Positif Covid-19, Anak Satpam Usia 12 Tahun di Bali Meninggal

Positif Covid-19, Anak Satpam Usia 12 Tahun di Bali Meninggal
PERISTIWA | 2 Juni 2020 11:31 Reporter : Moh. Kadafi

Merdeka.com - Seorang bocah berusia 12 tahun berinisial GALP asal Desa Seronggah, Kabupaten Gianyar, Bali, dinyatakan positif Covid-19 dan meninggal dunia pada Sabtu (30/5) malam.

Namun, ia baru diketahui positif Covid-19 sehari setelah dikuburkan saat hasil tes swab-nya keluar.

Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Gianyar, Made Gede Wisnu Wijaya menyampaikan, anak ini merupakan anak dari seorang Bapak yang berprofesi satpam dan mempunyai adik yang masih balita.

Ia menerangkan, untuk perjalanan riwayat sampai dinyatakan positif Covid-19, dimulai pada tanggal 24 Mei 2020, bahwa anak itu sempat dirawat di rumahnya dua hari sebelum, dan akhirnya dirawat di Rumah Sakit Ganesha, Gianyar, pada tanggal 28 Mei 2020.

"Dengan gejala, demam, mual, muntah, malgia dan nyeri menelan dengan diagnosa suspek DHF," kata Wijaya saat dihubungi, Selasa (2/6).

Kemudian, pada Senin (1/6) pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar menerima laporan hasil swab dari RSUP Sanglah hasilnya positif Covid-19. Selanjutnya, tim surveillance Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar melakukan koordinasi dengan pihak Rumash Sakit Ganesha dan Puskesmas Sukawati 2 terkait histori perjalanan penyakit pasien.

Selanjutnya dilakukan investigasi ke Rumah Sakit Ganesha dan ke rumah tempat tinggal pasien di Jalan Dewi Sri, Gang Anggur Batubulan, Gianyar. Namun, saat itu kondisi rumah sepi dan informasi dari tetangga pihak keluarga berada di kampungnya di Serongga Kelod.

"Menerima laporan itu, tim melanjutkan investigasi ke Serongga Kelod dan menuju Rumah Duka untuk memberikan penjelasan dan sekaligus melakukan kontak tracing," ujar Wijaya.

1 dari 1 halaman

Kemudian, pada pada tanggal 30 Mei 2020, dilakukan rapid tes dan hasilnya reaktif. Karena terjadi penurunan kesadaran dan memerlukan perawatan Picu dengan diagnosa sup ensefaliti, pasien dirujuk ke RSUP Sanglah Denpasar.

Selanjutnya, dari pihak RSUP Sanglah dilakukan swab karena hasil rapid tesnya reaktif. Kemudian, pada Sabtu (30/5), pasien dinyatakan meninggal dunia dan selanjutnya di bawa ke Desa Serongga Kelod tempat asal pasien dan tidak langsung dimakamkan melainkan disemayamkan sementara di rumah duka (Balai Dangin).

"Hal ini, karena saat jenazah dipulangkan hasil swab belum keluar. Selanjutnya pada tanggal 31 Mei 2020, jenazah dibawa ke Setra (Kuburan) untuk disemayamkan sesuai prosesi agama Hindu hanya saja tanpa prosesi nyiramin (mandikan jenazah). Karena, pihak keluarga curiga dengan kematian yang begitu cepat," ujar Wijaya.

"Sehingga, pihak keluarga berinisiatif tidak melibatkan banyak orang dan menjalankan protokol kesehatan penanganan Covid-19," imbuhnya Wijaya.

Kemudian, pada Selasa (2/6) dilaksanakan swab bagi keluarga yang kontak erat sebanyak 4 orang yaitu kedua orang tua, adik dan tante yang merawat dan menjaga pasien itu.

"Untuk anggota keluarga dan kerabat yang terlibat dalam prosesi pemakam masih dilakukan pendataan untuk dilakukan rapid test," ujar Wijaya. (mdk/rnd)

Baca juga:
Diselidiki Polda, Lima Daerah di Sumut Ini Diduga Selewengkan Dana Bansos
Solo Bakal Cabut KLB, Tempat Ibadah di Solo Tak Perlu Izin
Jelang PSBB Jakarta Berakhir, Muncul Wacana Pembatasan Lokal
Meski Ada Ramadan, Inflasi Mei 2020 Hanya 0,07 Persen
CEK FAKTA: Benarkah Daun Sungkai Ampuh Mengobati Pasien Positif Covid-19?

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Pariwisata Banyuwangi Bersiap Menyambut New Normal

5