Pria di Luwu Timur Mengamuk sambil Bacok Anggota TNI dan Polisi

Pria di Luwu Timur Mengamuk sambil Bacok Anggota TNI dan Polisi
Ilustrasi kriminal. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman
NEWS | 6 Oktober 2020 14:12 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Riska terpaksa ditembak usai mengamuk membabi buta dan membacok seorang anggota TNI dan polisi di Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Senin (5/10). Pria berusia 34 tahun itu pun meregang nyawa hingga tewas usai ditembak polisi.

"Pelaku terpaksa kita lumpuhkan dengan tembakan karena mengancam nyawa orang yang berada di sekitarnya. Dia sempat dilarikan ke RS I Lagaligo, namun nyawa pelaku tidak tertolong," kata Kapolres Luwu Timur AKBP Indratmoko. Dikutip dari Liputan6.com.

Indratmoko menceritakan kejadian itu bermula ketika adik kandung Riska, Askar meminta aparat desa, Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk membantu mengamankan Riska yang mengamuk sambil membawa sebilah parang panjang di rumah.

"Saat Babinsa Desa Tarengge Timur, Sertu Ismail, datang ke TKP bersama beberapa aparat desa, pelaku tiba-tiba memarangi Sertu Ismail di bagian leher kiri. Setelah itu pelaku melarikan diri dengan sepeda motor," ucapnya.

Polisi lalu mencari keberadaan Riska. Hingga akhirnya beberapa jam kemudian polisi berhasil mengetahui keberadaan Riska yang bersembunyi di sekitar pekuburan yang berada di Dusun Muktisari, Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur.

"Unit Reskrim Polsek Wotu dan beberapa aparat lainnya langsung memburu pelaku yang bersembunyi di sana," lanjut Indratmoko.

Saat polisi dan sejumlah warga berusaha menangkap Riska yang masih mengamuk sambil menenteng parang, Riska kembali menyerang membabi buta dengan senjata tajamnya itu. Akibatnya Kanit Provos Polsek Wotu, Bripka Satriadi menjadi korban.

"Bripka Satriadi terjatuh hingga terkena parang di kaki kanan dan tangan kanan," jelas mantan Kasat Reskrim Polrestabes Makassar ini.

Alhasil aparat kepolisian pun terpaksa melumpuhkan Riska dengan tembakan hingga tak lagi bisa memberikan perlawanan. Riska sempat dilarikan ke Rumah Sakit I Lagaligo, namun nyawanya tidak tertolong.

"Dia dinyatakan meninggal dunia usai mendapat perawatan di Rumah Sakit," ucap Indratmoko.

Sementara itu korban kondisi Sertu Ismail dan Bripka Satriadi masih menjalani perawatan di RS I Lagaligo. Indratmoko menyebutkan bahwa kondisi keduanya semakin membaik usai mendapat perawatan intensif.

"Kedua korban Sertu Ismail Kareng dan Bripka Satriadi sedang dilakukan perawatan intensif oleh pihak RSUD lagaligo Wotu dan kedua korban dalam keadaan sadarkan diri," ucapnya.

Indratmoko menyebutkan, akibat kejadian tersebut, Sertu Ismail mendapatkan sejumlah luka yang cukup serius. Di antaranya adalah luka terbuka pada bagian leher belakang sebelah kiri.

"Luka yang berada di bawah telinga Babinsa Itu panjangnya 12 sentimeter dengan kedalaman mencapai 5 sentimeter," sebutnya.

Sementara Bripka Satriadi juga mendapatkan luka yang cukup serius. Ia mengalami luka terbuka pada pergelangan tangan sebelah kanan dan kaki kanan.

"Selain luka robek di kaki kanannya, tulang kakinya juga patah," dia memungkasi. (mdk/cob)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami