Puluhan Makam di Garut Dipindah Akibat Pergerakan Tanah

PERISTIWA | 30 Oktober 2019 13:53 Reporter : Mochammad Iqbal

Merdeka.com - Tanah pemakaman keluarga sejak seminggu terakhir mengalami pergerakan tanah. Pergerakan tanah ini menyebabkan retakan yang cukup lebar dan panjang.

Akibat kejadian ini, puluhan makam yang berada di Kampung Sukasari, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang terpaksa dipindahkan masyarakat ke tempat yang lebih aman.

Ketua RW 04, Desa Mekarsari, Abdurrohim mengatakan warga sudah memindahkan 19 dari 24 makam yang ada di Kampung Sukasari sejak Selasa (29/10). "Kita membongkar makam dan memindahkan jenazah yang sudah menjadi tulang ke tempat pemakaman yang baru," kata Abdurrohim saat dikonfirmasi, Rabu (30/10).

Dia mengungkapkan, tiga hari lalu lebar retakan hanya 10 centimeter. Namun hari ini sudah mencapai 30 centimeter.

"Panjang retakannya mencapai lebih dari 100 meter. Kalau dari rumah di sekitar tanah yang retak jaraknya 20 meter, tapi di bawah ada sekitar 6 rumah yang terancam kalau ini tanah jadi longsor," katanya.

©2019 Merdeka.com/Mochammad Iqbal

Di atas dan bawah lokasi tanah retak itu terdapat perkampungan kecil dan sungai dengan lebar lebih dari 3 meter. Abdurrohim menyebut warga yang berada di bawah tebing mengosongkan rumahnya saat malam karena khawatir terjadi longsor.

"Saat hujan juga mereka yang ada di bawah pasti harus mengungsi karena khawatir longsor tiba-tiba," ucapnya.

Dia menuturkan, kawasan tersebut kerap terjadi longsor. Bahkan, tanah di kawasan Sukasari terjadi longsor beberapa waktu lalu.

Retakan tanah terjadi sejak 2018

Rizal (26) warga Kampung Sukasari mengatakan retakan tanah itu sudah terlihat sejak 2018. Namun saat itu, lebar dan panjang retakan tanah sebesar sekarang. Dulu lebarnya hanya 1 hingga 2 centimeter saja.

"Kalau sekarang bukan hanya retak sebetulnya, ada yang sampai ambles sekitar 10 centimeter. Kalau yang retak itu lebarnya sampai 30 centimeter. Tadi dicoba dimasukan kayu, kedalamannya sampai 5 meter," ungkapnya.

Retakan tanah di kampungnya, kata Rizal, terjadi sejak pohon-pohon dengan ukuran besar ditebangi oleh pemiliknya dan menyisakan pohon bambu di sekitar tebing.

"Dulu kalau sebelum pohon-pohon besar ditebang tidak pernah ada reta?an tanah. Mungkin karena ada yang mengikat tanah jadi aman. Sekarang tinggal ada pohon bambu, kalau angin besar kan bergoyang jadinya malah bisa saja membuat retakan tanah kian membesar," jelasnya.

Delapan KK terpaksa mengungsi

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan menambahkan, pihaknya sudah pengecekan lokasi pergerakan tanah di Kampung Sukasari, Desa Mekarsari, Cikajang.

"Hasil pengecekan kami memang ada sekitar enam rumah yang berisi delapan KK (kepala keluarga) yang terancam. Yang dikhawatirkan adalah adanya pergerakan tanah susulan," katanya.

©2019 Merdeka.com/Mochammad Iqbal

Pihaknya sudah memberikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Menurutnya, warga mesti waspada jika turun hujan.

"Bisa saja kemudian ada pergerakan tanah susulan dan menjadi longsor. Jadinya kita mengimbau saat hujan agar langsung mengosongkan rumahnya untuk mewaspadai. Termasuk juga jika dalam situasi tertentu " imbuh Sofyan. (mdk/ray)

Baca juga:
Longsor di Deli Serdang, Perkuburan Amblas
Tebing 20 Meter di Bogor Longsor Akibat Diguyur Hujan, Akses 2 Desa Terputus
Hujan Deras di Bogor, 7 Rumah Tertimpa Longsor dan Pohon Tumbang
Pasangan Pengantin Baru di Cianjur Tewas Tertimbun Longsor
Tebing Batu Longsor Menimpa Truk, Satu Sopir Terjepit di Dalam Kabin
2 Penambang Batu di Pagaralam Tewas Tertimbun Longsor

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.