Potret Miris Rumah Penuh Sejarah Douwes Dekker di Lebak

Potret Miris Rumah Penuh Sejarah Douwes Dekker di Lebak
rumah douwes dekket di lebak. ©2021 Merdeka.com/antara
NEWS | 29 November 2021 05:03 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Temboknya sudah ditumbuhi lumut. Pintu dan ventilasi hancur. Lantainya pun telah ditumbuhi rumput liar yang tinggi. Dinding berlubang. Catnya sudah mengelupas. Bahkan bangunannya sudah tidak berdiri sempurna lagi.

Ratusan tahun lalu, rumah itu merupakan tempat tinggal Eduard Douwes Dekker. Dia adalah Asisten Residen masa Kolonial Belanda yang bertugas di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kini kondisi rumahnya sudah memprihatinkan.

Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Latansa Mashiro Rangkasbitung Mochamad Husen menyoroti cagar budaya Multatuli yang telantar tersebut.

"Kami sangat prihatin melihat kondisi bangunan Multatuli yang menjadi bagian sejarah dunia itu," kata Husen dikutip dari Antara, Minggu (28/11).

Bangunan Multatuli itu yang lokasinya berada di lingkungan RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, kata dia, tidak diketahui secara jelas siapa yang bertanggung jawab untuk merawat dan memeliharanya.

"Apakah bangunan bersejarah itu merupakan kewenangan pemerintah daerah atau Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Banten," katanya.

Baca juga:
Sisi Lain Kusbini, Pencipta Lagu Bagimu Negeri yang Dijuluki Buaya Keroncong
Baku Bunuh Usai Madiun Rusuh
Di Balik Puisi Karawang-Bekasi
Orang Bukittingi dan Tas Sukarno
Kisah Tentara Gurkha yang Ditawan Pejuang Indonesia
Gurkha Rifles Hancur di Dawuan
Sosok Wolff Schoemaker, Guru Belanda Soekarno yang Ingin Indonesia Jadi Negara Islam

2 dari 3 halaman

Terlantar Sejak Dulu

Sebab, kata dia, sejak dulu hingga sekarang kondisi gedung Multatuli itu telantar dan terbengkalai. Bahkan, kondisi bangunan banyak yang sudah hilang bagian jendela, pintu, kaca dan genting.

"Kami berharap gedung Multatuli itu kembali dibangun dan dirawat serta dipelihara, karena merupakan kekayaan budaya bangsa," katanya .

Menurut dia, perjuangan Eduard Douwes Dekker patut diapresiasi karena mereka memberikan semangat dan motivasi kepada rakyat Indonesia untuk berjuang melawan terhadap penjajahan kolonial Belanda. Di mana hati nurani Multatuli bertolak belakang dengan pemerintah kolonial Belanda yang memeras dan mencekik rakyat di Lebak.

Oleh karena itu, Asisten Residen Belanda yang bertugas di Lebak mengangkat karya Novel ‘Max Havelaar’, yang karyanya mendunia karena keburukan dan kezaliman pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenangnya terhadap warga pribumi.

"Kami berharap bangunan penulis Max Havelaar itu dilestarikan dan bisa menjadi destinasi wisata sejarah," kata mantan anggota DPRD Lebak itu.

3 dari 3 halaman

Sejarah Rumah

Dia mengatakan, rumah Multatuli itu ditempati tahun 1856 dan sempat menjadi markas tentara pada 1850.

Bahkan, bangunan itu beberapa kali mengalami alih fungsi menjadi rumah sakit pada 1987, apotek tahun 2000, hingga gudang pembangunan Rumah Sakit Dr Adjidarmo pada 2007.

Namun, saat ini, kata Mochamad Husen, lokasi bersejarah itu hanya menjadi kawasan parkir pegawai rumah sakit setempat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lebak Imam Rismahayadin mengatakan untuk pembangunan gedung Multatuli yang menjadi cagar budaya di Rangkasbitung, Lebak belum memiliki anggaran akibat pandemi Covid-19 itu.

"Seharusnya renovasi bangunan Multatuli direalisasikan 2020. Namun, virus corona yang mewabah sehingga difokuskan untuk penanganan Covid-19, " katanya.

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami