Potret Kemiskinan, Penambang Pasir & Istri Gangguan Jiwa Huni Gubuk Nyaris Ambruk

PERISTIWA | 20 Juni 2019 05:03 Reporter : Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Kemiskinan masih menjadi masalah di negeri ini. Di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), satu keluarga terpaksa menempati gubuk darurat yang hampir ambruk.

Gubuk reyot itu berada di Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar. Sejak enam tahun terakhir Ponimin tinggal di sana bersama ibunya yang tunanetra, istrinya yang mengalami gangguan jiwa, beserta dua anaknya yang masih bersekolah.

Sebelumnya keluarga ini tinggal berpindah-pindah, sampai ada warga yang merelakan tanahnya didiami sementara oleh keluarga prasejahtera itu.

Ponimin menjadi tumpuan hidup keluarganya. Dia sehari-hari bekerja sebagai penambang pasir di sungai. Sebagai tambahan, dia juga mengumpulkan barang bekas untuk dijual kembali.

Gubuk yang ditempati keluarga ini hanya berukuran sekitar 2 x 3 meter berlantai tanah.

Papan yang menjadi dinding gubuk itu sudah lapuk dan miring. Atap sengnya rusak parah sehingga harus ditutup dengan terpal biru.

Tidak ada listrik di gubuk itu. Untuk penerangan, mereka menggunakan lampu teplok.

Keluarga ini berharap dapat bantuan dari pemerintah. "Semoga ada yang bantu kita supaya ada rumah yang layak pakai gitu, supaya kita bisa tenang gitu hidup, kitakan masing ngurusi anak sekolah lagi," harap Ponimin.

Warga dan kepala dusun setempat sudah berupaya mencarikan jalan keluar bagi keluarga ini. Ada tiga lokasi yang diusulkan untuk tempat tinggal permanen untuk mereka. Salah satunya tanah wakaf masyarakat. Namun, hal itu masih dimusyawarahkan.

©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

"Kita sebagai warga Nagori Karang Bangun Dusun IV memang sangat prihatinlah kepada Ponimin alias Poleng, memang mereka tinggal di rumah yang memprihatinkan. Di samping orangnya tidak mampu, istri cacat, mamaknya dalam keadaan tidak bisa melihat, buta ya kan," kata Ngatimin, Kepala Dusun IV Nagori Karang Bangun.

Ngarimin berharap ada perhatian pemerintah untuk warganya ini.

"Kami sebagai masyarakat ingin berusaha bagaimana mereka bisa tinggal di tempat yang agak layak sedikit di Nagori Karang Bangun ini," tutup Ngatimin.

©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah (mdk/rhm)

Baca juga:
Menengok Permukiman Kumuh Terbesar di Venezuela
Di Upacara Harlah Pancasila, Jokowi Sebut Kemiskinan Masih jadi Masalah Serius
'Salam Tempel' Untuk Ribuan Kaum Duafa dari PT Gudang Garam
Kementerian ART Sebut Separuh Wilayah Jakarta Masih Kumuh
Tidak Punya Biaya, Ibu Muda Ini Terpaksa Melahirkan di Lapangan
Pasar Murah Ramadan untuk Warga di Zona Merah Kemiskinan Purbalingga


Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.