur. Yang berbahaya adalah, ketika jenazah dilepas lilitan lakbannya dan tidak langsung dimakamkan.

"Mudah-mudahan bukan positif virus Corona. Namun, perlu diketahui lakban plastik itu berfungsi memutus potensi rantai penularan virus terhadap orang lain di sekeliling," ujar dr Mauluddin kepada Liputan6.com, Selasa (24/3).

2 dari 2 halaman

Jenazah Masuk Suspect Covid-19

Menurut Kepala Satuan Gugus Tugas Penanganan Virus Corona Covid-19 Sulawesi Tenggara, La Ode Rabiul Awal dia tidak mau menduga-duga soal kondisi pasien. Saat dinyatakan meninggal dunia, dia masuk suspect corona.

Setelah menjalani isolasi selama 3 hari di RSUD Bahteramas sejak 21 Maret 2020, dia tidak tertolong dan dinyatakan meninggal. Dia menyatakan, pihaknya menunggu hasil uji lab swab yang dikirim ke Laboratorium Litbangkes Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Selain pasien, pihak rumah sakit juga mengambil sampel swab suaminya. Alasannya, suaminya melakukan kontak dengan pasien selama 3 hari berada di rumah sakit.

"Hari Selasa (24/3), dikirim ke Litbangkes, hasilnya tiga sampai lima hari kedepan," ujar dr La Ode Rabiul Awal, Rabu (25/3).

Dia menyayangkan, sikap keluarga yang membuka lilitan lakban pasien. Sebab, orang-orang yang menyentuh pasien, otomatis berstatus sebagai ODP.

"Jika hasil keluar dan dinyatakan positif, maka orang-orang yang pernah bersentuhan dengan jenazah disarankan mengisolasi diri," ujar La Ode Rabiul Awal.

Berdasarkan data yang diterima Liputan6.com, hingga Rabu (25/3), sudah ada 2.049 orang di Sulawesi Tenggara berstatus ODP Corona Covid-19. Pasien yang selesai dipantau, 48 orang. Sedangkan PDP berjumlah 15 orang dan meninggal 1 orang. Yang dinyatakan sehat kemudian pulang ke rumah, 4 orang.

Reporter: Nanda Perdana
Sumber : Liputan6.com (mdk/rhm)

Baca juga:
Apple Sumbang 10 Juta Masker Untuk Lawan Pandemi Covid-19
Permintaan Naik, Produksi Industri Deterjen dan Alat Kesehatan Terus Digenjot
Cegah Penyebaran Virus Corona, Pelabuhan Papua Ditutup Sementara
Investor Aset Kripto Raup Untung 10 Persen saat Pandemi Virus Corona
Corona Merebak, Bandara Kualanamu Diperketat dengan 5 Antisipasi Ini

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami