Punya Fasilitas Memadai, Pulau Sebaru Layak jadi Lokasi Observasi Pasien Virus Corona

Punya Fasilitas Memadai, Pulau Sebaru Layak jadi Lokasi Observasi Pasien Virus Corona
PERISTIWA | 29 Februari 2020 14:53 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Moh Adib Khumaidi memberikan tanggapan atas dipilihnya Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Diketahui 68 Warga Negara Indonesia (WNI) kru kapal pesiar Diamond Princess akan diobservasi terlebih dahulu di Pulau Sebaru Kecil, sebelum dikembalikan ke rumah masing-masing.

Menurut Adib, sejauh yang dia ketahui, Pulau Sebaru Kecil memang bukan merupakan bagian dari kawasan pariwisata di Kepulauan Seribu. "Sebaru itu setahu saya bukan pariwisata. Dia tempat untuk rehabilitasi narkoba," kata dia, ditemui di Hotel Santika Hayam Wuruk, Jakarta, Sabtu (29/2).

Pada prinsipnya, proses karantina harus dilakukan jauh dari permukiman warga. Karena itu, lokasi karantina tidak mesti di pulau tersendiri. "Tidak selalu harus di pulau sebenarnya. Tapi dia ada harus ada jarak tertentu dengan penduduk," ungkap dia.

Sebagai tempat rehabilitasi narkoba, Pulau Sebaru Kecil tentu memiliki fasilitas kesehatan. Hal ini penting dalam proses observasi selama masa karantina.

"Di situ juga ada fasilitas kesehatan. Tidak mungkin ada satu kelompok orang kemudian ditaruh di situ, tapi tidak fasilitasnya ya kalau ada apa-apa nanti kita tidak ada penanganan juga," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Butuh Waktu 14 Hari

Dia menjelaskan, proses karantina memang butuh satu jangka waktu. Jika menilik standar WHO, proses observasi berlangsung selama 14 hari.

"Karena kita ingin melewati masa inkubasinya dulu. Kita tidak tahu, yang kemarin kontak di kapal pesiar itu, dia kontak di hari pertama atau hari ke berapa, kan tidak ada yang tahu sehingga semua diperlakukan sama maka dia harus selama 14 hari," urai Adib.

Dia pun mengusulkan agar pemeriksaan terhadap para WNI kru kapal Diamond Princess harus dilakukan pada tahap awal kedatangan dan di akhir masa observasi.

"Saran kami cek di awal dan di akhir. Awal itu diperiksa Swap-nya, spesimennya. Diperiksa juga rontgennya, supaya kalau kemudian ada gejala-gejala kita bisa clustering," tandas dia. (mdk/did)

Baca juga:
Industri Makanan dan Minuman Tak Terdampak Virus Corona
Anies Keluarkan Instruksi Gubernur untuk Waspadai Virus Corona
Bak Hotel, Ini Fasilitas Karantina Pasien Corona di Singapura
Penerbangan Umrah ke Arab Saudi Kembali Dibuka 14 Maret 2020
Virus Corona Ganggu Perekonomian Nasional Lewat Dua Jalur Ini
Sudah Sewa Pesawat Garuda, Jokowi Batal ke AS Karena Corona
WHO Tingkatkan Level Tertinggi Risiko Global Virus Corona

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami