Polisi Tetapkan Veronica Koman Tersangka Provokasi di Asrama Mahasiswa Papua

PERISTIWA | 4 September 2019 13:35 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Polisi kembali menetapkan satu orang tersangka terkait dengan insiden pengepungan Asrama Mahasiswa Papua, di Surabaya. Dari kasus ini, total sudah ada 3 orang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.

Penetapan satu tersangka baru ini diungkapkan oleh Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan. Kapolda menyatakan, tersangka diketahui berinisial VK atau dalam media sosial twitter berakun Veronica Koman.

"Dari hasil gelar semalam, ada seseorang yang kami sebut VK sudah kami kirim dua kali surat panggilan, yang bersangkutan tidak hadir," ujarnya, Rabu (4/9).

Tersangka VK ini dianggap berperan sebagai penyebar berita bohong atau hoaks serta provokasi terkait dengan Papua. Hal itu dilakukannya melalui media sosial twitter dengan akun @VeronicaKoman.

"Pada saat kejadian kemarin, yang bersangkutan tidak ada di tempat, namun di twitter sangat aktif, memberitakan, mengajak, memprovokasi, dimana dia mengatakan ada seruan mobilisasi aksi monyet turun ke jalan untuk besok di Jayapura. Ini pada tanggal 18 Agustus," ungkapnya.

Luki juga menyebutkan, ada juga tulisan momen polisi mulai tembak ke dalam asrama Papua, total 23 tembakan termasuk gas air mata. Anak-anak tidak makan selama 24 jam, haus dan terkurung, disuruh keluar ke lautan massa. "Semua kalimat diinikan ke dalam bahasa Inggris," tegasnya.

Karena dianggap sangat aktif melakukan provokasi, Veronica pun dijerat dengan pasal berlapis oleh polisi. Di antaranya, UU ITE, KUHP pasal 160, UU no 1 tahun 1946 dan UU no 40 tahun 2008. "Jadi kita ada empat undang-undang yang kita lapis," katanya.

Dikonfirmasi mengenai status kewarganegaraan Veronica, Kapolda menyebut jika tersangka masih memiliki KTP Indonesia. Luki kembali menjelaskan, jika Veronica terlibat aktif di media sosial.

Sebelumnya, Polda Jatim resmi menetapkan Koordinator aksi pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya, Tri Susanti alias Mak Susi, sebagai tersangka ujaran kebencian dan provokasi insiden tersebut.

Susi dijerat pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 160 KUHP, pasal 14 ayat (1) ayat (2) dan pasal 15 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

Selain Susi, Polda Jatim juga telah menetapkan tersangka lain berinisial SA dalam kasus ini, ia diduga melakukan tindak diskriminasi ras. Artinya hingga kini sudah ada tiga tersangka dalam insiden Asrama Mahasiswa Papua, sejak 16 Agustus lalu.

Baca juga:
Papua Nugini Ingin PBB Campur Tangan di Papua Barat
Menkominfo: Ada IP Address Penyebar Hoaks Lewat Twitter Salah Satunya di Eropa
Kemendagri: Ruang Sudah Dibuka Lebar Untuk Papua
Menkominfo Ralat Waktu Pembukaan Blokir Internet di Papua
Istana Instruksikan Tindak Tegas WNA Terlibat Demo Papua Merdeka

(mdk/ray)