Polisi Pukul Warga Mau Nyoblos di Nabire Berakhir Damai, Kapolres Minta Maaf

Polisi Pukul Warga Mau Nyoblos di Nabire Berakhir Damai, Kapolres Minta Maaf
Perdamaian antara polisi dengan warga yang dipukul di Nabire. ©istimewa
NEWS | 28 Juli 2021 22:39 Reporter : Nur Habibie

Merdeka.com - Kejadian pemukulan terhadap warga saat kegiatan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Nabire, Papua, pada Rabu (28/7) berakhir damai. Kapolres Nabire AKBP Kariawan Barus telah menyampaikan permohonan maaf.

Dalam video yang beredar, korban terlihat mengalami tindakan pemukulan oleh polisi saat diamankan ke mobil truk milik polisi.

"Lagi dipanggil pihak-pihak oleh Kapolres, tunggu ya," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal saat dihubungi, Rabu (28/7).

Dihubungi terpisah, Kapolres Kariawan Barus menyebut, korban Nicolas Mote (29) mengaku tidak mengalami luka ataupun benturan seperti yang nampak dalam video.

"Mari kira luruskan berita-berita yang ada supaya kita mendapatkan sumber yang benar dan saya ucapkan kepada semua penyelenggara PSU Nabire kita selenggarakan secara aman dan damai. Mari kita jaga tahapan pleno di tingkat TPS, pleno di tingkat Distrik dan terakhir pleno di tingkat Kabupaten," kata Barus.

Atas insiden itu, Kapolres menyampaikan permintaan maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh anggotanya tersebut. Ia pun mengaku akan melakukan koreksi atas kejadian itu.

Barus mengungkapkan, sudah dilakukan mediasi antara anggotanya dengan Nicolas Mote di Mapolres Nabire. Perdamaian itu pun juga disaksikan sejumlah warga yang berada di Nabire.

"Kami tetap koreksi diri namun dari kami tetap koreksi diri bahwa ada perilaku tidak menyenangkan maupun aturan yang sebenarnya dilakukan anggota saya. Saya minta maaf," ujarnya.

Sementara itu, Nicolas Mote mengungkapkan peristiwa itu bermula saat dia bersuara keras kepada pihak penyelenggara PSU yang mempertanyakan keabsahannya dalam mencoblos. Karena teriakan itulah, membuat aparat mendekatinya

"Saya punya DPT yang dikeluarkan oleh KPU saya sudah siap mau bawa ke TPS untuk coblos dengan gunakan masker lengkap. Setelah saya coblos di TPS, di belakang itu mereka menilai saya kenapa bisa bawa undangan saja," ujar Mote.

"Saya menanyakan ke penyelenggara apakah aturan dijamin atau tidak begitu, karena suara keras akhirnya mobil pasukan tiba lalu di belakang penyelenggara itu mereka sebut ini (saya red) warga baru. Padahal saya sudah punya DPT dan tempat tinggal di situ," sambungnya.

Setelah memprotes pihak penyelenggara, ia pun langsung dibawa ke mobil oleh dua orang polisi. Namun, saat itu ia mengaku sempat berhenti sejenak karena ingin memberi handphone miliknya kepada istrinya.

Akan tetapi, dirinya ketika itu langsung didorong oleh petugas untuk menuju sebuah mobil atau truk. Saat akan masuk ke dalam truk itulah, ia terlihat sempat mendapatkan pukulan beberapa kali oleh salah seorang anggota polisi.

"Akhirnya mereka tahan saya dimasukkan di mobil. Ini kronologinya. Saya yang bicara masalahnya tidak apa-apa, saya akan naik jadi sekarang headphone saya kembalikan ke istri saya, jadi sudah waktu itu saya mau kasih namun keadaan dorong jadi tidak jadi. Begitu di atas mobil juga di dorong keadaan itu dari keamanan tanya juga, kenapa ribut-ribut," tuturnya. (mdk/bal)

Baca juga:
Kasau Janji Transparan soal Penanganan Dua Anggota Injak Kepala Warga di Merauke
Pria di Medan Ditangkap Polisi Usai Aniaya Driver Ojol, Alasannya Sepele
Kasau Ganti Danlanud dan Dansatpom Lanud JA Dimara Buntut Kasus Kekerasan di Merauke
Ingatkan Jaga Stabilitas di Papua, Ketua DPR Minta Aparat Jangan Pakai Kekerasan
Kesal Diomeli, Pria di OKU Siram Wajah Istri Pakai Air Mendidih Saat Tidur
Prajurit TNI AU Injak Kepala Warga Merauke, Mahfud Ingatkan Aparat Bertindak Humanis

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami