Ramai Soal Masjid Berkonsep Iluminati, Ini Penjelasan Ridwan Kamil

PERISTIWA | 10 Juni 2019 15:47 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Masjid Alsafar rancangan Ridwan Kamil disebut oleh Ustaz Baequni penuh dengan lambang iluminati. Sempat menjadi perdebatan di media sosial, akhirnya kedua belah pihak bertemu untuk berdiskusi membahas masalah tersebut.

Pertemuan antara Ridwan Kamil dan Baequni digelar di Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Kota Bandung. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar, Ahmad Syafei hadir menjadi penengah diskusi.

Dugaan simbol iluminati dari masjid yang terletak di Rest Area KM 88 ruas Jalan Tol Purbaleunyi itu diulas oleh Baequni. Video kajiannya pun tersebar luas di media sosial hingga memancing beragam komentar netizen.

Ada beberapa hal yang dia singgung dari bagian masjid Al Safar. Di antaranya, pintu masuk yang didesain segitiga dan tempat imam solat yang dibubuhi ornamen segitiga dengan bulatan seperti mata satu.

Sementara itu, dalam diskusi, Ridwan Kamil menyatakan banyak masjid yang kental dengan konstruksi segitiga, namun tidak dipersoalkan atau tidak dihubungkan dengan iluminati. Seperti Masjid Raya Jakarta atau Masjid Nabawi di Arab.

"Kenapa Al Safar (dipermasalahkan)? Masjid Raya Jakarta masuk mihrabnya segitiga, kenapa tidak heboh? Mungkin karena arsiteknya bukan Ridwan Kamil," katanya.

"Saya hanya ingin menunjukkan, kita harus proporsional. Ibu saya sedih, saya disebut anak dajjal. Kalau mau adil, bahas satu-satu. Mihrab di Majid Nabawi ada segitiganya. Apakah ini konspirasi? Wallahualam. Intinya jangan menghakimi dulu. Pulang dari sini mau paham atau tidak paham, saya tidak masalah," terangnya.

Pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan, semua kegaduhan tentang dugaan iluminati itu tidak terlepas dari adanya perbedaan persepsi. Segitiga menurut pemahamannya sebagai seorang arsitek tentang geometris tidak sama dengan pihak lain.

"Kalau betul segitiga tidak boleh, elips tidak boleh, lingkaran tidak boleh karena lambang mata dajjal, bentuk geometris tidak boleh. Kasihan tukang bacang, tukang terigu. Jangan menyepelekan orang awam menafsirkan," katanya.

Banyak yang menanyakan kepadanya mengapa desainnya tidak berbentuk kubah. Ia memaparkan, desain kubah pun lekat dengan peradaban romawi. Begitupun bintang dan bulan yang ada juga pihak yang mengaitkan dengan lambang pemuja setan.

"Pemuja setan lambangnya bintang lima, juga harus dilarang. Maka semua lambang non muslim harus dilarang. Ribuan orang bilang ke saya (menyarankan) desain kubah. Zaman Romawi juga ada. Gereja di Russia ada kubah, kristen lebih duluan mengambil simbol kubah," ucapnya.

"kita harus bersepakat. Supaya saya tidak bingung. Tidak salah menerjemahkan," tambahnya.

Mengenai desain Masjid Al Safar, Emil menjelaskan konsepnya adalah alam yang tidak beraturan. Pembangunannya menggunakan teori arsitektur origami. Segitiga yang dipermasalahkan pun ia tegaskan berbentuk trapesium yang memiliki empat sudut, secara rumus matematikanya pun berbeda.

Terlebih, selama ini tidak ada aturan baku dalam membuat desain masjid. Apalagi MUI tidak mempermasalahkan proses ibadah di masjid yang dibuatnya.

Sementara itu, Ketua MUI Jabar, Rahmat Syafei perbedaan pandangan, selama tidak menyimpang dalam asas akidah, bisa diselesaikan dengan saling menghargai. Adapun wacana fatwa tentang bentuk masjid, dia sebut tidak perlu dibahas. Kalaupun mau, harus dikaji dengan waktu yang lama.

"Yang berkaitan dengan perbedaan pandangan adalah toleransi," ucapnya.

Inginkan Pertemuan Lanjutan

Usai diskusi, Ustaz Baequni menginginkan ada pertemuan lanjutan. Pasalnya, ada beberapa penjelasan yang tidak sempat dikemukakan karena terbatasnya waktu. Dia tidak mempermasalahkan dengan tafsir yang disampaikan Ridwan Kamil terkait Iluminati. Apalagi, pandangannya disampaikan melalui kacamata seorang arsitek.

"Saya tidak mungkin dengan waktu terbatas mengungkapkan semua. Maka saya secara pribadi terbuka, insya allah. Saya siap dan saya berharap ada lagi forum seperti ini untuk berdialog sampai tuntas," terangnya.

Dengan tegas, ia menyatakan kajiannya dalam video mengenai masjid tidak bertujuan menjatuhkan Ridwan Kamil. Ia hanya ingin semua muslim berhati-hati dengan konsep maupun infasi ideologi yahudi yang sudah diserap di berbagai bidang, termasuk karya arsitektur.

"Tidak sama sekali, Demi Allah. Saya tidak berniat menjatuhkan siapapun apalagi Pak Ridwan Kamil. Tadi saya sampaikan," imbuhnya.

"Ada muncul saya bilang beliau keturunan dajal, itu fitnah. Saya hanya menyampaikan, ada sistem pemerintahan yang sedang dibangun oleh mereka (Yahudi)," pungkasnya.

Baca juga:
11 ASN Jabar Absen Usai Cuti Lebaran
Momen Lebaran Pasangan Raffi Ahmad-Nagita Bertemu Gubernur Jabar
Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Khofifah, Hadiri Pemakaman Ani Yudhoyono
Ridwan Kamil: Ani Yudhoyono Sosok Inspiratif
Pemprov Jabar Hibahkan Aset Berupa Tanah & Kendaraan ke Tiga Kementerian
Ridwan Kamil Beberkan Kendala Pembangunan Proyek Tol Cisumdawu

(mdk/ian)