Polri Telusuri Asal Perintah Tembak Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan

Polri Telusuri Asal Perintah Tembak Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan
Suasana kericuhan di laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. ©2022 REUTERS TV
NEWS | 3 Oktober 2022 15:59 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Polri sedang mendalami pihak yang memberi perintah melepaskan gas air mata saat terjadi kerusuhan di di Stadion Kanjuruhan, Malang usai laga Arema vs Persebaya. Peristiwa itu menyebabkan ratusan suporter tewas.

"Ya (siapa pihaknya). Saya ulangi lagi ya. Saat ini sedang dimintai keterangan atau didalami di level manajerial pengamanan di lapangan. Itu dulu," ucap Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo, kepada wartawan, di Malang, Jawa Timur, Senin (3/10).

Dedi meminta semua pihak memberikan kesempatan pada kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini. Bareskrim Polri akan menuntaskan pemeriksaan dengan asas kehati-hatian, ketelitian dan kecermatan.

2 dari 4 halaman

Kepolisian juga akan mencermati terkait aturan FIFA soal penggunaan gas air mata saat penanganan massa tidak diperbolehkan. Hal itu diatur dalam pengamanan dan keamanan stadion (FIFA Stadium Safety and Security Regulations).

Dijelaskan dalam Pasal 19 b soal pengamanan di pinggir lapangan adalah: Tidak boleh ada senjata api atau "gas pengendali massa" yang boleh dibawa atau digunakan (No firearms or 'crowd control gas' shall be carried or used).

"Semua standar operasional prosedur. Demikian juga statuta dan regulasi yang ada bagian daripada materi yang diaudit oleh tim," ujar Dedi.

3 dari 4 halaman

Inspektorat Khusus (Itsus) dan Div Propam Polri juga sedang memeriksa 18 anggota polisi yang bertugas saat tragedi berdarah kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10) kemarin malam.

"Memeriksa anggota yang terlibat langsung dalam pengamanan sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 18 orang," kata Dedi.

Adapun anggota yang diperiksa adalah personel yang saat kerusuhan diduga memegang senjata gas air mata. Di mana hal itu menjadi salah satu faktor buntut tewasnya 125 orang dalam tragedi tersebut.

Mereka juga diduga yang menggunakan senjata pelontar gas air mata untuk dimaksud awalnya mengurai kerusuhan yang terjadi oleh para suporter kala itu.

"Anggota yang bertanggung jawab atau sebagai operator memegang senjata pelontar. Ini sedang dimintai keterangan dan sedang didalami oleh Itsus dan Propam," kata Dedi.

4 dari 4 halaman

Selain itu, Dedi juga menyampaikan bahwa Itsus dan Propam turut mendalami masalah manajemen pengaman. Dengan memeriksa para perwira yang bertanggung jawab dalam pengamanan laga pertandingan itu.

"Kemudian juga saat ini mendalami masalah manajer pengamanan, dari mulai perwira hingga pamen sedang didalami," ujar dia.

Polri memastikan update total korban meninggal tragedi berdarah kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur telah mencapai 125 orang, sejak Minggu (2/10) kemarin malam.

Polri juga mendata ada sebanyak 21 orang mengalami luka berat dan 304 orang luka ringan. Sehingga sejauh ini total korban telah mencapai 455 orang. (mdk/lia)

Baca juga:
Foto-Foto Aremania Berduka Mengenang Tragedi Maut di Stadion Kanjuruhan
Tangis Pemain Arema FC Pecah saat Tabur Bunga untuk Korban Tragedi Kanjuruhan
Komisi III Apresiasi Kehadiran Kapolri ke Malang Usut Tragedi Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan, Menteri PPPA Pastikan Korban Perempuan dan Anak Ditangani Baik
Polri Dalami Penggunaan Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan Sesuai SOP atau Tidak
Potret Sisa-Sisa Tragedi Maut di Stadion Kanjuruhan

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini